
Keesokan harinya mereka bertiga pergi berjalan-jalan bersama hingga siang hari. Mereka pun berhenti untuk makan siang di kafe sebuah Mall.
Razi menikmati es krimnya sedangkan Tina duduk untuk beristirahat, Tina terlihat cukup kelelahan menggendong Razi ketika mereka berjalan-jalan, karena itu Cinta menyuruh mereka menunggu di kafe itu sementara dia membeli oleh-oleh untuk ibunya.
Setelah cukup lama menunggu. "Razi kakak mau ke toilet, jadi Razi tunggu kakak di sini, sebentar aja. Jangan kemana-mana, kalau ada orang asing mendekati Razi teriak sekeras-kerasnya biar orang itu takut," jelas Tina.
Razi sedikit menganggukkan kepalanya, "Kakak jangan lama-lama ya," sautnya.
"Iya, kakak tidak akan lama," sambung Tina dan segera beranjak pergi.
Tidak lama kemudian Tina pun kembali, ia terkejut melihat Razi menghilang dari meja mereka makan tadi. "Waduh… Gawat-gawat. Kemana anak itu? Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya sambil menggigit kuku jari jempolnya.
"Oh ya telepon kakak, mungkin Razi bersama kakak."
Tut...Tut…
"Halo."
"Halo Kak, Tina mau nanya. Apa Razi bersama dengan Kakak?" tanyanya.
"Lah… bukanya dia tadi bersamamu," saut Cinta.
"Jadi gini Kak, tadi Tina ke toilet sebentar, pas balik Razi udah gak ada. Gimana dong Kak?" tanyanya sambil ketakutan.
"Ya udah kamu tenang dulu, ini Kakak mau ke sana. Coba cek di sekitar situ, mungkin aja dia bermain di dekat sana."
Tina melihat di sekelilingnya, namun tidak ada satupun anak kecil yang terlihat seumuran dengan Razi.
"Di sekitar sini gak ada anak kecil kak," ungkap Tina.
"Tunggu kakak sebentar lagi sampai ke sana, yang penting kamu tenang dulu ya." Sambil mematikan teleponnya dan mempercepat jalannya.
Tring sebuah pesan masuk ke hp Cinta, pesan itu berisi foto seorang anak kecil yang wajahnya di tutup dengan kain. Pakaian yang di kenakan anak dalam foto itu sama persis seperti yang di pakai Razi.
Setelah pesan itu, masuk sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal. "Anakmu ada padaku. Kalau mau dia selamat, keluar dari mall itu, pergilah ke parkiran dan segera masuk ke sebuah mobil dengan BK 21xx. Jangan pernah menghubungi siapapun jika kau ingin anak ini tetap hidup," ancamnya.
__ADS_1
Cinta mematikan telepon tersebut tanpa berkata apa-apa, ia memasukkan hpnya ke dalam kantung roknya dan diam-diam tangan kirinya mengutak-atik hp tanpa melihatnya, untuk mengirimkan screenshoot foto yang di kirim tadi ke Tina.
Cinta memiliki kebiasaan tanpa melihat layar hpnya pun, dia bisa mengirim pesan dengan mudahnya. Setelah mengirimkan pesan pada Tina dia pun segera keluar dari Mall itu.
Sesampainya di parkiran, Hpnya bergetar berulang-ulang, mulai ada keraguan di dalam hatinya untuk tidak melangkah mendekati mobil itu. Disisi lain, Tina terus mencoba menghubungi Cinta tanpa berhenti.
Keraguan di hati Cinta semakin besar melihat mobil tersebut berada di bagian parkir terdalam, tidak banyak mobil dan orang yang berada di sekitar situ. Jarak Cinta berada cukup jauh dari mobil BK 21xx.
Cinta memutuskan mengangkat telepon dari Tina yang dari tadi bergetar di kantungnya.
"Kak itu bukan Razi!" teriak Tina.
Belum sempat Cinta berbicara, mulutnya sudah dibekap dengan saputangan yang diberikan obat bius, tangannya lemas, kesadarannya pun mulai hilang, hp yang dipegangnya pun langsung terjatuh ke lantai.
Cinta dibawa oleh seseorang yang selama ini mengikutinya. Dengan menggunakan mobil pengangkut minuman yang tadinya tidak berada jauh dari Cinta dan mobil BK 21xx hanya sebagai tipuan. Tidak ada yang tahu kalau, penculikan Cinta sebenarnya sudah direncanakan sejak awal kedatangannya.
Malam hari Cinta mulai sadar, dia terbaring di atas tempat tidur dengan ke dua tangan dan kakinya di ikat, dan mulutnya ditutup dengan lakban. Cinta mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya, namun ikatan tangan dan kakinya sangat kuat, hingga menimbulkan bekas kemerahan di kulitnya yang putih.
Seorang pria datang membawa segelas anggur, ia duduk di sebuah kursi dekat tempat tidur Cinta. Pria itu menggoyang-goyangkan gelas anggurnya sambil tersenyum jahat.
"Oh maaf sayang, aku lupa mulut manismu sedang tertutup," sambungnya sambil membuka penutup mulut Cinta.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu, apa mau mu sebenarnya? Dimana anak itu?" tanya Cinta.
Pria itu bangkit dari duduknya meletakkan gelasnya di atas meja lalu menyentuh pipi Cinta. "Hahaha pertanyaan mu banyak sekali sayang. Setelah tiga tahun tidak bertemu, kau tidak berubah sedikitpun," ungkapnya.
"Lepaskan tangan kotormu dariku!" bentak Cinta.
"Hei hei jangan begitu padaku, aku sudah baik tidak mengatakan rahasiamu pada pria itu. Kalau dia tau rahasiamu, ku rasa kau sudah mati sejak lama." Sambil melepaskan sentuhannya lalu mengambil gelas anggurnya dan duduk kembali.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan," kata Cinta.
"Baiklah aku akan menjelaskan padamu sedikit tentang pria itu. Dia ingin menyingkirkan mu karena kecemburuannya, tapi akulah yang menyelamatkanmu darinya, yah walaupun harus ada yang dikorbankan. Jadi sekarang kau harusnya berterima kasih padaku dan baik-baik melayaniku."
"Tolong lepaskan aku, kau salah orang. Namaku Cinta, aku tidak tinggal di sini dan aku sama sekali tidak mengenalmu."
__ADS_1
"Aku tau kau tidak ingat padaku. Di dunia ini yang paling mengenalmu adalah aku, jadi tenang saja asalkan kau tidak berulah aku pasti akan merawatmu dengan baik, sayangku."
"Tolongg!" teriak Cinta.
"Percuma saja teriak, kita berada di rumahku yang jauh dari perkotaan. Jangan takut malam ini aku hanya ingin berbicara denganmu… atau mungkin diakhir nanti, aku akan meminta upah sebuah kecupan karena sudah menjaga rahasiamu."
"Jadi tujuanmu sebenarnya bukan untuk menculik Razi, tapi kau sengaja mengelabui kami untuk menculik ku" ungkap Cinta.
"No… no… aku tidak suka anak kecil. Aku hanya menyukaimu seorang sayangku," jawabnya.
"Dasar brengsek! Ternyata dari awal semua ini sudah kau rencanakan."
"Hahaha aku hebat, ya kan. Biar ku ingatkan, dari kecil kita ini sudah berteman loh. Hmm… Aku baru ingat kalau teman itu harus saling berbagi, biar ku bantu kau untuk minum ya sayang."
Pria itu pun memaksa Cinta untuk meminum anggur yang di pegangnya, tangan kirinya memegang mulut Cinta dan tangan kanannya menuangkan anggur itu.
"Hahaha aku sangat suka ekspresimu itu, keputusasaan, kesedihan, dan kebencian semua itu terpancar di wajahmu yang cantik. Sayang tenang saja, aku sudah merekam semuanya, ini semua akan menjadi kenangan manis kita, ketika kita sudah punya anak," ungkapnya.
Tanpa bisa melakukan apapun, Cinta merasa putus asa dan hanya bisa menangis.
"Cup..cup..cup jangan nangis, besok kita lanjut lagi, sepertinya hari ini kau sudah kelelahan," sautnya sambil mengelap air mata Cinta.
Pria itu pun mengecup kening Cinta, lalu pergi dan mengunci Cinta di kamar itu.
"Dasar psikopat gila!"
"Apa yang harus kulakukan? aku tidak ingin di sini terus."
🌺🌺
Halo sobat salam dari Aki Chan 😃
ini adalah novel perdanaku, Aki harap para pembaca memberi kritik, dan saran yang membangun untuk karya ini.
Jika berkenan silahkan di vote.💐
__ADS_1