
Jam 7 malam Cinta kembali ke lokasi syuting dengan menggunakan taksi.
Drrt drrt suara getaran HP-nya. Pesan masuk di kirim oleh nomor tak di kenal.
"Ini nomor telepon orang yang waktu itu memperingati ku saat di rumah sakit," batinnya, lalu ia langsung membuka isi pesan itu.
Maaf sudah meminjam mobil mu tanpa izin. Akan segera ku kembalikan, berhati-hatilah pada orang-orang yang ada di sekitar. Pria itu selalu mengawasi dan mengikuti mu, hari ini aku sudah membantu untuk menyingkirkan salah satu kaki tangannya.
Oh ya, selamat atas kembalinya ingatan mu...
"Ini mungkin nomornya..." Cinta mencoba menghubungi nomor tersebut.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi.
"Tidak aktif… aku yakin kalau ini pasti dia."
"Kakak!" Panggil Tina.
Ia menghampiri Cinta yang masih berdiri tegak di pinggir jalan. "Loh Kak mobil kita kemana?" tanyanya.
"Lagi di pinjam." Untuk menghindari berbagai pertanyaan Tina, Cinta bergegas ke lokasi syuting meninggalkannya yang masih kebingungan seorang diri.
__ADS_1
"Di pinjam?"
***
Setelah selesai syuting jam 11 malam. Cinta dan Tina di antar pulang oleh Randi.
Saat masih di dalam mobil di depan rumah mereka. "Tina masuklah deluan, aku ingin berbicara pada Kak Randi," ucap Cinta.
"Iya Kak." Sambil beranjak keluar mobil.
"Ada apa? Apa kau mau menyatakan cinta pada ku?" Sahut Randi tersenyum mengodanya.
"Aku sedang tidak bercanda," jawab Cinta datar.
"Hah… sudahlah. Begini, aku ingin minta tolong padamu."
"Tumben… biasanya kau selalu melakukan segalanya seorang diri. Tenang... apapun itu, serahkan saja padaku," jawab Randi percaya diri.
"Aku mencari tas milik ku yang di simpan oleh Tante Linda, dan kurasa tas itu ada padamu."
Seketika wajah Randi memancarkan kesedihan. "Ibu ya… aku akan mencarinya, kalau sudah ketemu akan segera ku kabari."
__ADS_1
"Terima kasih, tas itu sangat berharga bagiku."
Randi memaksakan senyumannya. "Sebagai gantinya, kau harus mentraktir ku makan malam di restoran berbintang."
"Baiklah aku berjanji."
Cinta keluar dari mobilnya dan melambaikan tangannya pada Randi sambil tersenyum. Dengan berat hati dia pun membalas dengan sedikit senyuman dan anggukan kepala.
"Maaf sudah mengingatkan mu padanya. Aku tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan mu," batinnya.
Begitu melangkahkan kakinya ke dalam rumah, rasa lelah yang begitu berat tiba-tiba menghampirinya. Tubuhnya tak henti-henti bergetar saat mengingat genangan darah orang yang ia sayangi membasahi lantai yang terasa dingin.
Perlahan-lahan terus melangkah hingga sampai di dalam kamar, ia jatuhkan badannya ke atas kasur tanpa mengganti baju yang lembab karena keringat.
"Semua ini membuat ku lelah…" gumamnya.
Ia miringkan kepalanya ke arah samping dan terlihat buku Diari yang terletak di atas meja di samping kasurnya. Diraihnya buku itu lalu didekapnya dengan erat di dada, air mata pun ikut mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku… ini semua salahku," batinnya.
Tak lama kemudian, drrt drrt suara getaran HP, pesan masuk dari Rangga. Setelah sedikit menenangkan diri dan mengusap air matanya, ia merogoh HP-nya dari dalam saku.
__ADS_1
Besok datanglah ke rumahku… bawalah sebuah kado ulang tahun untuk Razi. Anak itu sudah menganggap mu seperti ibunya sendiri, setidaknya lakukan itu untuk yang pertama dan mungkin yang terakhir kalinya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?