DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 39 Buku Diari


__ADS_3

Jam 2 pagi Randi kembali ke rumah Cinta sambil membawa sebuah Messenger Bag, tas yang berukuran agak besar dengan bentuk menyerupai tas samping tukang pos.


Berulang kali Randi memanggil serta memencet bel rumah Cinta, namun tak seorang pun yang keluar. Ia merogoh ke dalam saku celana dan mengambil HP untuk menghubunginya. 


Tut Tut (Tersambung)


"Halo Cinta, aku sudah di depan rumah mu."


"Ha? Ngapain?" Sahut Cinta kebingungan.


"Kau lupa ya! Aku membawa kan tas yang kau minta."


"Aku tidak menyangka kau akan membawanya secepat ini! Dan sekarang hampir jam 3 pagi tau. Aku butuh tidur."


"Apa kau habis menangis dan sengaja menghindari ku? Aku sudah mengenal mu cukup lama, kau bilang tas ini benda yang sangat berharga bagimu. Dulu, kau bahkan rela menunggu ku berjam-jam untuk meminta sesuatu."


"Iya iya aku keluar, tunggu sebentar."


Cinta akhirnya keluar dan membukakan pintu rumahnya. Randi memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terlihat Cinta yang memakai piyama tidur, rambut sedikit acak-acakan dan kacamata hitam ia gunakan untuk menutupi matanya yang sembab.

__ADS_1


Randi berusaha menahan tawanya. "Pfft K-kau terlihat berantakan. Sepertinya dugaan ku benar," ucap nya.


"Sama sekali tidak lucu!" Cetus Cinta.


"Ma-maaf… aku janji tidak akan menggoda mu lagi." Randi menjulurkan tas yang ia pegang ke arahnya sambil tersenyum. 


"Ini tas mu... tuan putri berkaca mata hitam." Sambungnya sengaja mengoda.


"Kau mau mati!" Kesal Cinta dengan nada mengancam dan langsung merebut tas itu dengan cepat.


Randi mengedipkan matanya berulangkali dan memasang wajah memelasnya. "Aampunn…" 🙏 lirihnya.


Cinta mulai tertawa halus melihat wajahnya. "Ha… haha… bahkan dari balik kacamata ini, wajah memelas mu terlihat sangat jelek!"


"Iya iya terimakasih saya ucapkan kepada tuan Randi yang baik hati. Sudah jauh-jauh ke mari cuma untuk memenuhi permintaan sang putri."


"Selama kau senang, aku rela melakukan apapun untuk mu," gumamnya.


Perhatian Cinta sedang terfokus pada tas yang ia pegang, "barusan kau bilang apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Ah tidak ada. Cuma gurauan sepele," sahutnya sengaja menutupi.


"Oh begitu..." Masih meraba-raba tas yang ia pegang.


Randi menepuk pelan bahu Cinta lalu melangkah mundur secara perlahan. "Baiklah aku pulang dulu. Jangan lupakan janji mu, kecan berdua di restoran berbintang." 


Cinta menoleh padanya sambil melambaikan tangan. Saat Randi sudah sedikit jauh baru lah ia tersadar. "Eh kapan aku berjanji untuk berkencan."


Sebelum masuk ke dalam rumah ia melihat sekeliling dan memastikan tidak ada yang mengawasinya, setelah yakin ia pun menutup pintu itu.


Rangga yang sedari tadi mengawasi, sedang berdiri tak jauh dari mereka sambil bersembunyi di balik bayang gelapnya malam.


Tatapan tak senang di wajahnya tampak begitu jelas terlihat, saat sinar rembulan menyinari tepat ke arahnya.


"Hanya untuk menolak ku kau menggunakan alasan omong kosong."


Sementara Cinta masuk ke dalam kamarnya dan membongkar isi tas yang diberikan oleh Randi. Beberapa setelan pakaian lama ia keluar kan, hingga sampai ke bagian terdalam, tangannya menyentuh sebuah buku.


Ia keluarkan buku tersebut dan terlihat di depannya tertulis My Diary. Sambil duduk bersimpuh di atas lantai ia dekap buku itu dengan erat, air matanya mulai menetes membasahi buku yang sedang ia pegang. "Maaf… maaf… semua ini karena aku," lirihnya.

__ADS_1


Sepucuk surat terjatuh perlahan-lahan ke atas lantai, keluar dari balik buku diarinya.


Buku diarinya yang hilang akhirnya ditemukan. Apa isi buku tersebut?


__ADS_2