
Di malam yang sunyi Cinta duduk termenung sambil meringkuk di atas kasurnya. Mencoba mencerna semua hal yang di katakan Tina saat siang hari.
"Semua ini masih belum jelas, semakin di gali semakin buntu hasil yang di dapat, dan petunjuk yang ada selalu tak berujung…"
"Pemilik toko tempat ku bekerja dulu, ternyata ibunya Kak Randi. Dia tidak pernah membahas ibunya selama ini, jika aku menanyakan padanya apa dia akan menjawab ku? Sepertinya hubungan mereka juga sedikit rumit."
Keesokan harinya saat Cinta dan Tina mau berangkat menuju lokasi syuting, Rangga berdiri seorang diri menunggunya sambil bersandar pada mobil milik Cinta yang sedang terparkir di depan rumahnya.
Dari tatapan matanya terpancar kesedihan yang teramat dalam, seolah tak mengerti perlakuan Cinta yang membuangnya begitu saja, setelah apa yang telah ia lakukan untuknya selama ini.
Saat Cinta dan Tina keluar dari rumahnya, mereka sedikit terkejut melihat sosok Rangga seorang CEO muda yang sukses, selalu mengejar Cinta kemanapun ia pergi dan rela menunggunya setelah di tolak berkali-kali.
Cinta merasa bersalah melihat pipi kanan pria itu sedikit memar dan bengkak akibat perkelahiannya dengan Randi. "Tina masuklah ke dalam sebentar, aku akan mengakhiri hubungan ini," bisiknya pada Tina.
Tina sedikit menganggukkan kepalanya. "Kalau ada apa-apa, Kakak teriak ya," sahutnya khawatir.
__ADS_1
Setelah Tina beranjak pergi, Cinta mendekati Rangga yang masih tertunduk diam termenung. Sadar akan derap langkah kaki Cinta, ia mulai mengeluarkan isi hatinya sambil tetap tertunduk.
"Kenapa… apa karena image mu di mata publik sudah baik, jadi kau mau membuang ku yang tidak berguna lagi… pada akhirnya semua wanita sama saja! Hanya peduli pada perasaannya sendiri!" Matanya mulai meruncing.
"Bu-bukan begitu," sahut Cinta.
Rangga berdiri tegak sambil memegang dadanya yang terasa sakit. "Setelah memutuskan hubungan dengan ku kau pergi begitu saja, tanpa memberikan penjelasan. Aku tidak tau apa salah ku… aku merasa hanya aku yang menderita… " ucapnya lirih.
Mendengar ucapan Rangga, tanpa sadar air mata Cinta mengalir melewati pipinya, seakan rasa sedih di hatinya tak kalah dengan pria itu.
"Kau pikir, hanya dirimu yang menderita. Aku juga menderita… kehilangan semua ingatan, tidak bisa mencari kebenaran dan sekarang bertemu dengan mu yang ternyata adalah suami kakak ku!"
"Aku juga baru ingat kalau Zira adalah kakak ku. Dan kemarin kau menanyakan di mana istrimu, aku juga tidak tau di mana dia," sambung Cinta.
Rangga mulai kehilangan pikirannya, dia tertawa tak karuan, sebab tidak bisa menerima semua yang dikatakan Cinta. "Haha... kau menggunakan alasan yang omong kosong, hanya untuk mendorong ku menjauh."
__ADS_1
"Terserah padamu mau percaya atau tidak, tapi itu semua kebenaran yang ada. Aku yakin kau juga pernah merasakan banyak perbedaan di antara kami."
Cinta pergi meninggalkannya seorang diri. Sementara Rangga tertunduk lesu memikirkan semua perkataannya. "Ti-tidak mungkin," batinnya tak percaya.
Cukup lama Tina menuggu di dalam rumah, ia mondar-mandir mengkhawatirkan keadaan Cinta. Hingga orang yang ia tunggu datang, dengan pipi yang masih lembab karena air mata.
"Kakak menangis! Kakak diapain pak Rangga!" ucapnya mulai kesal sambil memutar tubuh Cinta ke arah kiri dan kanan memperhatikan kondisinya.
Cinta mengusap pipinya. "Ah ini! Bukan apa-apa. Hehe maaf sudah membuat mu khawatir." Ia tertawa halus berusaha menutupi perasaannya.
"Kakak ini… selalu begitu. Tidak bisa! Tina akan minta izin pada kak Randi, supaya Kakak tidak bekerja hari ini." Ia merogoh ke dalam kantungnya untuk mengeluarkan handphone.
Cinta berusaha menghentikannya. "Tenang dulu… aku sudah banyak beristirahat semalam dan hari ini aku ada janji di sore hari."
"Janji? Dengan siapa?" tanya Tina penasaran.
__ADS_1
"Kalau ku bilang dokter, pasti bakal panjang ni," batin Cinta. "Dengan teman," sambungnya.
"Teman? Kok tumben Kakak menyebut orang lain sebagai teman," batin Tina.