
Keesokan malamnya di saat Zira mulai merasa putus asa dengan keputusannya. Satu-satunya harapan yang ia punya hanyalah maju seorang diri dengan bukti yang ia pegang.
Saat ia berjalan di pinggir jalan yang mulai terasa sunyi, ia melihat pesan masuk ke HP-nya dari Cinta.
Aku akan membantu mu… mari bertukar tempat untuk sementara.
Karena perasaan senang dan terlalu fokus dengan HP-nya, ia tidak sadar dari arah belakang melesat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berusaha menabrak dirinya.
Cinta yang sedari tadi mengawasinya dari sebrang jalan, melihat mobil itu dan berusaha menolong Zira.
Dari kejauhan ia berlari mendatanginya, "Cinta, awas!" teriak Cinta dengan sengaja.
Cinta mendorong Zira dengan sekuat tenaga, namun kecelakaan tidak bisa dihindari ia mengalami kecelakaan demi menyelamatkan Zira.
Mobil yang menabrak langsung lari begitu saja, dan orang-orang mulai berdatangan menghampiri mereka.
Zira yang masih terkejut langsung bangkit dan segera menghampiri Cinta. Ia menggenggam tangan adiknya dengan erat, diikuti air mata yang mengalir begitu deras.
"Ci-Cin." Belum selesai kalimatnya, Cinta menggeleng pelan padanya.
Tergeletak di jalan sekujur tubuh dipenuhi dengan darah, dengan suara lirih ia berkata, "Ma.. maafkan aku, hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu Cinta, A..dik..ku" ucap Cinta dengan sengaja.
__ADS_1
Dari balik kerumunan seorang pria tersenyum senang melihat apa yang terjadi pada mereka, ia mengira yang tertabrak adalah Zira. Dia pun segera beranjak pergi dari sana.
Setelah kecelakaan itu, Cinta di bawa ke rumah sakit oleh Zira. Ia menggunakan identitasnya untuk memasukkan Cinta ke sana, sesuai keinginan sang adik.
Dengan memanfaatkan bantuan dari seorang dokter tua kenalannya, yang ternyata ayahnya Ryan. Mereka memalsukan kematian Cinta yang masih terbujur koma. Sementara Zira menggantikan posisi Cinta, untuk menutupi semua itu.
Hari demi hari berganti, kehidupan nya berubah drastis. Zira yang belum pernah hidup mandiri, merasa sedih dengan kehidupan adiknya.
Tinggal bersama Tina di kos-kosan berukuran kecil, belum lagi Hana yang selalu meminta uang padanya, membuatnya mengerti apa yang adiknya rasakan.
Selang sebulan pria itu kembali lagi dengan niat mau mencelakai Cinta yang sebenarnya adalah Zira. Pria itu tidak ingin ada saksi mata yang tersisa atas kejahatannya.
Ibu Linda terpaksa melakukan hal itu dengan iming-iming pekerjaan besar untuk anaknya. Pekerjaan Randi sebagai sutradara di bangun di atas penderitaan Zira dan Cinta.
Di hari Minggu saat tempatnya bekerja tutup, ibu Linda sengaja menyuruh Zira datang atas perintah pria itu.
Zira dan ibu Linda sempat berdebat sebelum dia datang. Bahkan Zira mencoba menyakinkan ibu Linda untuk tidak mematuhi pria itu.
Sayangnya pria itu yang tidak lain adalah Daren datang ke tokonya, dan mencoba membunuh Zira sekali lagi.
Zira mundur perlahan saat Daren menyeringai padanya sambil memegang sebuah pisau.
__ADS_1
"Kau pasti orang yang membunuh ibu dan kakak ku," ucap Zira.
"Benar, aku tidak ingin ada saksi mata, makanya melakukan ini padamu."
Zira merogoh flasdis yang ada di saku dan menjulurkannya pada Daren. "Ini yang kau mau! Kakak ku meninggal hanya karna ini. Ambil ini!" Ucapnya sambil melempar flasdis itu padanya.
"Anak baik… tapi aku tidak akan melepaskan mu semudah itu." Ia mulai melangkah mendekati Zira.
Daren mulai kalang kabut saat mendengar suara sirine mobil polisi yang berbunyi dari kejauhan.
"Hais sial," ucap Daren.
Ia menusuk Cinta dan mendorongnya hingga kepalanya terbentur dinding. Setelah melihat Zira yang tak sadarkan diri ia bergegas kabur dari sana.
Ibu Linda yang menyesali perbuatannya, berperan menelepon polisi dan menolong Zira di saat itu juga. Dia jugalah yang mengatakan pada Daren kalau Zira kehilangan ingatan setelah kejadian itu.
Karena Zira telah kehilangan ingatan, Daren memutuskan untuk melepaskannya, namun takdir berkata lain, pertemuannya dengan Rangga dan Razi kembali mengusik ketenangan Daren.
Apa yang akan Daren lakukan jika ia tau kalau Cinta yang ia kenal ternyata adalah Zira saingannya.
Flashback selesai.
__ADS_1