DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 49 Klarifikasi Bagian 2(END S1)


__ADS_3

Rangga kembali terdiam, mencoba mencerna semua perkataan darinya. "Jadi selama ini kau kehilangan ingatan mu?" tanyanya tak percaya.


"Mas mungkin gak percaya… tapi itulah kenyataannya. Kemarin seorang dokter ahli membantu ku mengembalikan ingatan ku yang hilang dan dia jugalah yang merawat adik ku sampai ia terbangun dari komanya," ucap Zira


"Jadi siapa dalang yang kau maksud?" tanya Rangga.


"Dia… adalah Daren asisten pribadi Mas. Apa Mas percaya padaku?" tanya Zira.


Rangga memalingkan wajahnya dari Zira, sulit menerima kalau Daren orang yang selama ini di dekatnya, yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri ternyata dalang di balik penderitaan istrinya. "Entahlah… aku…," sahutnya pelan.


"Aku tidak memaksa Mas untuk percaya padaku… aku hanya tidak ingin Mas merasakan penderitaan yang sama denganku. Kehilangan orang yang di sayangi tanpa tau apapun…" lirih Zira sambil tertunduk sedih.


Mendengar ucapan Zira, perasaan takut akan kehilangan kembali mengisi hati Rangga. "A-aku butuh waktu…" jawabnya pelan.


Zira bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. Kamarnya yang berada di lantai 2 di sisi bagian depan, dapat melihat segala aktivitas di sekitar rumahnya. Dia sedikit mengintip keluar jendela melihat kondisi di luar dan benar saja apa yang ia perkirakan, sebuah mobil yang berjarak cukup jauh terlihat sedang terparkir di pinggiran jalan sedang memata-matai rumahnya.

__ADS_1


"Aku tidak tau seberapa lama waktu yang bisa ku berikan untuk Mas percaya padaku," ucap Zira.


"Apa maksud mu?" tanya Rangga.


"Sejak kita bertemu kembali, dia selalu mengawasi setiap gerak-gerik ku. Aku punya kesempatan bertemu adik ku karena hubungan kita yang sempat retak dan menurunkan kewaspadaannya terhadap ku, tapi kelihatannya dia sudah mulai bergerak lagi," ucap Zira.


"Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Rangga.


Zira tersenyum mendengar pertanyaan Rangga yang sudah mulai mempercayainya. "Malam ini tinggallah di sini."


"Benar… aku akan menebus semua kesalahan ku pada Mas, setelah ini semua selesai," lirih Zira.


"Tidak bisakah kita bertiga pergi ke tempat yang tidak di ketahui oleh Daren... dan tidak bisakah kau melepaskan dendam mu," lirih Rangga.


Zira menyilangkan tanganya, "tidak… ini bukan hanya tentang dendam, jika kita pergi begitu saja, dia akan terus mengejar kita. Aku tidak ingin hidup dalam pelarian," jawabnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan ku, apa kau tidak memikirkan perasaan ku sekarang?"


Zira sedikit terkejut dan terdiam mendengar ucapannya. Mengingat berbagai hal yang sudah ia perbuat padanya, membuat Zira merasa bimbang sesaat dan tak tau mau berkata apa. "Maafkan aku…" lirihnya.


Rangga yang sempat kecewa, tetap ingin membantunya. "Baiklah… aku akan membantu mu, dengan satu syarat."


"Syarat? Apa syaratnya?"


"Jangan bertindak sendiri, apapun rencana mu harus katakan pada ku terlebih dahulu," ucap Rangga dengan serius.


Zira tersenyum, "baik aku berjanji."


Perlahan Rangga berjalan  mendekatinya dan memeluknya dengan erat sambil menepuk pelan punggung Zira. "Kau sudah bekerja keras selama ini, maaf karena tidak bisa berada di samping mu di saat kau membutuhkan sandaran," ucapnya.


Air mata Zira jatuh mengalir membasahi pipinya, tangannya sedikit demi sedikit membalas pelukan Rangga.

__ADS_1


Akhirnya mereka menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka  dan memilih untuk saling mendukung satu sama lain.


__ADS_2