DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 18 Berbaikan


__ADS_3

Cinta membulatkan tekad dan keluar dari kamarnya, untuk mencari Rangga yang sedang duduk menenangkan diri, di taman belakang rumahnya.


Cinta melihat pria itu dari kejauhan, ada balutan perban di tangan kanannya yang membuat ia semakin merasa bersalah. Rasa bersalah itu bercampur aduk dengan amarah dan kecemburuan. 


Mata Rangga tertuju pada Razi yang sedang asyik bermain, namun dari tatapan hampanya dapat dilihat kalau ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendir dan kesedihan terpancar dari raut wajahnya.


Ia melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah mendekati Rangga. Ada rasa berat di setiap langkahnya, namun rasa itu sirna karena keinginannya yang begitu kuat untuk meluruskan masalah di antara mereka.


Langkah kakinya terhenti, tepat di belakang bangku, tempat Rangga duduk.


"Maafkan aku," ucapnya dengan suara lirih.


Rangga tersentak dari lamunannya, lalu meraih tangan Cinta dengan tangan kirinya, dan menariknya untuk duduk di sampingnya.


"Kau sudah salah sangka!" ucapnya tanpa mendengar perkataan Cinta.


Terlihat raut wajahnya yang begitu putus asa. Rangga sudah mencoba menyakinkan Cinta berkali-kali dengan ucapan dan tindakan, namun tetap hanya penolakan dan pengusiran yang ia terima.


"Aku mampir ke rumah Daren, lalu kami makan bersama. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa pusing dan Seli membawaku pulang. Setelah sampai di rumah, aku kesal karena kau tidak pernah sekalipun menghubungiku," jelasnya.


Rangga masih memegangi tangan Cinta dengan erat, seolah-olah takut jika ia kehilangan sosok wanita yang ia cintai.


"Seli?" tanya Cinta perlahan.


"Ah iya, Seli itu adiknya Daren. Kami bertiga sudah berteman sejak kecil," sambungnya.

__ADS_1


Cinta melepaskan genggaman tangannya, lalu perlahan meraih tangan kanan Rangga yang sedang diperban, "Apa masih terasa sakit?" 


"Sedikit," jawab Rangga.


Ia mengeluarkan obat oles, dari dalam kantung tas berukuran kecil yang sengaja di bawanya, membuka perban itu lalu mengoleskan obatnya, dengan lembut.


"Maaf dan terima kasih," ucap Cinta dengan wajah sedih.


Rangga terheran mendengar ucapannya, wajah kagetnya pun dapat dirasakan oleh Cinta. Baru pertama kali ia mendengar ucapan seperti itu darinya, dengan raut wajah dipenuhi kesedihan.


"Maaf jika sikapku sudah melukaimu, dan terima kasih karena sudah banyak membantuku," sambungnya.


"Aku juga minta maaf karena sudah membentakmu, saat kau datang ke rumahku," saut Rangga.


Rangga  tertegun mendengar pertanyaannya, ia terdiam sejenak menunduk sedih. Teringat akan kenangan indah, senyuman tipis terpancar dari wajahnya.


"Dia orang yang baik, sikap maupun tutur katanya sangat lembut," saut Rangga.


Cinta ingat sifat dan sikapnya malah berkebalikan dari wanita itu, cuek dan suka berterus terang, mengatakan semua isi hatinya. Apalagi ketika ada pria yang mengganggu ketenangannya, dia tidak segan menghina mereka dengan sebutan brengsek, dan mempermalukan mereka di muka umum, seperti Willi.


"Dia sangat menyukai makanan manis," sambung Rangga.


Sedangkan Cinta, ia tidak membenci makanan manis, namun ia lebih menyukai makanan pedas. Perbedaan di antara mereka ibarat langit dan bumi.


Tangannya yang masih mengoleskan obat tiba-tiba terhenti, tertunduk malu pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Rangga selalu menganggap Cinta sebagai istrinya, ia berpikir kalau pertanyaan itu hanya sebatas untuk menguji perasaannya terhadap Cinta.


Rangga mengambil kesempatan mendekatkan wajahnya dengan wajah Cinta, berusaha untuk mencium bibirnya.


Cinta masih tertunduk diam, tanpa melihat ke arahnya. Perlahan pria itu semakin dekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. "Ayah!" teriak Razi dari kejauhan. 


Mereka pun terperanjat kaget karena mendengar teriakan Razi. Melihat ke segala arah, mencari keberadaannya yang tidak lagi bermain di dekat mereka duduk.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Razi?" gumam Cinta pada Rangga. Sedangkan Rangga, hanya menjawab dengan sedikit gelengan kepala.


Mereka pun mencari sumber suara yang tidak terlalu jelas dari mana arah suaranya. Mencari hingga ke dekat perkarangan rumah tetangganya.


Terdapat sebuah tembok yang cukup tinggi, sebagai batas antar rumah di sana. Terlihat ada lubang berukuran cukup besar yang biasa di lewati oleh Anjing tetangga.


Ada bekas robekan pakaian berukuran sangat kecil di sana, dari warnanya sama dengan pakaian yang  di kenakan oleh Razi.


Apa yang sebenarnya terjadi?


 🌺🌺


Halo sobat salam dari Aki Chan 😃


ini adalah novel perdanaku, Aki harap para pembaca memberi kritik, dan saran yang membangun untuk karya ini.


Jika berkenan silahkan di vote.💐

__ADS_1


__ADS_2