
Keesokan paginya di hari Minggu. Cinta duduk termenung di sebuah ayunan yang biasa dimainkan oleh Razi, di taman belakang rumahnya.
Hah…
"Aku bosan… bagaimana kabar anak itu? Aku harap dia tidak menangis lagi," gumamnya.
Tiba-tiba Tina berjalan mendekat secara perlahan. "Oh jadi itu yang dari tadi Kakak lamunkan."
Cinta sedikit terkejut saat Tina menepuk pelan pundaknya. "Anak ini! Suka sekali muncul secara tiba-tiba dan mengejutkan ku," batinnya.
"Kalau Kakak merindukannya, kenapa tidak telepon langsung."
"Aku tidak ingin terlibat dengannya lagi," sahut Cinta.
"Maksud Kakak, pak Rangga?"
"Memangnya siapa lagi," cetusnya.
"Sikapnya kemarin memang keterlaluan, tapi kita juga tidak tau penderita seperti apa yang dia rasakan sampai seperti itu."
"Kau membelanya?" ucap Cinta mulai kesal.
"Bukan begitu Kak, Tina hanya tidak ingin Kakak menyesalinya."
Suaranya mulai meninggi menahan amarah di hatinya. "Tidak ada yang perlu disesali! Kau tidak akan mengerti!" Bangkit dari duduknya.
Ia langsung meredam emosinya, saat melihat ekspresi Tina yang terkejut mendengar ucapannya. "Ah sudahlah, aku ingin istirahat di kamar. Jangan ada yang mengganggu," sambungnya sambil beranjak pergi.
"Apa yang sebenarnya membuat Kakak semarah itu?" gumam Tina.
"Hmm... apa pak Rangga katahuan selingkuh? Apa karena Seli? Atau jangan-jangan ada wanita lain?" Tina mulai asyik dengan pemikirannya sendiri.
***
Hana keluar dari kamarnya, berpakaian rapi sambil membawa koper dan menggandeng tas yang kemarin mereka beli di Mall.
__ADS_1
"Tante mau kemana?" tanya Tina.
"Mau pulang ke Medan. Bibinya tiba-tiba sakit tidak ada yang merawat, jadi Tante yang akan menjaganya."
"Sakit lagi?"
"Iya maklum la, namanya juga udah tua, jadi sering kambuh."
"Kakak lagi di kamar, biar Tina panggilkan." Berjalan ke arah kamar Cinta, namun di cegah oleh Hana.
"Ti-tidak perlu. Jangan mengganggunya, kasian dia mungkin kelelahan."
"Tumben Tante mengkhawatirkan Kakak," batin Tina dalam hati.
Di siang hari, setelah kepergian Hana. Tina berdiri mondar-mandir di depan pintu kamar Cinta sambil memegang sebuah gelas.
"Panggil? Enggak? Panggil? Enggak?" batinnya.
"Haiss sudah la." Ia berhenti tepat didepan pintunya.
Tok
Tok
Tok
"Hmm… kenapa tidak ada suara? Apa sedang tidur?" Ia menempelkan telinganya beserta gelas yang ia pegang untuk menguping.
Saat Cinta membukanya, Tina tersenyum malu melihat tatapan matanya seolah-olah bertanya apa yang sedang ia lakukan.
"Tina kira Kakak sedang tidur," ucapnya pelan.
"Apa yang tadi kau katakan?"
"Ah itu, Tante sudah pulang karena bibi sakit. Maaf tidak memanggil Kakak, Tante melarang Tina mengatakannya karena takut mengganggu istirahat Kakak."
__ADS_1
"Jangan mudah tertipu olehnya, rubah licik itu cuma mau uang. Razi sudah pergi, tidak ada yang bisa ia harapkan di sini."
"Oh," sahut Tina.
"Apa cuma itu?" tanya Cinta.
Tina mengedipkan matanya berulangkali, berusaha mengingat hal penting yang mau ia sampaikan.
"Oh iya, ini tentang kotak yang Kakak tanyakan waktu itu."
"Kotak? Kotak apa?" tanyanya.
"Kotak aneh yang Kakak tanyakan pada Tina. Hmm... kotak pa-pan, apa ya?"
"Maksud mu kotak Pandora?"
"Iya benar. Tina baru ingat 5 tahun yang lalu setelah Kakak menitipkannya pada Tina, besoknya Kakak mengambil kotak itu kembali."
"Kau tidak salah ingat kan?" tanya Cinta memastikan.
"Tidak Kak, tapi anehnya setelah itu Kakak menghilang berbulan-bulan, dan kembali di antarkan oleh Tante Linda."
"Itu saat aku kehilangan ingatan, wanita itu bernama Linda," batin Cinta.
Ia mulai tak sabar, tatapan wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang amat besar. "Siapa wanita yang bernama Linda?"
"Kakak lupa ya. Tante Linda! Mamanya kak Randi. Kakak kan dulu pernah kerja paruh waktu dengan Tante itu."
"Orang yang selama ini ku cari ternyata Tante Linda. Sejak awal seharusnya aku bertanya pada Tina dengan jelas, dan tidak melakukan segalanya seorang diri," batinya.
"Dimana Tante Linda sekarang?" tanya Cinta.
"Tina dengar tidak lama setelah Kakak pulang, beliau pergi ke Amerika. Bahkan Kak Randi juga sulit untuk menghubunginya."
Cinta teringat saat ia bertanya tentang kakaknya(ch 11). "Saat aku bertanya padamu tentang pemilik toko itu, kenapa kau tidak mengatakannya!" Sedikit kesal.
__ADS_1
"Pemilik toko? Kakak dulu berkerja sebagai pelayan di rumah makan milik mereka. Tina tidak tau kalau pemilik toko yang Kakak maksud ternyata Tante Linda."
Cinta mulai lemas mendengar jawabannya. "Lagi lagi, aku kehilangan petunjuk. Satu-satunya cara yang tersisa, hanya dengan mengembalikan ingatanku yang hilang. Sebaiknya hal ini aku rahasia kan dulu dari Tina," batinnya.