DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 46 Token Cinta


__ADS_3

Tinggalkan like dan komen di kolom komentar 🌸🌸


Keesokan malamnya setelah Zira berkunjung ke rumah Rangga.


Rangga yang sedang sibuk memeriksa berkas dan dokumen kerjanya, tidak sengaja menjatuhkan surat yang di selipkan Zira ke lantai.


Ia mengambil surat itu lalu menyimpannya di dalam saku kemejanya tanpa melihat isinya.


Jam 11 malam, Rangga masuk ke kamar Razi untuk mengecek keadaan putranya. 


"Putra kesayangan ayah belum tidur," ucap Rangga.


Terlihat Razi yang sedang duduk di atas kasur, sambil bermain mini pesawat terbang di tangannya. Rangga menghampiri anaknya lalu duduk di samping dan membelai rambutnya dengan lembut.


"Apa anak ayah gak bisa tidur?" tanya Rangga.


Razi berhenti bermain dan tertunduk dengan wajah sedih. "Razi sedang menunggu ibu pulang. Ibu sudah berjanji akan segera pulang dan tinggal bersama kita."

__ADS_1


Mendengar ucapan putranya, Rangga terdiam teringat akan pertanyaan Zira kemarin malam, "apa kau membenciku." Pertanyaan itu terus terlintas berulang kali di pikirannya seolah menghantui dirinya. 


Terkadang rasa bersalah ia rasakan karena sudah menjawab apa yang seharusnya tidak ia ucapkan. 


"Ayah…" lirih Razi pelan.


"Hmm…" jawab Rangga tersenyum yang berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.


Razi memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang sebelumnya di berikan oleh ibunya. 


"Ini untuk ayah, ibu menyuruh Razi memberikan ini di saat ayah bersedih," ucapnya.


Razi sedikit mengangguk kan kepalanya. "Ibu juga bilang, kalau ayah boleh berkunjung, kapan pun ayah mau."


Rangga membuka kotak itu dengan perlahan... dan terlihat di dalam nya hanya berisi kan selembar daun. Ia meraba daun itu dengan penuh ke hati-hatian.


"Ini… daun… lontar!" ucapnya.

__ADS_1


Tiba-tiba ia teringat akan kenangannya dulu saat bersama istrinya di sebuah museum.


"Sayang... lihat, ini namanya daun lontar. Daun ini, daun yang bersejarah. Dulu sebelum ada kertas, orang-orang menggunakan daun ini sebagai media tulis," ucap Zira.


"Wah kalau di pikir-pikir, orang dari masa klasik sangat hebat, bisa memanfaatkan semua yang ada di sekitar untuk tujuan mereka."


"Hmm kalau begitu daun ini akan menjadi token cinta untuk kita berdua," sahut Zira sambil menunjuk ke arah peninggalan bersejarah.


"Token cinta? Kenapa harus daun ini?" tanya Rangga kebingungan.


Zira merangkul kan tangannya ke tangan Rangga sambil tersenyum padanya. "Ya karena aku ingin menjadi seperti orang klasik, yang bisa memanfaatkan Mas untuk selalu melindungi ku sampai hari tua," candanya.


Rangga mendekatkan wajahnya ke telinga Zira sambil tersenyum mengodanya. "Kalau itu serahkan saja pada Mas. Mas siap kapan pun dan di mana pun untuk menjadi tameng bagi mu."


Kembali ke kenyataan ia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sepucuk surat yang sebelumnya terjatuh di lantai. Pada surat itu terdapat sebuah perangko bergambar daun lontar yang baru terlihat di matanya.


Surat itu dikirim atas nama Zira yang di tulis 4 tahun yang lalu. Rangga membukanya lalu membaca surat itu cukup lama.

__ADS_1


Waktu terasa berjalan begitu lambat setelah selesai membaca surat dari Zira, ia menggenggam daun lontar yang masih dipegangnya di tangan kiri dengan erat. "Razi, ayo kita jemput ibu pulang," lirihnya sambil tersenyum, sementara Razi mengangguk kan kepalanya ikut tersenyum.


Sepucuk surat yang bisa mengubah segalanya, apa isi surat tersebut?


__ADS_2