DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 48 Klarifikasi Bagian 1


__ADS_3

Suasana malam yang begitu hening, dan dentingan suara jarum jam, mengiringi rasa canggung di antara Rangga dan Zira yang sedang duduk saling berhadapan di sofa di dalam kamarnya. Rangga mengeluarkan surat itu dari dalam sakunya, ia tertunduk sebentar sebelum melontarkan berbagai pertanyaan yang sudah ia tahan cukup lama.


"Apa maksud surat ini?" Rangga membuka surat itu lalu meletakkannya di atas meja.


Zira meraih surat itu dan memandanginya sambil tersenyum. "Surat ini seharusnya ada di tangan Mas 4 tahun yang lalu, namun karena suatu alasan surat ini tidak jadi dikirim." 


Setelah meletakkan surat itu, Zira terdiam sebentar dan raut wajahnya berubah seketika. Sorotan mata sedihnya membuat Rangga yang tadinya tertunduk memandangnya dengan tatapan iba. 


"Aku akan menceritakan semuanya dari awal. Dulu…" Zira mulai menceritakan kisahnya.


Flasback


Enam tahun yang lalu, setahun sebelum pernikahan Rangga dan Zira. Di malam hari ketika turun hujan lebat di sertai petir, ia pulang dengan kondisi basah kuyup. Firasat buruk yang ia rasakan sedari tadi terbukti benar, ia menemukan ibunya tergeletak bersimbah darah di lantai yang terasa dingin.

__ADS_1


"Ibu! Ibu! Apa yang terjadi?" tanyanya seraya menangis sambil mendekap tubuh ibunya.


Sang ibu yang berusaha menahan rasa sakit, memegang pipi putrinya sambil tersenyum. "Jangan menangis…" lirihnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melakukan ini pada ibu?" tanyanya lagi.


"Jauhi pria itu… ja-jauhi Rangga…," lirih ibunya yang sedang meregang nyawa. 


Tangan yang menyentuh pipi Zira mulai terasa dingin dan terjatuh ke lantai, hembusan nafas ibunya terhenti di saat petir menggelegar begitu kuat. 


Malam yang tak terlupakan oleh Zira, merenggut nyawa ibunya dan  membuatnya menanggung rasa sakit yang begitu dalam. Kebencian dan dendam yang membara membuatnya kehilangan arah dan tujuan hidup. Perjodohan yang awalnya ia tolak dan sudah ada sebelum kematian ibunya, ia terima demi membalaskan dendamnya yang tak mendasar.


Ketika ia sudah menikah dengan Rangga, ia berencana membuat pria itu jatuh cinta dengannya  lalu membalas dendam dengan cara menghancurkan hatinya. Pembalasan dendam yang ia rasa lebih sakit dan menyiksa dari pada membunuh mengotori tangannya.

__ADS_1


Flashback selesai.


Setelah Zira menceritakan alasannya menikah dengan Rangga.  Pria itu hanya diam dan masih memandangi wajahnya. Zira yang mencoba membaca raut wajah Rangga, sama sekali tak bisa menerka apa yang ada di pikirannya.


"Setelah mengenal Mas dan mengandung putra kita, aku sadar kalau ternyata aku salah. Perlahan aku mulai jatuh hati dengan Mas, dan mengurungkan rencana ku. Tapi sayangnya semua sudah terlambat, dia mengancam ku dan memaksa ku untuk meninggalkan kalian," lirihnya.


"Aku menulis surat ini supaya Mas tidak merasa sedih, tapi gagal karena ketahuan olehnya. Dia yang membunuh ibuku ternyata menyukai mu dan selalu berada di dekat kita…" ucap Zira.


"Kalau apa yang kau katakan benar, kenapa dia membiarkan kita bersama?" tanya Rangga datar.


"Itu karena… dia ingin Mas punya keturunan. Dia tau kalau dia tidak bisa memberikan hal itu, makanya membiarkan ku larut dalam dendam yang tak mendasar. Dia berencana menyingkirkan ku setelah melahirkan, namun gagal berulangkali."


"Lalu kenapa kau berada di sini sekarang?" tanya Rangga lagi.

__ADS_1


"Dia memancingku menjauh dari Mas, Cinta adik kembar ku yang tinggal di sini ikut terseret menjadi korbannya. Dia jatuh koma menyelamatkan ku dari tabrak lari yang di rencanakan olehnya," ucap Zira.


"Setelah itu aku mengambil identitas Cinta dan hidup dengan namanya, karena dia tidak berniat melepaskan saksi mata, makanya dia mencoba membunuh Cinta yang sebenarnya adalah aku, karena itu aku kehilangan ingatan dan juga bukti kejahatannya," sambungnya.


__ADS_2