DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 21 Bersandiwara


__ADS_3

Sesampainya ia di rumah, ibunya sudah menunggu kedatangannya. Cinta memegangi tangan anak itu dengan erat, perasaan khawatir yang ia rasakan begitu membuat hatinya tak kunjung merasa tenang.


Razi yang sadar dengan keadaan, tersenyum manis mencoba menenangkan ibunya. "Ibu jangan khawatir! Ayah tidak akan membiarkan ibu dalam masalah!" bisiknya.


Hatinya merasa sedikit tenang, dengan adanya dukungan darinya. Mengingat kembali kehidupannya sebelum menjadi seorang artis, yang begitu berantakan. Punya ibu yang tak pernah mempedulikannya, kerja banting tulang demi mencari sepeser uang, dan belum lagi masalah yang sering di timbulkan ibunya saat berutang judi, semua itu ia alami sebelum menjadi terkenal seperti sekarang ini.


Segala cobaan dan rintangan ia lalui selama kurun waktu 4 tahun yang lalu, jatuh bangun demi mencapai puncak kariernya dan hanya Tina yang selalu setia berada di sampingnya dengan tulus. 


Ibunya bangkit dari sofa dan mulai memainkan sandiwaranya, mendekati Cinta dan Razi yang baru saja menginjakkan kaki ke dalam rumah. "Oh ternyata ini cucu ibu, dia tampan sekali!" sambil mencubit pipi Razi dengan lembut.


"Dia bukan cucu ibu! Dia putranya Rangga!" Cetus Cinta.


"Kalian itu kan tunangan, otomatis dia itu juga putramu dan tentunya juga cucu ibu!"


"Kami masih belum resmi menikah, kalaupun nanti kami menikah dan dia menjadi putraku, dia tetap bukan cucu ibu!"


"Ibu baru sampai sudah berdebat denganmu, hanya karena masalah sepele."

__ADS_1


Cinta kesal dengan semua ucapan Ibunya, suaranya mulai meninggi saat berbicara. "Sepele! Semua hal yang tidak ada kaitannya dengan uang, ibu bilang sepele!" 


Amarahnya meluap sehingga ia lupa kalau ada anak kecil di sampingnya, perdebatan orang dewasa yang seharusnya tidak di dengar oleh anak kecil, tak membuat Razi gentar sedikitpun. 


Tidak lama kemudian Rangga dan Tina masuk ke dalam, dari luar mereka sudah mendengar perdebatan di antara Cinta dan Ibunya. Ketika mereka datang, Cinta segera menyuruh Tina membawa Razi masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Rangga berusaha bersikap tenang, mencoba memecahkan keheningan di antara mereka. "Perkenalkan saya tunangan Cinta, nama saya Rangga Prasetya." Sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


Ibunya kembali bersandiwara, dengan sigap merubah wajahnya yang sedang kesal, lalu cepat-cepat meraih tangan Rangga. "Saya ibunya Cinta, Hana!" sautnya.


Ibunya tidak tau kalau pertunangan mereka hanyalah settingan, jika ia sampai tau, entah apa yang akan ia lakukan untuk meraup keuntungannya sendiri. Walaupun sebenarnya mereka saling menyukai, mereka tidak pernah membahas tentang itu lebih lanjut.


"Se-sebenarnya Ibu datang ke sini cuma untuk melihat tampang calon mantu ibu… tapi… Cinta tidak pernah mau, kalau ibu ikut campur urusannya." 


Sekilas dari balik sapu tangannya ia menyeringai, dengan tatapan mata yang tajam seolah-olah sedang menyembunyikan niat buruknya. Walaupun ekspresi itu tidak dapat dilihat, Cinta tau seluk beluk orang yang seperti Ibunya.


Cinta kesal dengan semua tingkah lakuya, "Dasar wanita bermuka dua! Aku akan mengikuti semua sandiwara Ibu." Pikirnya.

__ADS_1


Cinta mendekati Ibunya, lalu menggenggam kedua tangannya sambil tersenyum palsu. "Bukan begitu Bu, aku hanya tidak ingin Ibu mengkhawatirkan ku. Di umur Ibu yang tidak muda lagi, Cinta takut Ibu akan stres dengan masalahku." 


Hana membalas senyuman Cinta. "Putri kesayangan Ibu memang selalu mementingkan Ibunya. Rangga beruntung bisa bertunangan dengan mu, yang lapang dada menerima kenyataan yang ada."


"Kenyataan yang ada? Maksudnya Razi?" batin mereka.


Sementara Rangga mengabaikan semua perkataannya, di pikirannya ia hanya ingin mendapatkan restu dari Hana dan segera mendapatkan Cinta dengan utuh.


Kemarin malam, Rangga yang terbaring di atas kasurnya termenung memikirkan segala perbedaan di antara Cinta dan istrinya. Merasa berat untuk mengakui semua fakta yang ada, ia tetap pada pendiriannya sendiri, bahwasanya Cinta adalah istrinya.


Egonya yang begitu besar mengalahkan setiap bukti-bukti yang sudah terlihat jelas. Egonya sendiri merupakan sistem pertahanan tubuh yang tanpa sadar aktif, untuk melindungi dirinya dari depresi yang berlebih. Orang yang mengidap Bipolar, cenderung muncul keinginan bunuh diri, ketika mereka merasa sedih hingga depresi.


 🌺🌺


Halo sobat salam dari Aki Chan 😃


ini adalah novel perdanaku, Aki harap para pembaca memberi kritik, dan saran yang membangun untuk karya ini.

__ADS_1


Jika berkenan silahkan di vote.💐


__ADS_2