DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 47 Surat untuk Rangga


__ADS_3

Surat yang ditulis 4 tahun yang lalu.


Untuk Mas Rangga,


Mas… ini aku Zira. Aku tidak tau apakah surat ini akan sampai ke tangan mu atau tidak. 


Maafkan aku…


Ada berbagai kebohongan dalam rumah tangga kita dan itu sengaja ku lakukan untuk mengambil hatimu. Meskipun begitu aku tulus menyayangi Mas.


Aku tidak bisa menepati janji kita untuk terus bersama. Mungkin Mas akan membenciku karena meninggalkan Mas dan putra kita, tapi aku tidak punya pilihan lain.


Aku terpaksa melakukan ini semua…


Sejujurnya tujuan ku menikah dengan Mas hanya untuk balas dendam atas kematian ibuku, namun seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa itu semua bukanlah salah Mas.


Semua ini salahnya, aku akan membalaskan dendam ibu dan segera kembali untuk menjelaskan semuanya…


Tapi jika aku tidak kembali... aku minta maaf, mungkin ini pesan terakhir dariku. Tolong relakan ke pergian ku…


Maafkan aku…

__ADS_1


Dari Zira untuk Rangga.


***


Malam sudah semakin larut, jam menunjukkan pukul 23.50 WIB. Sinar rembulan yang begitu cerah diiringi tiupan angin sepoi-sepoi yang mengoyangkan daun-daun hijau pepohonan, seraya menemani mereka yang sedang berdiri di depan pintu.


Rangga yang sedang menggendong Razi, awalnya merasa ragu saat akan mengetuk pintu rumah Zira. Pelan-pelan ia menghela nafasnya, menyiapkan diri dengan apa yang menantinya di dalam sana.


Setelah ia memberanikan diri barulah pintu itu ia ketuk, tidak lama kemudian dari balik terdengar suara orang menyahut.


"Tunggu sebentar," teriaknya. Tina datang membuka kan pintu untuk mereka. 


"Siapa ya, yang datang malam-malam begini," gumam Tina.


Berulangkali Tina mengucek matanya yang sedikit memicing karena kantuk, untuk memastikan kebenaran atas apa yang sedang ia lihat.


"Ehem... bolehkah aku masuk? tanya Rangga memecah keheningan.


Tina yang masih kebingungan, hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.


"Terimakasih," ucap Rangga. Ia mulai melangkah kan kakinya masuk ke dalam, namun terhenti sesaat mengingat putranya yang sedang terlelap ditangannya.

__ADS_1


"Ah tunggu sebentar... tolong bawa Razi tidur di kamarnya," ucap Rangga sambil memindahkan putranya ke tangan Tina.


Setelah pria itu meninggalnya dan berjalan menuju ke arah kamar Zira, baru lah kesadaran Tina kembali.


"Benar apa kata kak Cinta, malam ini kita kedatangan tamu yang tidak diundang," gumamnya.


Rangga yang sedang menaiki anak tangga satu persatu mulai merasa tak tenang akibat gangguan kepribadian ambang yang ia miliki.


Rasa cemas sedikit demi sedikit menghantui, karena takut akan ditinggalkan untuk ke dua kalinya oleh orang yang ia sayangi.


Saat sudah berada tepat di depan pintu, teringat akan pertemuannya kembali dengan Zira yang saat itu dikenal sebagai Cinta, artis cantik yang bekerja di perusahaan miliknya.


Rasa takut akan ditinggalkan lagi, membuat ia berpaling melangkah mundur. Namun sayangnya langkah itu di hentikan seketika oleh Zira.


"Aku sudah lama menunggu," lirih Zira, yang sedang memegang tangan Rangga memunggunginya.


Perlahan-lahan pria itu berpaling kembali ke arahnya. Terpancar dari tatapan matanya, yang begitu terlihat depresi.


"Apa yang seharusnya kulakukan," lirih Rangga.


"Maukah Mas mendengar cerita ku?" Ucap Zira perlahan sambil tersenyum.

__ADS_1


Rasa cemas di hatinya mulai sirna begitu mendengar sepatah kata yang terucap dari Zira.


__ADS_2