
Malam pun tiba, sesampainya di rumah sakit, Cinta duduk sambil menyandarkan punggungnya ke balik dinding di luar kamar yang bertuliskan VIP. Rasa gusar di hati begitu mengganggu pikirannya, sesekali ia melihat dari balik pintu kamar itu, Rangga duduk di sebelah Seli yang sedang tak sadarkan diri di tempat tidur, hanya punggung pria itu yang terlihat olehnya.
Tak ingin membuat keadaan semakin kacau, berulang kali ia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam sana.Β
Tina yang melihat kegusarannya, merasa khawatir dengan kondisi psikis Cinta yang mudah terguncang, jika terkait dengan Rangga.
Pria paruh baya masuk dengan terburu-buru, dengan stetoskop menggantung di lehernya, dan jas putih berlengan panjang sebagai penanda kalau ia adalah dokter spesialis.
Tidak lama kemudian, Seli mulai sadar. Ia pun bangkit dari posisi tidurnya, duduk berlunjur memeluk Rangga sambil menangis.
Dia hanya bisa diam dan pasrah menerima pelukan Seli. Sementara Cinta yang masih mengawasinya dari balik pintu itu, menunduk malu karena sempat menilai dirinya terlalu tinggi di mata pria itu.
Merasa dirinya sudah di cintai oleh Rangga, walaupun hanya sekedar pengganti. Kini rasa yang ia miliki menyadarkannya untuk tidak mudah jatuh ke dalam lubang yang sama.
"Aku ingin sendiri," ucapnya perlahan pada Tina yang sedari tadi memandangnya.
Seorang diri melewati koridor yang ada, waktu terasa bergulir lambat di setiap langkahnya.
Berjalan sambil menunduk mengiringi setiap langkah kecil kakinya, untuk menghindari kontak mata para perawat yang berpapasan dengannya.Β
__ADS_1
Perasaan yang tidak asing, bau obat-obatan yang begitu pekat yang bercampur dengan dinginnya udara malam, serta rasa lelah yang tiba-tiba datang menghampiri, membuatnya terduduk di sudut dinding itu.
"Tring." Sebuah pesan masuk ke hpnya memecah keheningan malam. Pesan itu di kirim oleh nomor yang tidak bernama.
"Berhati-hatilahlah! Jangan percaya pada apa yang terlihat! Jangan percaya pada siapapun!" Isi pesan itu.
"Apa ini spam?" ucap Cinta penuh curiga.
Cinta memilih kembali dan beristirahat di dalam mobilnya, sambil menunggu kabar dari Tina yang masih memantau keadaan Seli. Pikirannya di penuhi oleh pesan misterius tadi, seolah-olah pesan tersebut bukan pesan biasa hingga membawanya jatuh tertidur.
4 tahun yang lalu, Cinta sedang berdiri di depan pintu kosnya sambil memegangi sebuah kotak. Tina yang saat itu masih berumur sekitar 17 tahun, membukakan pintu untuknya.
Dengan sigap Cinta menyodorkan kotak itu padanya. "Ingat simpan ini baik-baik! Jangan berikan kotak ini pada siapapun selain Kakak."
"Kotak apa ini Kak?" tanyanya.
"Itu kotak Pandora," ucapnya pelan sambil tersenyum.
*Pada masa modern, sebuah idiom timbul dari kata tersebut yang artinya "Sumber masalah besar dan tak diinginkan" atau "Sebuah hal yang tampak berharga namun sebenarnya adalah kutukan.
__ADS_1
Di lain sisi di dalam sebuah mobil seorang wanita dan pria saling berbicara. Wanita itu adalah wanita yang mengawasi Cinta saat di perusahaan Rangga.
"Apa kau membencinya?" tanya si Pria.
Wanita itu sejenak terdiam. "Aku sangat membencinya β¦."
"Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Wanita itu menyeringai mendengar pertanyaannya. "Aku akan menghancurkan mereka!"
"Aku akan membantumu sebisa ku."
"Terimakasih, sayang." Ucapnya sambil memegang tangan pria itu dengan erat.
Sosok misterius yang sebelumnya. Tidak tau apakah mereka lawan atau kawan?
πΊπΊ
Halo sobat salam dari Aki Chan π
__ADS_1
ini adalah novel perdanaku, Aki harap para pembaca memberi kritik, dan saran yang membangun untuk karya ini.
Jika berkenan silahkan di vote, dan jangan lupa likenya ya π