
Cinta masuk ke dalam klinik, hingga sampai ke meja informasi.
"Sudah ada janji?" tanya salah satu penjaga.
"Sudah, dengan dokter Ryan."
"Silahkan tunggu sebentar." Ia pun beranjak pergi, tidak lama kemudian kembali untuk menuntun Cinta masuk ke salah satu ruangan.
Cinta berjalan masuk ke ruangan itu, melewati sebuah tirai yang sengaja di gunakan untuk menutupi sebagian ruangan kecil. "Tirai? Di ruangan ini ada kasur pasien?" batinnya.
Sesosok pria berpakaian jas putih kedokteran, sedang berdiri menghadap keluar jendela, hanya punggungnya yang terlihat oleh Cinta.
"Permisi, dokter Ryan?" ucapnya ragu.
Pria itu pun berbalik diiringi senyuman tipis di bibirnya. Wajah tampan, dengan kulit putih, memakai kacamata yang membuat penampilannya cocok sebagai seorang dokter muda menawan.
"Silahkan duduk…" ucapnya perlahan sambil duduk di kursinya.
Meja berukuran kecil, di atasnya terdapat buku-buku dan berkas yang tersusun rapi. Selain itu sebuah papan nama terletak di sana, yang bertuliskan. "Dr. Ryan Syahputra."
Cinta duduk mengikuti instruksinya, dan saling berhadapan satu sama lain.
"Dokter Ryan, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih, karena sudah menyelamatkan saya kemarin, dan tujuan kedatangan saya ke sini ingin meminta bantuan lagi."
"Kalau boleh tau bantuan apa, Mba?" tanya Ryan penasaran.
__ADS_1
"Beberapa tahun yang lalu, saya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan seluruh ingatan saya hilang. Saya pernah dengar, dengan menggunakan metode hipnotis bisa membantu proses pemulihan ingatan."
Hah…
Ryan mendesah pelan sambil memandangi Cinta.
"Ada apa, Dok?" tanya Cinta.
"Hmm… tidak apa-apa. Menurut saya Mba terkena amnesia Retrograde."
"Amnesia Retrograde?"
Ryan mulai menjelaskan.
Amnesia ini disebabkan oleh goncangan atau pukulan yang keras pada kepala, akibat kecelakaan atau terjatuh. Bagian dari otak yang menyimpan memori masa lalu rusak dan tidak dapat diakses sehingga mengakibatkan amnesia.
"Jadi bagaimana Dok?" tanya Cinta.
"Benar, salah satu cara untuk mengembalikan ingatan adalah dengan menggunakan metode hipnotis, namun terkadang tidak selamanya ingatan yang sudah hilang itu buruk. Ehem… maksud saya... terkadang ada baiknya jika kita melupakan trauma saat kecelakaan itu."
Cinta terdiam sejenak mendengar perkataannya. "Aneh, di balik perkataannya seperti menyiratkan maksud lain. Jika semua dokter selalu mengkhawatirkan pasiennya, masyarakat pasti sejahtera," batinnya sambil tertawa kecil.
"Apa ada yang lucu?" tanya Ryan kebingungan.
"Tidak ada. Sebenarnya banyak hal yang ingin saya ketahui, dan satu-satunya cara, hanya dengan mengembalikan ingatan yang hilang."
__ADS_1
"Baiklah kalau itu keputusan Mba."
"Panggil aja Cinta, saya kurang nyaman di panggil Mba," sahutnya.
Ryan tersenyum lebar. "Kalau begitu panggil saya Ryan, supaya kita semakin akrab dan lebih mudah berkomunikasi nantinya."
Cinta kembali terdiam mendengar perkataannya. "Modus! Apa dia pria hidung belang?" batinnya.
Melihat reaksi Cinta, Ryan menimpali perkataannya. "Jangan salah paham dengan ucapan saya, ini semua untuk mempermudah proses pemulihan."
"Oh ternyata begitu, hampir aja salah paham," cetusnya sambil tersenyum malu.
Ryan tertawa halus melihat reaksinya. "Baiklah karena hari sudah mulai gelap, hipnotisnya akan kita lakukan besok."
Cinta menganggukkan kepalanya. "Semoga cara ini berhasil. Aku ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi sebelum kecelakaan itu," batinnya.
Setelah kepergian Cinta. Seorang wanita berbicara pada Ryan dari balik tirai, yang di lewati Cinta sebelumnya.
"Setiap orang yang amnesia, haus akan ingatan yang hilang. Entah itu kenangan buruk atau kenangan indah, mereka tidak peduli sedikitpun. Setelah ingatan kembali barulah menyesali perbuatannya," ucapnya.
"Tidak semua orang berakhir seperti itu, ada juga yang mensyukurinya," sahut Ryan sambil sibuk memeriksa catatan yang ada di atas mejanya.
"Iya ya ya," jawabnya cuek.
__ADS_1