Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Tak percaya


__ADS_3

Aku berusaha mengeluarkan arwah anak kecil tersebut dari tubuh Ranti. Sesaat setelah anak itu keluar tubuh Ranti pun tergeletak di atas lantai.


" Ran sadar Ran" aku menggoyak tubuh Ranti yang masih tak sadarkan diri


" ehhhh Key" ucap Ranti sambil membuka matanya


Aku mengambilkan dia minum air putih. Dia segera bangun dari pingsannya.


" Key kenapa aku?"


" sudah kamu duduk dulu kamu masih lemas jangan banyak bicara" ucapku menegakkan tubuhnya


" Key kamu sudah tau sekarang kenapa anak itu selalu menghantuimu?"


" iya Ran" aku meneteskan air mataku


" kamu kenapa Key? kamu baik-baik saja kan?"


" iya" jawabku lemas


Serasa tidak percaya bahwa orang yang aku cintai ternyata seorang pembunuh. Lantas apa maksud dibalik semua ini. Aku harus bisa menyelidiki Reza.


" apa jawabannya?" tanya Ranti mendesakku


" Ran rasanya aku tak sanggup untuk mengatakan ini semua?"


" apa Key aku penasaran"


" Ran kamu tau Reza ternyata ada dibalik ini semua. Dia yang telah membunuh anak kecil itu"


" apa?" Ranti menganga dia juga terkejut dengan ucapanku


" aku juga tidak tau motif Reza membunuh anak itu. Aku harus cari tau Ran bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi padanya"


" kamu harus hati-hati Key ini bahaya. Kamu harus jauhi Reza"


" apa kamu juga menyuruhku untuk menjauhi Reza? mana mungkin dia kekasihku"


" aku tau tapi alangkah baiknya jika kita waspada terhadapnya" ucap Ranti menghentikan langkahku


" lalu kita harus bagaimana Ran?"


" kamu harus jaga jarak dengannya kalau ada apa-apa kamu langsung telpon aku" ucap Ranti sembari ketakutan


Aku juga merasakan hal yang sama. Aku takut gundah juga gelisah rasa tidak percaya yang semakin besar di pikiranku. Aku benar-benar masih tidak mempercayainya. Mana mungkin Reza yang aku kenal baik ternyata seorang pembunuh.


Aku memejamkan mataku kulirik Ranti sudah tidak kuat menahan mata lelahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" kukuruyukkkkk"


terdengar suara ayam yang membangunkanku. Aku melirik jam ternyata sudah jam 6 pagi. Aku segera membangunkan Ranti kita bersiap-siap pergi ke kantor.

__ADS_1


" selamat pagi Bu Keyza" ucap para karyawan disana


" selamat pagi" ucapku sambil tergesa-gesa menuju ruanganku


Aku meletakkan tasku dibatas meja kulihat ponselku ada beberapa panggilan dari Reza. Aku segera menelepon balik padanya.


" halo Rez"


" halo Key hari ini aku ijin tidak masuk ya kepalaku sakit"


" kamu sakit? ya sudah istirahat ya"


Aku menutup teleponnya tapi aku masih ragu kalau dia beneran sakit. Aneh sekali rasanya kemarin dia tidak apa-apa kok sekarang tiba-tiba sakit. Bahkan hal yang besar saja aku tidak pernah tau. Aku memang tidak begitu mengenal dalam tentang latar belakang dia. Walaupun kita sudah mempunyai hubungan yang sudah berbulan-bulan. Aku masih belum tau jelas mengenai keluarga dari Reza. Hanya Bi Siti yang aku kenal darinya. Dia adalah satu-satunya orang yang tinggal di rumah Reza. Setiap aku bertanya tentang orang tuanya dia selalu mengalihkan pembicaraannya. Sampai sekarang aku masih belum bisa mengorek informasi tentang keluarganya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Reza. Setelah pulang kerja nanti aku akan menjenguknya dan melihat apa yang terjadi disana. Mudah-mudahan kali ini aku bisa mendapatkan informasi yang jelas dari Bi Siti. Aku akan mencoba mencari tau darinya sedikit demi sedikit.


Sepulang dari kantor aku langsung menuju ke rumah Reza. Aku berniat untuk menjenguknya sekaligus mencari informasi sedikit demi sedikit. Barangkali aku bisa menemukan jawaban walau hanya sedikit saja. Aku benar-benar penasaran kenapa dia tega menghabisi nyawa anak itu.


tapi rasanya aneh jika aku percaya terhadap anak itu


Aku benar-benar bingung saat ini


Aku mencintainya tapi disisi lain aku mengetahui keburukan tentang dia


Aku melajukan mobilku sekencang kencangnya aku ingin segera sampai disana.


" tok tok tok"


" iya sebentar" aku mendengar Bi Siti menghampiri dan membukakan pintu


" Bi Rezanya ada gak?" tanyaku padanya


" badannya agak demam dia lagi istirahat Non mari saya antar ke kamar" Bi Siti mengantarkan aku ke kamar Reza


Melihat sekeliling rumah Reza bulu kudukku merinding. Aku benar-benar berada di rumah yang sangat aneh. Aku merasa rumah ini serasa berat dan gelap. Aku mempercepat langkahku ke dalam kamar.


" Rez kamu sakit?" aku mendekatinya


" iya Key badanku sakit semua"


Aku memegang keningnya


" kamu demam Rez kita ke rumah sakit ayo" ajakku


" enggak aku gak apa-apa" jawabnya


" tapi badan kamu panas sekali, ayo kita ke dokter Rez"


" aku minum obat di rumah saja Key beneran aku gak apa-apa"


" jangan bikin aku khawatir dong Rez"


" sudahlah Key aku benar-benar gak apa-apa paling cuma kecapekan saja"


" ya sudah kamu istirahat aku keluar dulu ya"

__ADS_1


Aku meninggalkan Reza beristirahat aku keluar menemui Bi Siti yang sedang ada di dapur.


" Bi sini dong duduk sama aku"


" iya Non ada apa?" tanya Bi Siti


" Bi Bibi sudah berapa lama kerja disini?"


" sudah hampir 10 tahun ini Non kenapa ya?" tanya Bibi bingung


" Aku cuma ingin tau saja kok Bi. Terus kalau boleh tau orang tua Reza dimana ya Bi?"


Kulihat wajah Bi Siti berubah menjadi seperti ketakutan.


" Bibi kenapa?"


" eh eh enggak apa-apa Non"


" Bibi takut tenang saja aku tidak akan menceritakan kepada siapapun kok Bi" aku mencoba untuk merayunya


" itu Non orang tuanya sudah meninggal dunia"


" apa? dua-duanya?"


" iya Non tapi Non jangan sampai tanya masalah ini sama Reza ya soalnya dia paling anti kalau ditanyakan tentang orang tuanya. Memang hubungan mereka tidak baik dari dulu"


" oh Bibi tenang saja aku gak bakal cerita ke dia kok Bi" ucapku


" makasih ya Non"


" oh iya Bi kalau boleh tanya lagi aku ingin tau apa Reza pernah punya adik?"


Bibi ketakutan dan tidak mau menjawabnya


" engg enggak tau saya Non"


Aneh dia bekerja disini tapi tidak tau apa dia punya adik. Kalau dilihat dari sikapnya sepertinya dia ketakutan sekali. Wajahnya tiba-tiba pucat aku menghentikan pertanyaanku. Aku mencoba untuk mencairkan suasana. Tapi tetap saja aku melihat wajah Bibi masih ketakutan.


" pyiiiiarrrrr"


tiba-tiba aku mendengar suara pecahan piring.


" Loh Bi suara apa itu?"


" oh itu sudah biasa terjadi kok Non paling juga kucing" ucapnya


" apa? kucing? sudah biasa Bi?"


" iya Non" jawab Bi Siti mengabaikan suara tersebut


Lagi-lagi aku penasaran apa yang sedang terjadi disana. Suara itu jelas-jelas suara piring yang pecah. Aku beranjak dari tempat dudukku aku berjalan menuju suara itu. Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju ke arah dapur.


" jangan Non" ucap Bi Siti menarik tanganku

__ADS_1


__ADS_2