
Keesokan harinya Ranti datang ke rumahku dia memaksaku untuk melaporkan tentang apa yang sudah diperbuat oleh Reza. Tapi aku menolaknya aku tidak mau melihat Reza mendekam di dalam penjara.
"Sampai kapan kamu akan menutupi kejahatan ini?" tanya Ranti.
"Maafin aku Ran tapi aku benar-benar belum siap!"
"Semuanya tidak perlu kesiapan Key, kamu tau kan aku juga belum pernah siap untuk kehilangan Kevin. Dan kamu tau dia secepat ini meninggalkan aku!"
"Tapi Ran aku benar-benar tidak sanggup."
"Kamu harus sanggup apapun yang terjadi." ucapan Ranti membuatku benar-benar bimbang.
Ranti menyeret tanganku menuju kedalam mobil. Aku dipaksa untuk ikut ke kantor polisi.
"Boleh aku minta satu permintaan saja Ran."
"Apa?"
"Aku sendiri yang akan melaporkan Reza ke polisi tapi setelah dia berhasil menyembuhkan Vika."
"Apa? sampai kapan?"
"Tolong Ran aku ingin Vika sembuh."
Ranti hanya terdiam dengan perkataanku. Beberapa menit dia memikirkan apa yang telah aku minta. Kemudian dia membuka pintu mobil dan berkata,
"Oke tapi ketika kamu tidak menepati janjimu aku adalah orang pertama yang akan memasukkan kamu dan Reza ke penjara, walaupun kamu adalah sahabatku tapi aku akan lakukan ini semua demi keadilan."
"Apa kamu membenciku?"
"Sangat!!!" jawab Ranti.
"Ran apa kamu tidak ingat akan persahabatan kita?"
"Kalau saja aku sudah tidak mengingatnya mungkin hari ini aku sudah menyeretmu ke dalam penjara."
"Ran makasih ya atas pengertiannya."
"Semua yang aku lakukan demi Vika."
"Iya Ran aku tau makasih banyak."
Aku memeluk Ranti walaupun dia sama sekali tidak menghiraukanku. Aku akan tetap berterima kasih kepadanya dengan waktu yang telah dia berikan untukku.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reza menemui Vika setiap pagi seperti biasanya. Dia mengajaknya berkomunikasi sedikit demi sedikit. Kali ini Reza mengajakku untuk menemuinya. Aku duduk di kursi depan dengan melihat kegiatan mereka. Aku melihat sedikit demi sedikit Vika mulai melontarkan senyuman yang selama ini sempat hilang di hidupnya. Ini adalah pertama kalinya dia tersenyum kembali.
Reza hebat dia bisa membuat Vika kembali tersenyum.
Aku masih saja menyaksikan mereka dari kejauhan. Aku melihat Reza menyuapi Vika dengan sabar. Sementara itu Vika juga beberapa kali tertawa dengan candaan yang Reza berikan kepadanya. Melihat mereka tertawa bersama ada gejolak hati yang menentang disana. Entahlah apa yang telah aku rasakan saat ini. Aku tidak bisa mengartikan arti rasa yang sedang hinggap di hatiku. Seketika itu aku mulai merasakan ada yang menetes di pipiku. Aku segera mengusap air mataku yang tanpa sengaja membasahi pipiku.
Tuhan mana mungkin aku merasa cemburu kepada mereka.
Ini adalah hal yang mustahil!!!
Aku berusaha menyingkirkan perasaan yang sedang hinggap di hatiku saat ini. Ketika aku melihat Reza mulai membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di bibirnya. Rasanya hatiku ingin menjerit aku tak kuasa menahan rasa ini. Aku benar-benar tidak bisa melihat ini semua.
Tidakkkkkkkk.
Apa yang aku rasakan ini adalah rasa yang salah. Aku tidak mungkin cemburu, tidakkkkkkkk tidakkk tidakkkkkkkk!!!
Vika dan Reza masih saja melanjutkan suapan mereka. Tak sedetikpun waktu untuknya yang diluangkan untuk menoleh ke arahku. Dia masih saja sibuk dengan makanan mereka. Padahal Reza tau kalau pagi ini aku belum makan. Aku menghela nafas panjang dan membuang pandanganku yang dari tadi menyaksikan keasyikan mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Aku beranjak dari tempat dudukku dan mulai melangkahkan kakiku. Aku berharap Reza melihatku ketika aku pergi dari sini. Tapi semua itu hanyalah khayalanku. Tak ada sepasang mata yang melirik keberanjakanku dari sini. Aku ambil kunci mobil dan kunyalakan mesinnya. Aku melajukan mobilku dengan cepat dan segera menghilang dari sana. Aku menuju ke rumah Ranti.
"Tok tok tok."
Aku tak melihat Ranti berada di dalam rumah. Aku mengetuk pintunya kembali sampai aku mendengar ada tanda bahwa disana ada orang.
"Kreeekkkk."
"Key kamu kenapa?" walaupun aku tau bahwa sebenarnya dia marah kepadaku. Tapi aku tau kepeduliannya masih tersimpan untukku.
"Ran aku sudah tidak kuat." rintihku kepadanya.
"Maksud kamu?"
"Aku tidak sanggup melihat mereka Ran."
"Mereka siapa Key? coba jelaskan apa yang terjadi?"
"Aku tidak sanggup melihat Reza dengan Vika Ran." jelasku.
"Maksud kamu? kamu cemburu?" tanya Ranti.
"Mungkin!" jawabku.
"Dasar aneh! kamu sendiri yang menyuruh Reza melakukan itu semua. Terus tiba-tiba kamu bilang seperti ini. Kamu ini memang sudah gila." ucap Ranti.
__ADS_1
"Iya aku gila Ran lebih gila dari Vika!"
"Syukurlah kalau kamu mau mengakuinya sekarang."
"Ran aku serius!" bentakku!
"Key aku sudah tidak bisa berpikir jernih tentang siapa kamu? mau kamu apa? dan sekarang kamu datang kepadaku bilang kalau kamu sudah tidak kuat. Aku bisa apa Key sementara semua saran yang aku berikan semuanya kamu tolak! Bahkan ini semua adalah maunya kamu."
"Please Ran bantu aku!"
"Key mau ngebantuin dengan cara apa lagi? Semua bantuan yang aku kasih kamu tolak sia-sia!"
"Tapi Ran aku bingung saat ini dengan apa yang akan aku lakukan?"
"Kamu duduk saja biarkan semuanya mengalir seperti adanya."
"Rannnnnnti maksud kamu apa?"
"Aku sudah lelah Key, lelah dengan kebodohan kamu yang selama ini kamu lakukan. Semuanya yang kamu lakukan adalah hal yang bodoh!"
"Iya aku memang bodoh Ran tapi kamu gak bakalan ngerti dengan hatiku!"
"Eh Key bukan aku yang gak bisa ngertiin kamu tapi kamu yang gak bisa bedain mana yang benar dan mana yang salah. Kalau masalah hati tau apa kamu Key? Aku sudah cukup menderita dengan hati. Awalnya orang yang aku cinta menikah dengan wanita lain. Dan sekarang kamu tau orang yang aku cinta meninggal di tangan pacar kamu!"
"Iya Ran maafin aku!"
"Kamu itu percuma minta maaf karena permintaan maafmu itu tidak akan pernah bisa mengembalikan semuanya!"
Aku terdiam sejenak dengan ucapan Ranti yang terlalu menyalahkanku. Memang semua ini salahku sampai-sampai aku tidak bisa menyadari bahwa semua yang terjadi adalah karena ulahku. Awalnya aku datang kesini untuk mencari sandaran tangisanku. Tapi aku salah disinilah tempat aku memahami semua yang telah terjadi.
"Sudahlah masalah Vika sama Reza biarkan saja toh kamu sendiri yang memintanya"
"Tapi Ran"
"Tapi apa? kamu takut Reza jatuh cinta sama Vika?"
"Apa?"
"Key kamu cemburu itu pertanda kamu takut kehilangannya."
"Aku tidak bisa mengendalikan emosiku ketika aku melihat mereka berdua Ran."
"Sama saja itu namanya cemburu!"
__ADS_1
"Apa iya aku cemburu sama mereka?"
"Jelas!"