
" halo kantor polisi"
Aku mendengar sedikit suara pengaduan Ranti. Aku melangkah meninggalkannya. Antara takut dan tidak rela jika Reza akan masuk ke dalam jeruji besi. Aku meninggalkan Ranti disana aku pergi ke dalam ruanganku.
"tok tok tok"
" masuk" sahutku
" maaf Bu ada tamu" kata Sinta
" siapa?"
" dari cabang PT Astra Otoparts" jawab Sinta
" oh iya suruh masuk" ucapku pelan
Kulihat seseorang yang gagah dia putih tinggi dan ramah.
" maaf Bu Keyza kenalkan saya Kevin"
" iya Pak silahkan duduk" ucapku
Kita membahas masalah pekerjaan yang sedang kita jadwalkan. Hari ini aku tidak bisa fokus pikiranku masih kacau dengan apa yang aku lihat kemarin. Apalagi sekarang Ranti melaporkan kejadian itu kepada polisi.
" bagaimana Bu apa bisa kita lanjutkan?" pertanyaan Kevin membuatku mengalihkan perhatian
" maaf Pak saya..."
" Ibu lagi ada masalah apa kita lanjutkan besok lusa saja? saya khawatir dengan keadaan Ibu"
" oh tidak apa-apa mari kita lanjutkan" ucapku
Kemudian kita melanjutkan pembahasan masalah projek yang sedang ditangani sekarang. Belum lama kemudian ada beberapa polisi yang datang dan membawa Reza. Aku segera keluar melihat apa yang terjadi.
Reza
maaf ini semua bukan maksudku
tapi kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya
Jika memang benar kamu terbukti bersalah. Entahlah apa aku bisa memaafkan kamu. Aku juga belum siap menerima bahwa kamu adalah seorang pembunuh. Aku memang sangat mencintai kamu tapi aku tidak mau melindungi seorang penjahat seperti kamu.
Rasanya aku tak tega melihatnya dibawa polisi. Tapi aku harus mencoba tegar dan berpura-pura tidak tahu mengenai semua ini.
" Reza kenapa kamu? apa yang terjadi dengan kamu?" aku berpura-pura untuk tidak mengetahui apapun
" Key tolong aku mereka pasti salah orang" ucap Reza berteriak
" sudah nanti bisa anda jelaskan di kantor" ucap salah satu polisi itu
Mereka membawa Reza dan telah menyegel rumahnya. Reza menjadi tersangka saat ini. Sesaat setelah Reza dibawa oleh mereka aku melihat anak kecil itu menampakkan dirinya di depanku dengan senyuman. Senyuman pertanda bahwa dia sedang bahagia. Aku melihat dia melambaikan tangan kecilnya dan berlari ke arah jalan sana. Aku tersenyum kepadanya aku senang ketika aku melihat dia telah lega karena orang yang selama ini membunuhnya telah tertangkap. Aku kembali ke dalam ruanganku, aku masih melihat Kevin menungguku disana.
" maaf ada sedikit gangguan" ucapku
" iya saya rasa semuanya telah selesai boleh aku meminta nomer hp Ibu?" tanya Kevin mengagetkanku
" nomor hp? buat apa?" tanyaku heran
" ehm maaf sebelumnya tapi apa kita boleh membahas masalah pekerjaan di luar jam kerja?"
" oh iya silahkan" aku segera memberinya kartu namaku
__ADS_1
Dia berpamitan kepadaku aku duduk di ruanganku dengan menangis. Aku sudah berusaha membendung air mataku tapi sekarang aku sudah tidak kuasa lagi untuk menahannya.
Tuhan
entahlah apa ini semua kenyataan?
aku benar-benar masih tetap tidak percaya akan hal yang dilakukan oleh Reza
tapi bukti itu telah menguatkan segalanya.
Mau tidak mau aku harus percaya.
" Key sabar ya kamu jangan terlalu larut, kamu boleh jatuh cinta tapi aku harap cintamu tidak buta akan aturan" ucap Ranti yang tiba-tiba menghampiriku
" iya Ran aku sudah ikhlas aku juga sudah melihat anak itu melambaikan tangannya dengan tersenyum kepadaku"
" apa? dia dimana?" tanya Ranti panik dengan celingukan di sebelahnya
" gak usah bingung gitu dia sudah pergi" jawabku
" kita pulang kerja nanti akan ke kantor polisi ya?"
" ngapain Key?"
" aku mau lihat kondisi Reza" ucapku
" kamu gak takut apa Key?" tanya Ranti
" hey gimanapun juga aku harus tau keadaannya dia masih pacar aku Ran"
" iya iya punya pacar mafia aja bangga" ledeknya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang dari kantor aku mengajak Ranti pergi ke tahanan. Ranti kelihatan sangat ogah menemaniku dia manyun saja sepanjang perjalanan.
" Ran jangan gitu dong"
" habis kamu aneh masih saja suka sama mafia"
" ini soal perasaan Ran bukan logika"
" logika yang bodoh" ucap Ranti
Tiba-tiba aku melihat ponselku berdering.
" iya halo"
" maaf dengan Bu Keyza?"
" iya benar dengan siapa?"
" ini Kevin"
" oh Pak Kevin iya ada yang bisa saya bantu?"
" oh enggak Bu saya cuma mau memastikan kalau nomor Ibu benar"
dasar aneh ni orang
" oh gitu" ucapku singkat
__ADS_1
" halo halo .. ha...Lo" aku berpura-pura untuk tidak mendengar suaranya. Aku segera menutup telponnya.
" kenapa sih Key gak jelas amat kamunya?"
" Kevin"
" Kevin siapa?" tanya Ranti
" itu pegawai dari perusahaan yang tadi hadir di kantor"
" oh" jawab Ranti
Kita telah sampai di kantor tahanan aku segera masuk ke dalam. Aku melihat Ranti masih terdiam di dalam mobil. Aku menghentikan langkahku dan balik ke mobil.
" Ran kamu gak turun?"
" ogah"
" segitunya ya kamu" ucapku jengkel dan kembali ke dalam kantor tersebut.
" Pak saya mau ketemu dengan Reza?"
" sebentar-sebentar Ibu tunggu disitu dulu"
" iya Pak"
Setelah beberapa menit aku melihat Reza keluar dengan dua orang petugas yang mendampinginya.
" Rez kamu gak apa-apa?" tanyaku
" gak apa-apa Key kamu kesini sendirian?"
" iya aku khawatir dengan keadaan kamu. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu kok kamu ada disini?"
" Key aku juga belum tau kenapa aku dibawa kesini, katanya aku terjerat kasus pembunuhan. Ada mayat di rumahku aku juga tidak tau siapa yang melakukannya" ucap Reza
Masih saja dia tidak mengakui perbuatannya. Jelas-jelas dia yang telah melakukannya kenapa dia tega membohongiku. Kalau berbohong saja dia bisa dengan mudah melakukannya. Apalagi dengan yang lain aku benar-benar takut dengannya.
" Rez emangnya kamu gak tau apa-apa soal ini lalu kenapa kamu sampai ditangkap?"
Aku bisa melihat dengan jelas wajah Reza yang menyimpan rahasia besar. Aku menatap matanya dia tidak berani menatap mataku. Aku mencoba untuk menatap matanya.
" Rez coba jujur sama aku apa kamu pelakunya?"
" Key mana mungkin aku melakukan ini semua kamu harus percaya sama aku Key" Reza mengatakan dengan nada tinggi. Aku semakin ketakutan menghadapi dia sekarang. Aku terdiam dan sesaat petugas itu telah membawa Reza masuk ke dalam. Aku keluar menuju mobil yang masih terparkir disana. Aku masuk mobil dengan wajah lemas.
" Key gimana? sudah ngaku dia?"
Aku menggelengkan kepalaku
" lalu kita harus gimana?"
" aku juga bingung Ran aku masih tidak percaya dengan semua ini"
" sabar ya Key aku akan doain kamu supaya kamu bisa melupakan Reza"
" apa maksud kamu Ran?????"
" iya iya maaf Key tapi masak iya sih kamu pacaran sama seorang pembunuh" tetap saja Ranti meledekku
" Ran aku tau tapi aku mencintainya sebelum aku tau kalau dia pembunuh"
__ADS_1