Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Buronan


__ADS_3

Pagi ini aku dengan Ranti berangkat ke kantor. Pikiranku masih saja tidak bisa profesional sehingga sebagian pekerjaanku harus terbengkalai.


" tok tok tok"


" masuk"


Aku melihat Sinta menghampiriku.


" Bu di depan banyak Polisi yang sedang mencari Pak Reza. Pak Reza melarikan diri dari tahanan" ucap Sinta


Sebenarnya aku sudah mengetahui hal ini. Tapi aku berpura-pura untuk tidak tau seolah-olah aku belum mengerti apapun. Kuhampiri mereka dan kukatakan padanya bahwa kita semua tidak tau kalau Reza melarikan diri.


" Anda adalah orang terdekat Pak Reza, apa anda benar-benar tidak tau bahwa dia melarikan diri dari tadi malam?" salah satu darinya menyodorkan aku pertanyaan seakan-akan menuduhku. Aku merasa gugup tapi aku berusaha menutupi semuanya dengan nada santai.


" maaf Pak saya memang dekat dengannya tapi saya benar-benar tidak tau kemana dia" ucapku dengan berusaha menutupi kepanikanku.


Ranti menggenggam tanganku erat dia sangat ketakutan.


" saya mohon kerjasama dari Ibu karena Reza adalah orang yang membahayakan" tambahnya sambil meninggalkan aku disini.


Aku benar-benar takut dengan ucapannya tersebut. Dia membahayakan tapi kenapa aku tidak rela jika dia tertangkap lagi.


" Kamu sudah gila ya? kamu mau masuk sel demi melindungi kekasih buronanmu itu?" Ranti memojokkanku


" Ran sebenarnya aku juga takut tapi bagaimana lagi aku gak bisa mengatakannya saat ini"


" biar aku saja yang mengatakannya"


" jangan Ran aku mohon "


" kenapa?"


" aku bingung"


Aku duduk di bangku dengan perasaan kacau. Ranti tetap saja bersikeras untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Aku sebenarnya juga takut karena telah menyembunyikan keberadaan seorang penjahat. Tapi aku masih punya alasan untuk menahannya di rumahku sendiri. Ini bukan tentang cinta tapi tentang siapa anak itu sebenarnya.


" Key maafin aku ya tapi aku berharap kamu dapat mempertimbangkan lagi dengan keputusanmu"


Ranti meninggalkan aku sendiri disini aku menangis. Aku masih belum sanggup jika aku harus jujur ke Polisi itu. Bagaimana jika perusahaanku akan berpengaruh jika mereka tau akulah yang telah menyembunyikan Reza.


" aggggkkkk"


aku melemparkan batu kecil yang berada di depanku.


" aowwww" aku mendengar suara rintihan disana. Aku mendongakkan kepalaku kulihat Kevin sudah berada disana. Dia mengelus kepalanya yang terkena lemparan batu dariku.


" Kevin? maaf aku tidak sengaja"


" kamu kenapa? kamu nangis ya?" tanya dia yang sok akrab denganku


" enggak" aku berusaha mengusap air mataku


" jangan bohong itu mata kamu masih merah "


Aku menundukkan kepalaku


" tadinya aku kesini mau bahas masalah tander kita tapi melihat keadaan kamu sekarang mungkin lain kali saja ya"


" oh tidak apa-apa sekarang saja" aku berusaha untuk tegar


Aku mengajaknya masuk ke dalam ruanganku. Setelah selesai berdiskusi dengannya dia berpamitan pulang. Belum keluar dari ruanganku dia mengangkat telepon.

__ADS_1


" halo Pak apa pembunuh itu melarikan diri? kok bisa?"


Aku mendengar suara teleponnya.


*kenapa dia bicara seperti itu???


gumamku dalam hati*


" ehm maaf kamu telepon dengan siapa? itu sih kalau boleh tau sih" tanyaku pelan


Aku melihat wajahnya berubah menjadi sedih.


" dari kantor Polisi kemarin orang yang membunuh adikku telah ditangkap tapi sekarang melarikan diri"


" deg" astaga ternyata anak kecil itu adik Kevin. Aku harus mendapat informasi tentang dia darinya.


" apa? adik kamu? dibunuh?"


" iya dia menghilang sejak sebulan yang lalu dan ditemukan dalam keadaan tewas dan yang mengerikan lagi dia korban mutilasi " ucapnya dengan meneteskan air matanya


Ternyata benar dia adalah adik dari Kevin. Ini tidak salah lagi aku harus terus mengorek darinya.


" astaga aku turut prihatin dengan kejadian ini"


" makasih"


Dia tersenyum kepadaku dengan berpamitan untuk pulang. Aku menahannya


" tunggu aku boleh tanya sekali lagi sama kamu "


" apa?"


" kalau boleh tau siapa nama adik kamu?"


jadi namanya adalah Damar.


Aku memutar tubuhku dan melihat ke arah jendela.


" deg"


Damar kini telah di depan jendela tersebut. Entahlah apa yang akan dia lakukan disana. Apa mungkin dia sedang mengamati Kakaknya yang barusan pulang meninggalkan tempat ini. Tapi aku belum tau kenapa Reza tega menghabisi nyawa Damar. Aku berdiri melangkah ke arah jendela tersebut. Kulihat wajahnya hitam pekat dengan luka goresan di sekitar wajahnya. Dia menangis air matanya mengalir dengan wujud darah. Aku sedikit takut melihatnya tapi aku kasihan dengannya. Dia menatap wajahku aku juga melihatnya dengan penuh darah. Tubuhnya kini bercucuran dengan darah segar. Merinding aku melihatnya dengan keadaan seperti itu.


" Damar"


Dia diam saja tak menjawab panggilanku. Mungkin dia heran kenapa aku bisa tau namanya.


" aku tau namamu adalah Damar" ucapku lagi


Dia masih menatap ke arahku


Kali ini bulu kudukku merinding menatapnya. Dia berjalan ke arah jalan dan melihat mobil Kevin yang sedang melaju. Sesaat dia menghilang dari depanku. Aku terkejut ketika melihat tubuhnya menghilang dalam sekejab.


" Key kamu lagi liat apa sih kok serius amat?" tanya Ranti yang sudah berada di belakangku


" kamu Ran masuk kok gak ketuk pintu?" tanyaku


" aku itu sudah ketok pintu kamu tapi gak ada jawaban ya sudah aku masuk saja"


" oh" jawabku singkat


" kenapa sih kamu Key? ayo makan" ajak Ranti

__ADS_1


" Ran sepertinya aku tau tentang anak itu"


" anak? yang mana? kamu itu kalau ngomong yang jelas. Aku itu kadang bingung sama kamu. Kamu itu bahas manusia atau hantu sih?"


" iya iya anak yang menghantuiku"


" oh hantu lagi? plis deh Key aku takut nih" Ranti merapat ke arahku


" ih kamu siang-siang gini takut" ledekku


" hey beneran Key kamu jangan ngomong yang aneh-aneh deh Key"


" tapi Ran aku mau ngomong sama siapa lagi kalau bukan sama kamu"


" iya iya kenapa anak itu?"


" dia namanya Damar"


" terus?"


" dia adik dari Kevin"


" apa?"


" ehek eghek"


" pelan-pelan dong kalau minum" ucapku ketika Ranti tersedak


" yang benar? Kevin yang barusan kesini itu?" tanya Ranti panik


" iya"


" astaga Key gawat ini gawat"


" kenapa?"


" kalau Kevin tau Reza pembunuhnya hancur perusahaan kamu"


" iya juga sih tapi bagaimana lagi?"


" jangan sampai dia tau kalau pembunuhnya adalah pacar kamu"


" iya Ran kamu bantuin aku ya"


" eh Key ngomong-ngomong Kevin orangnya cakep" ucap Ranti. Aku mengernyitkan dahiku heran mendengar pujian Ranti.


" tumben kamu tertarik sama cowok?"


" heh aku masih normal kali"


" Seumur hidupku aku belum pernah liat kamu pacaran"


" iya itu bukan berarti aku suka sejenis dong, ih amit-amit"


" iya iya kenapa kamu suka sama dia?"


Ranti hanya senyam-senyum dengan sendirinya.


" dasar gak jelas kamu Ran" ledekku


" sepertinya aku memang tertarik sama dia. Tapi kira-kira dia suka gak ya sama aku" ucap Ranti

__ADS_1


" jelas enggaklah kamu orangnya kecowokan ha ha ha"


" ihhhhh dasar kamu Keyyyy jahat" ucapnya aku berlari keluar


__ADS_2