Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
curiga


__ADS_3

" Bi katakan padaku apa benar Reza adalah orang yang telah membunuh anak itu?"


" Non Bibi takut"


" tolong jujur sama aku Bi kenapa Bibi masih mau tinggal dengan Reza?"


" ini semua karena Bibi sayang sama Reza"


" bohong!"


" benar Non Bibi sudah menganggap dia seperti anak Bibi sendiri"


" lalu dulu Bibi pernah bilang kalau dia adalah pembunuh"


" iya Bibi tau Reza adalah seorang pembunuh tapi Bibi yakin dia mempunyai alasan tertentu untuk itu"


" lalu apa Bibi tidak takut kepadanya?"


" sama seperti Non Keyza sendiri, buktinya Non juga masih tetap berpacaran dengan dia"


Aku terdiam ketika mendengar ucapan Bi Siti.


iya sama seperti aku


aku masih saja berhubungan dengan Reza


walaupun aku tau dia adalah orang yang berbahaya


" kalau boleh tau kenapa Non Keyza masih melindungi Den Reza?" pertanyaan Bi Siti membuatku tidak bisa menjawabnya. Aku sendiri bingung dengan hatiku.


" sama seperti jawaban Bi Siti aku juga sudah terlanjur menyayanginya Bi walaupun aku sendiri sebenarnya takut jika dia bertindak jahat kepadaku"


" kita harus yakin bahwa dia akan berubah Non"


" iya Bi Keyza pamit ya Bi" ucapku sambil meninggalkan rumah Bi Siti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Keyza kamu darimana nak?" tanya Ibuku yang sudah menungguku di ruang tamu


" dari rumah teman Bu" jawabku


" sini Ibu sama Bapak mau bicara sama kamu"


Aku segera duduk di samping mereka.


" nak sebentar lagi kita akan pulang ke kampung. Kita sebenarnya tidak tega meninggalkan kamu sendiri. Ibu ingin kamu segera menikah nak"


" apa? menikah itu tidak gampang Bu" jawabku terkejut


" katanya kamu sudah punya pacar, apa dia tidak mau menikahi kamu?"


" bukan begitu Bu tapi Keyza masih belum siap"


" tapi Key tolong turutin permintaan Ibu"


" tapi Bu Keyza minta waktu untuk berpikir tentang pernikahan ini"


" Jujur saja Ibu lebih suka kamu menikah dengan Kevin"


" apa Kevin? dia itu teman aku Bu dia juga...."


" juga apa? apa dia sudah punya pacar?'"


" aku tidak tau Bu"


" kalau dilihat-lihat sepertinya dia suka sama kamu" ucapan Ibu membuatku terbelalak

__ADS_1


" mana mungkin Bu dia dia....


Ucapanku terhenti ketika aku teringat bahwa Ranti mencintai Kevin.


" Ibu jangan mengada-ada deh Keyza itu sudah punya pacar Bu"


" lalu kapan kamu mau mengenalkan dia sama kita?"


" ehmmm nanti kalau waktunya sudah tepat Bu"


Aku melihat wajah mereka kecewa denganku. Mereka memang sudah tua tapi sampai saat ini aku masih belum bisa membahagiakan mereka. Apalagi permintaan mereka sangatlah sulit saat ini. Mana mungkin aku mengenalkan Reza dengan mereka. Untuk saat ini dia tidak mungkin menikahiku. Dia masih buronan dan tidak mungkin jika aku mengajaknya ke rumah. Aku takut jika ada yang mengincarnya disini.


" kamu mikirin apa Key?" tanya Bapak


" ehmm tidak Pak cuma soal pekerjaan saja" ucapku


" ya sudah jangan terlalu dipikirkan ucapan Ibumu tadi" ucap Bapak membuatku sedikit lega


" Pak maafin Keyza ya Pak"


" sudahlah Bapak mengerti"


Aku memeluk tubuhnya yang sudah keriput. Terasa hangat di tubuhku air mataku menetes di pipiku. Rasanya ingin sekali aku memenuhi permintaan mereka. Tapi apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku mendengar ponselku berdering.


" Halo Key aku boleh minta tolong sama kamu, aku gak tau lagi harus minta tolong sama siapa?" ucap Kevin dengan terisak tangis


" Kevin kamu kenapa? kamu nangis? ada apa?" tanyaku panik


" kamu bisa datang ke rumah sakit?"


" Rumah Sakit? siapa yang sakit?"


" Mama aku Key"


" iya aku akan datang kesana, kamu perlu apa nanti aku bawakan"


" iya kamu kirim alamatnya aku akan datang" jawabku sambil menutup telponnya.


Aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit.


" kamu mau kemana Key ini sudah malam?"


" ak. aku mau ke Rumah Sakit Bu" jawabku


" kamu mau ngapain kesana siapa yang sakit?"


" ehm Mamanya Kevin Bu dia minta tolong aku untuk datang kesana aku juga tidak tau kenapa"


" kamu yakin berangkat sendiri kesana? apa tidak perlu ditemani?"


" tidak Bu Keyza sudah biasa kok Bu"


Kemudian aku berangkat menuju ke Rumah Sakit yang sudah dikirimkan alamatnya. Kalau dilihat dari alamatnya ini lumayan jauh. Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Aku khawatir dengan keadaan Kevin. Ini adalah pertama kalinya aku mendengar dia menangis. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang serius dengan Mamanya.


aghhhhhkkk


mikir apa sih aku


Setelah beberapa jam aku telah sampai di sebuah Rumah Sakit yang sangat besar. Aku segera mencari Kevin disana, di pojok sana aku melihat dia menangis dan duduk di bangku dengan seorang pria. Mungkin pria itu adalah Papa Kevin. Aku segera menghampirinya dan menanyakan kepadanya.


" Vin kamu kenapa?" aku bertanya lirih padanya


Tanpa menjawab sepatah katapun dia menangis dan memelukku. Aku tidak bisa menghindar dari pelukannya. Aku membiarkan dia menangis di pundakku.


" Key aku minta tolong sama kamu" ucap Kevin sambil mengusap air matanya


" iya Vin apa yang bisa aku lakukan?"

__ADS_1


" tolong kamu temui Mama aku"


" memangnya kenapa dengan Mama kamu?"


" dia sakit kanker stadium 4, dia sudah tidak akan lama lagi Key dan..."


" dan apa Vin?"


" dia meminta permintaan terakhir"


" apa permintaannya?" tanyaku panik


" dia ingin aku mengenalkannya dengan"


" dengan siapa?"


" dengan pacarku Key"


" lalu masalahnya dimana?"


" masalahnya pacarku sedang ada di Amerika"


" terus?"


" aku minta tolong sama kamu untuk jadi Vika sementara"


" Vika?"


" iya namanya Vika"


Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku demi membantunya. Aku membuka pintu kamarnya perlahan. Aku melihat Mamanya terbaring dengan bantuan alat-alat yang membuat dia sampai saat ini bisa bertahan.


" Ma "


Mamanya membuka matanya dan melihat keberadaanku di samping Kevin. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya yang lemah.


" i.. itu siapa Vin?"


" Ma dia di a dia Vika Ma"


Mamanya menoleh ke arahku dengan menatap wajahku. Rasanya aku tidak berani untuk menatapnya rasanya aku sangat berdosa sekali karena telah membohonginya. Dia menarik tanganku dan menyatukan dengan tangan Kevin. Aku sangat terkejut melihat sikapnya.


" Vika berjanjilah kepada Mama, untuk tidak meninggalkan Kevin dalam keadaan apapun" ucapannya membuatku sangat terkejut. Mana mungkin aku bisa berjanji dengannya sementara aku tidak ada hubungan apapun dengannya.


" i. i.. iya Tante" jawabku dengan terpaksa


" Mama sudah tidak akan lama lagi mendampingi Kevin, jadi Mama titip Kevin sama kamu ya tolong dampingi dia sampai akhir hayat kamu" ucapannya membuatku semakin takut. Takut kalau aku tidak bisa menepati janji ini. Janji ini terlalu berat untukku walaupun aku tau ini hanyalah sebuah kebohongan. Tapi mana mungkin aku berbohong di hadapan orang yang akan meninggal.


" nak"


" i. i. iya Tante" aku menganggukkan kepalaku dengan berat. Rasanya aku ingin menolak tapi aku tidak tega melihat keadaannya. Sesaat kemudian dia melepaskan tanganku.


" tiiiiiiiiiitttttttttttttt"


" Mamaaaaaaa Maaamaaaaaa"


Kulihat Kevin memanggilnya dengan air mata yang berderai. Dokter menghampiri dan melihat keadaan Mamanya. Aku mundur selangkah dengan panik dan tak kuasa membendung air mataku.


" Mama kamu sudah meninggal dunia" ucap Dokter kepada Kevin.


apa?


ya Tuhan


Aku meneteskan air mataku kulihat Kevin memeluk tubuhnya dengan erat. Dia menangis tersedu-sedu aku tak tega melihat keadaan Kevin yang sangat terpukul. Aku menarik tubuhnya dan memberikan sandaran di bahuku.


" sabar Vin kamu harus kuat" ucapku lirih.

__ADS_1


__ADS_2