Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Kantor Polisi


__ADS_3

Siang itu aku bersama Ranti mendatangi kantor Polisi. Aku melaporkan semua kejadian yang telah dilakukan oleh Reza. Semua data yang sudah aku ucapkan telah direkap oleh Polisi tersebut. Kali ini aku telah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Rasa cemburu yang telah menguasai hatiku telah membunuh rasa sayang yang singgah di hatiku selama ini.


"Key kamu yakin sama keputusan kamu ini?" tanya Ranti tiba-tiba menghentikan langkahku.


"Iya Ran walaupun aku sendiri belum tau pasti ada hubungan apa Reza dengan Vika."


"Lalu kalau seandainya mereka tidak ada hubungannya? dan mereka hanya sekedar teman. Apa kamu tidak menyesal?"


Pertanyaan inilah yang membuatku sedikit ragu dalam mengambil keputusan. Tapi niatku sudah bulat, rasanya tidak mungkin jika aku menelan ludah ku sendiri. Lagipula yang aku lakukan ini demi ketenangan hidupku sendiri agar terhindar dari teroran hantu yang selalu membenciku. Mungkin inilah satu-satunya jalan agar aku bisa hidup tenang.


"Key aku sedang bertanya padamu?" tanya Ranti sambil menepuk pundakku.


"Apapun yang terjadi mungkin ini yang terbaik untukku Ran, mungkin penderitaanku ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang kamu rasakan Ran." ucapku sambil memeluk Ranti.


"Ih kamu lebay Key aku tidak apa-apa kok!" elaknya sambil melepaskan pelukanku.


Ranti adalah orang yang tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depanku. Tetapi aku tau kalau dia memendam sebuah luka yang sangat mendalam. Keluar dari kantor Polisi aku langsung merenungi apa yang sudah aku lakukan. Ada sedikit rasa kecewa yang singgah di hati ini. Antara yakin dan ragu selalu bertabrakan di telingaku. Aku berusaha mengabaikan keraguan yang menyelimuti hatiku ini. Aku tekatkan niatku dan berusaha menarik nafas dalam-dalam agar semuanya berjalan baik-baik saja. Layaknya aku telah melaporkan sebuah kebenaran yang selama ini aku sendiri yang ikut menutupinya. Kejahatan yang selalu tertutupi oleh arti sebuah cinta. Tapi sekarang aku sudah menyudahi ini semua. Mataku sudah terbuka lebar yang bisa membedakan antara salah dan benar. Aku harus menyelesaikan ini semua apapun yang terjadi. Aku harus bisa meyakinkan hatiku demi kebenaran ini.


"Key kita cabut yuk?" ajak Ranti sambil menarik tanganku.


Akhirnya kita meninggalkan tempat itu dan kembali pulang ke rumah masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah aku masih kepikiran dengan apa yang telah aku lakukan. Rasanya ini semua mustahil tapi aku telah berhasil melakukannya. Aku melihat di depan rumah ada yang datang aku segera melihatnya. Ternyata Reza datang ke rumah, seketika itu juga aku gugup dan bingung sekali. Aku segera mengunci pintu dan bersembunyi di belakang pintu. Aku berpura-pura tidak ada di rumah semua lampu aku matikan begitu juga dengan ponselku.


"Key buka pintunya." teriaknya dari luar.


"Key aku tau kamu ada di dalam, tolong buka pintunya ada yang mau aku jelasin sama kamu." tambahnya lagi sementara aku masih saja bersembunyi di belakang pintu. Hatiku jadi semakin takut.

__ADS_1


"Key Keyza jangan buat aku untuk mendobrak pintu kamu!" ucapan Reza membuatku semakin ketakutan. Aku berlari dari belakang pintu menuju kamarku. Aku bersembunyi di bawah kolong kamarku. Aku mendengar Reza sudah mulai mendobrak pintu rumahku. Aku benar-benar ketakutan dan berusaha membungkam mulutku.


"Dooorrrr." entahlah apa yang jatuh di depan aku semakin takut dan menyembunyikan diriku. Aku mendengar langkah Reza sudah mulai memasuki rumahku.


"Key dimana kamu?" teriak Reza sambil marah-marah.


Aku benar-benar ketakutan dan aku sudah tidak bisa membendung air mata ini. Aku seperti dikejar oleh penjahat.


"Key keluar atau.....?" ucapan Reza yang terhenti membuatku semakin tidak karuan.


"Keyza ngapain kamu bersembunyi di rumah kamu sendiri? aku tidak akan menyakiti kamu!" ucapnya sambil berteriak.


Aku masih saja bersembunyi dan kini Reza sudah masuk ke dalam kamarku. Rasanya aku sudah berada di ujung tombak. Aku sudah tidak bisa menyembunyikan dirimu darinya.


"Keluar Key aku tau kamu berada disana?" teriak Reza sambil menyeretku.


Aku menangis terisak-isak dengan wajah yang sangat ketakutan.


"A.. a aku."


"Key coba lihat wajahku!" tarik Reza.


Aku masih saja menundukkan wajahku dan tidak memandang Reza. Ketakutan yang telah merajai hatiku semakin membuatku terpenjara.


"Apa yang kamu takutkan dariku?" tanya Reza sambil membentakku.


"Aku aku.. " masih saja aku tidak bisa mengeluarkan ucapan dari mulutku.


"Jawab Key." bentak Reza lagi.

__ADS_1


Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka mulutku. Aku ucapkan kata-kata dari mulutku satu per satu. Ternyata Reza masih belum mengetahui bahwa aku telah melaporkannya kepada polisi. Dia masih menganggapku sebagai kekasihnya. Perlakuannya membuatku semakin tak berdaya. Antara benci dan cinta yang baru saja aku kuburkan dalam-dalam. Dia mulai menggalinya lagi secara perlahan. Entahlah kenapa aku bisa terombang-ambing seperti ini. Hatiku terasa gundah mendengar kata-kata yang terucap dari mulutnya. Ucapan cinta dan bisikan rindu yang dia lontarkan di telingaku membuatku semakin tidak karuan. Aku segera menyadari apa yang telah aku lakukan ini, aku mulai membangkitkan diriku dari kekacauan cintaku ini. Bukankah tadi aku sudah bersepakat dengan hatiku sendiri untuk melupakannya dan mengubur dalam-dalam tentang rasa ini.


"Aghhhhhkkk." aku lepaskan pelukan Reza yang masih saja meletakkan tangannya di bahuku.


"Key apa yang terjadi denganmu?" pertanyaan Reza membuatku sadar akan siapa dirinya sekarang.


"Rez aku mau kita mengakhiri hubungan kita." ucapku.


"Apa maksud kamu?" Reza terbelalak mendengarku mengatakan hal itu.


"Iya kita putus!"


"Apa-apa'an kamu Key? jangan gila kamu!" Reza marah kepadaku.


"Aku serius." ucapku sambil membendung air mataku.


"Kamu cemburu sama Vika? aku tidak ada hubungan sama dia. Hubungan kita sebatas perjanjian aku sama kamu."


"Ini bukan tentang perjanjian Rez tapi aku sudah tidak bisa berhubungan dengan pembunuh."


"Apa maksud kamu?"


"Sudahlah Rez ini bukan waktunya kamu mengelak dari kebenaran yang sedang kamu sembunyikan." ucapku.


"Lalu apa mau kamu Key?"


"Aku mau kita putus!"


"Okay kita putus asal kamu tau kamu pasti akan menyesal telah membuat keputusan ini."

__ADS_1


Akhirnya aku berhasil mengusir Reza dari rumahku. Dia meninggalkanku dengan amarah yang memuncak. Aku sempat ketakutan melihat wajahnya seperti terbakar rasa emosi. Aku mengunci pintu kamarku yang kebetulan masih utuh. Pintu rumahku telah didobraknya hingga semua berantakkan. Aku meneteskan air mataku, aku menangis tersedu-sedu. Aku memang telah mengusirnya tetapi aku sendiri tidak tau apa yang sedang aku rasakan. Kenapa terasa sangat sedih sekali hati ini mendengar jawaban dari mulutnya.


__ADS_2