Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Kepergian Ranti


__ADS_3

Sedikit ada penyesalan setelah kepergian sahabatku dari rumahku. Bahkan sekarang di kantor pun dia sudah tidak mau menatap wajahku. Hanya sebatas urusan masalah pekerjaan yang menghubungkan hubungan kami yang sedang tidak baik. Ini hanyalah salah paham hanya saja dia sudah tidak mau mendengar penjelasan dariku. Bahkan sedikit saja dia sudah tidak mau mendengar penjelasannya. Kini aku hanya berpasrah agar dia tau hal yang sebenarnya. Aku tidak mungkin memaksakan kehendak darinya. Aku sudah berusaha keras untuk menjelaskan hal yang sebenarnya tapi tetap saja nihil.


" kamu kenapa Key masih belum baikan sama Ranti?" tanya Reza


Aku menganggukkan kepalaku


" ya sudah kamu biarkan saja gak usah terlalu dipikirkan kayak gak ada teman lain saja, disini kan masih ada aku" ucap Reza mencoba membuatku tenang


kehilangan dia sama saja aku hampir kehilangan nyawaku. Ranti adalah satu-satunya sahabatku yang mengerti bagaimana diriku. Lalu dengan siapa lagi aku akan bercerita tentang mataku yang selalu membuat aku terganggu.


" Key kamu gak kenapa-kenapa kan?" Reza memperhatikan aku yang masih bingung


" iya Rez, aku mau buat kamu jadi yang lain biar kamu bisa berkeliaran, masak kamu di rumah mulu"


" lalu aku mau kamu apain?"


' kamu harus merubah penampilan kamu juga wajah kamu"


" gimana caranya aku bisa merubah wajahku?"


" yah paling gak kamu pakai kacamata atau apa gitu"


" ehm aku akan bersembunyi di lain tempat Key, gak enak juga aku disini terus apalagi kita belum menikah apa kata orang nanti"


" kamu mau sembunyi dimana lagi?"


" entahlah Key yang jelas aku akan mencari tempat yang aman biar aku gak disini?"


" kamu mau pergi juga meninggalkan aku?"


" Key kita itu serumah dan kamu wanita aku laki-laki. Apa jadinya jika aku khilaf terus aku apa-apain kamu?"


" ihhhhh amit-amit"


" mangkanya aku akan pindah dari sini"


" terus kamu mau kemana?"


" entahlah Key"


Aku benar-benar terpukul mendengar Reza akan meninggalkan aku juga. Rasanya rumah ini sepi tanpa mereka. Aku merasa sangat kehilangan ketika Ranti telah meninggalkanku begitu juga Reza yang akan meninggalkan rumah ini juga. Tapi bagaimanapun juga dia memang tidak mungkin tinggal disini selamanya. Bagaimana jika orang tuaku tau jika aku tinggal serumah dengan laki-laki. Mereka pasti akan mengira bahwa aku ini wanita rusak. Mereka juga pasti akan kecewa jika melihat anaknya menyembunyikan seorang pembunuh yang sekarang menjadi buronan.


" Key aku pamit ya kamu hati-hati jaga diri baik-baik" ucap Reza meninggalkan aku

__ADS_1


Ini tepat jam 12 malam dia meninggalkan rumahku. Memang dia masih menjadi incaran polisi. Kalau malam hari mungkin akan sedikit aman baginya. Sekarang aku harus kembali seperti semula aku sendiri dengan mereka. Mereka yang tidak pernah bisa dilihat dengan kasat mata. Cuma mereka lah satu-satunya temanku disini. Ranti kini telah meninggalkanku dengan kemarahannya. Jika saja Ranti meninggalkan aku bukan karena kemarahannya. Mungkin aku tidak akan merasakan kesepian seperti ini.


Ran


kenapa kamu tidak mau mendengar sedikit saja penjelasan dariku bahwa aku memang tidak punya hubungan apa-apa dengan Kevin


Rasanya percuma aku menangisinya aku rasa Ranti memang sudah tidak mau mendengarkan apapun dariku. Dia memang tidak pernah mencintai lelaki. Dan ketika dia telah mencintai laki-laki dia begitu menjaga hatinya agar tidak sakit hati. Tapi ini salah dia salah menilainya. Aku harus menghubungi Kevin untuk meminta tolong padanya. Aku segera mengambil ponselku yang berada di dalam kamar.


Tapi rasanya tidak mungkin jika aku menghubungi Kevin tengah malam seperti ini. Aku kembali menaruh ponselku di meja. Aku merebahkan tubuhku di kasur.


" Ting"


Terdengar suara dari arah belakang.


aghhhhhkkk


please tolong jangan ganggu aku kali ini saja...


Aku memejamkan mataku berusaha untuk tidak menghiraukannya.


" dorrrrrrrrr"


Seperti suara petasan yang meledak di dapur. Aku segera berlari ke arah belakang. Aku melihat semuanya baik-baik saja aku kembali memutar balikkan tubuhku.


Aku terkejut ketika aku melihat ada sosok makhluk gaib yang melintas di depanku.


" wettttt"


Bayangan hitam yang sangat besar dia terbang. Entahlah apa itu namanya baru kali ini aku melihat sosok makhluk yang sebesar itu. Apa nama sosok makhluk itu. Aku benar-benar terkejut melihatku menerobos atap rumahku. Aku melangkahkan kakiku dengan gemetar. Malam ini terasa sangat dingin tapi keringatku bercucuran di pipiku.


" hiiii"


Aku berlari ke kamarku dengan segera menarik selimutku. Kutarik selimutku hingga menutupi wajahku. Kupejamkan mataku dengan rapat seolah-olah aku tak ingin menyaksikan adegan mereka malam ini. Tapi naas tetap saja walaupun mataku kututup rapat tetap saja mata batin ini bisa melihat kejadiannya dengan sangat jelas.


" hiks hiks hiks"


Aku menangis aku kesal dengan ulah mereka yang selalu mengganggu tidurku. Kenapa kalian selalu tak pernah membuatku nyaman ketika matahari tenggelam. Apa yang kalian mau dariku.


Aku menggerutu di dalam hati


Aku berusaha memejamkan mataku kembali aku seakan tak punya waktu malam ketika aku tinggal di rumah ini. Rumah ini sangat sepi jauh dari perkampungan. Maklum rumah dinas ini memang terletak jauh dari jalan raya. Tiba-tiba aku merinding ketika aku melihat ada yang melintas di depanku.


dasar gak tau sopan santun lewat gak permisi

__ADS_1


" hiiii"


Aku terkejut ketika mendengar ponselku berdering. Aku beranikan diri untuk mengambil ponselku.


" halo"


" Keyza kamu baik-baik saja?" terdengar suara Ibu


" Ibu kenapa meneleponku malam-malam begini?" tanyaku manja


" Key Ibu tau ketika malam datang kamu pasti sering diganggu mereka kan?"


" Ibu aku jadi kangen sama Ibu" aku merengek pelan


" sama Ibu juga kangen sama kamu Key, kamu kapan pulang kampung?" pertanyaan Ibu membuatku ingin sekali menjenguknya


" Ibu aku gak punya banyak waktu untuk pulang kampung, pekerjaanku disini sangat banyak"


" iya Ibu mengerti bagaimana kalau Ibu dan Bapak yang kesana?"


" beneran Ibu mau kesini?"


" kenapa? kamu keberatan?"


" ehm aku senang sekali malah dengernya, maaf ya Ibu aku tidak bisa pulang malah Ibu yang mau jenguk aku kesini. Aku jadi merasa sangat berdosa sekali Bu"


" sudahlah yang penting kamu baik-baik saja disana"


" iya Bu Ibu juga jaga diri baik-baik ya disana. Kapan Ibu mau berangkat ke kota?"


" kalau besok bagaimana?"


" apa? besok?"


" iya kenapa kamu kok kaget seperti itu?"


" iya gak apa-apa Bu aku senang sekali dengarnya"


" ya sudah kamu istirahat lagi ya, ingat berdoa sama Allah karena cuma dia yang bisa menguatkan iman kita" nasehat Ibu membuatku semakin yakin


" iya Bu love you"


" love you too sayang"

__ADS_1


__ADS_2