
Reza masih tinggal ditempat persembunyiannya. Tidak lain dia masih tinggal di rumahku. Sudah berhari-hari dia bersembunyi disini. Tidak pernah keluar bahkan hal yang paling lucu adalah dia mengenakan baju cewek. Dia mengenakan bajuku ha ha ha. Lucu juga melihatnya dengan mengenakan baju cewek.
" Key kamu kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Reza melihatku berdiri di depannya
" kamu lucu kalau pakai bajuku"
" kamu ngeledekin aku ya? kamu beliin aku baju ya ini ada ATM aku kamu pakai" sambil menyodorkan kartu
" iya nanti kalau pulang kerja aku beliin" ucapku sambil menahan tawa.
" Rez sampai kapan kamu sembunyikan diri kamu disini? apa gak sebaiknya kamu menyerahkan diri dan menyelesaikan masalah kamu "
" Key hukumanku terlalu berat Key mana sanggup aku. Seumur hidup aku bakal masuk di jeruji besi. Apa kamu gak kasihan melihatku seperti itu?"
" emang kesalahan kamu seberat itu ya?"
" ya aku juga tidak tau Key. Aku tidak pernah melakukan apa-apa tapi mereka main hakim sendiri"
" Rez kalau kamu merasa tidak bersalah harusnya kamu berani dong" sindirku
" Keyyyy!!!" Dia membentakku dengan nada yang tinggi. Wajahnya berubah menjadi merah padam dia marah padaku. Aku menundukkan wajahku aku takut melihatnya seperti ini.
" maaf Rez" ucapku lirih
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Key kamu kenapa murung gitu?"
" Reza membentakku Ran"
" apa? usir saja dia biar tau rasa"
" Aku takut jika kita mengusirnya atau kita melaporkan dia. Dia akan membunuh kita" ucapku lirih
" ihhhhh ngeri Key" Ranti merengek
" Dia itu profesional Ran kita harus waspada "
" tumben kamu pinter Key" ucapnya.
Aku berangkat ke kantor dengan Ranti. Di tengah perjalanan aku melihat ada kecelakaan. Jalanan macet sekali mobil tidak ada yang bisa bergerak sama sekali.
" gimana nih Ran kita telat"
" kamu kan Bosnya kenapa panik" ucap Ranti
" ini masalah kedisiplinan Ran"
" iya aku tau lah kalau keadaannya kayak gini bisa apa kita?"
Sekilas aku melihat nyawa orang itu melayang ke udara. Kepalanya terlindas truk yang tersangkut di pohon besar. Aku juga melihat di atas pohon sana sedang merayakan hari besar. Entahlah hari apa yang sedang mereka rayakan. Mereka sangat ramai dan bergelantungan di atas pohon. Pohon yang tertabrak oleh truk itu. Sedangkan nyawa orang yang melayang tadi sedang diperebutkan oleh makhluk-makhluk ghaib itu. Ih merinding aku melihat kejadian itu.
" Key kamu liat apaan sih? kecelakaannya di depan bukan diatas?" tanya Ranti mengagetkanku
Aku menutup mataku dengan kedua tanganku. Rasanya sangat mengerikan melihat kejadian tersebut.
" hey Key kamu kenapa?" Ranti ketakutan melihat keadaanku
" Ran nanti saja ya aku jelasinnya"
" kamu pasti lihat hantu lagi ya? hiiii" Ranti menggelengkan kepalanya
__ADS_1
" tinnnnn tinnnnn tinnnnn"
Suara klakson mobil yang berada di belakangku memberikan isyarat bahwa sudah ada jalan. Aku segera melajukan mobilnya dengan perlahan. Kenapa disaat sepagi ini mereka menampakkan diri kepadaku. Kenapa gak malam hari saja sihhhhh.
Kita sudah sampai di depan kantor aku melihat kantor sudah sepi karena semuanya sudah masuk ke ruangannya masing-masing.
" maaf ya Bu Keyza saya terlambat" ucap Ranti meledekku sambil berlari ke arah ruangannya.
*dasar gak jelas
ucapku dalam hati*
Aku melangkahkan kakiku ke arah ruanganku. Kulirik Sinta sudah sibuk dengan pekerjaannya. Aku tersenyum dan segera membuka ruanganku. Aku terkejut ketika aku melihat Kevin sudah duduk didalam sana.
" Kevin? kok kamu sudah ada disini?"
" kamu lupa ya hari ini kita harus survey ke lokasi"
" astaga aku telat ya maaf ya" ucapku sambil terburu-buru mempersiapkan semuanya
" iya cepat perjalanannya agak panjang nih"
" iya bentar tadi itu ada kecelakaan di jalan jalannya macet apalagi hiiii aku melihat mereka yang bergentayangan" ups aku keceplosan
" apa maksud kamu? kamu bisa melihat hantu?"
" ehhmmnm"
" Key kamu beneran bisa melihat mereka?"
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
" maksud kamu?"
" apa kamu gak pernah melihat anak kecil?"
" anak kecil?"
apa aku harus cerita sama dia yang sebenarnya tapi aku masih belum mengenalnya terlalu banyak. Aku masih belum tau bagaimana sifatnya.
" iya Key adikku yang terbunuh" dia meneteskan air matanya
" Kevin sebenarnya aku pernah melihat dia"
" terus bagaimana sekarang Key? dimana dia Key?"
" Kevin sejujurnya dia sering menghantuiku" ucapku lirih
" menghantui kamu? kenapa? kenapa bukan aku yang dihantuinya?
kamu gak tau Vin kalau sebenarnya dia sering menghantuiku karena dia melarangku untuk dekat dengan Reza.
Reza adalah pembunuh adik kamu Vin.
" Vin andai saja aku bisa menukar mata ini aku akan tukar mata ini dengan jual rugi, aku juga tersiksa dengan keadaan ini Vin" ucapku
" Key aku ingin sekali ketemu sama dia"
" kamu bisa melihatnya sekarang"
" sekarang? dimana?" tanya Kevin
__ADS_1
" di balik jendela itu" aku menunjuk ke arah jendela
" mana Key mana?" Kevin berlari ke arah jendela
" disanalah dia sering menampakkan diri"
Aku mengajak Kevin melihat di balik jendela itu. Aku melihat Damar disana sedang menangis. Kevin masih kebingungan karena dia masih tidak bisa melihatnya.
" Key mana dimana?"
" Kevin kamu masih belum bisa melihatnya?"
" gak bisa Key"
" Vin coba kamu pejamin mata kamu sebentar aku akan coba untuk membantumu"
sesaat kemudian
" coba kamu buka mata kamu"
Kevin membuka matanya perlahan, dia melihat bahwa Damar sudah ada di depan matanya. Damar memeluknya Kevin menangis dengan jongkok. Mereka berpelukan dengan penuh air mata. Aku ikut meneteskan air mataku rasanya hatiku teriris ketika aku melihat mereka berdua saling hujan tangis.
Sesaat Damar berlari meninggalkan Kevin yang masih penuh dengan air matanya. Kevin berteriak memanggilnya
" damarrrrrrrrrr"
Damar masih tetap berlari meninggalkan Kevin. Kevin masih menangis dia sangat terpukul sekali.
" Vin sudahlah ikhlaskan saja"
" tapi Key"
Kevin memelukku rasanya aku benar-benar canggung. Tapi dia lagi sedih mau tidak mau aku harus memberikan sandaran di bahuku.
" Keyza?" Ranti melihat Kevin berada di pelukanku
Aku segera melepaskan pelukannya dan mengejar Ranti. Aku tidak mau Ranti salah paham dengan kejadian ini.
" Ran tunggu"
" Key kamu jahat"
" ini bukan seperti yang kamu lihat" ucapku sambil menghentikan langkahnya
" cukup Key aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri"
" tapi ini bukan seperti yang ada di pikiran kamu"
" Sudahlah Key aku mau pulang"
Ranti meninggalkan kantor dengan keadaan emosi. Dia benar-benar tidak mau mendengarkan penjelasan dariku. Aku mengejarnya dan meninggalkan kantor. Sesampainya di rumah Ranti mengemasi barang-barangnya.
" Ran tolong hentikan tolong dengarkan penjelasanku dulu"
" gak perlu ada yang dijelasin lagi Key aku sudah melihatnya"
" Ran tapi ...."
" sudah aku mau pergi dari sini" ucapnya sambil meninggalkan rumah.
Aku meneteskan air mataku.
__ADS_1