Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
jasad


__ADS_3

" hss hss hss"


Nafasku tersengal keluar dari gudang itu aku seakan tak percaya ada jasad mayat manusia disana. Entahlah apakah itu adalah mayat dari anak itu. Kalau dilihat dari postur tubuhnya memang seperti anak itu. Tapi kenapa? kenapa tubuhnya jadi korban mutilasi. Siapa yang telah tega memotong-motong tubuh anak itu.


Pertanyaan demi pertanyaan masih keluar dari dalam benakku. Aku harus bisa mengumpulkan hasil mutilasi anak itu. Tapi tidak sekarang aku harus mencari waktu yang tepat. Aku keluar dan masuk ke dalam rumah Reza. Aku melihat Reza masih tertidur sedangkan Ranti masih menungguku disana bersama Bi Siti. Aku segera menyeret mereka keluar dari rumah. Aku berbicara dengan mereka di teras depan supaya Reza tidak terbangun.


" ihhhhh apa'an sih kamu Key main tarik aja" ucap Ranti


" stttt Ran aku baru saja melihat potongan tubuh di tempat itu"


" apa?" Ranti terkejut dan tanpa menyadari bahwa suaranya terdengar oleh Reza. Aku segera menutup mulutnya.


" kamu bisa diam dulu gak? nanti kita ketahuan" ucapku lirih


Aku melirik ke arah Bi Siti, dia kelihatan sangat ketakutan.


" Bi coba Bibi jelaskan tubuh siapa yang berada di dalam sana? dan siapa yang tega membunuh anak itu?" ucapku kesal


" ehm maaf Non tapi Bibi diancam jika menceritakan ini semua"


" sudah Bibi gak boleh takut ini tentang nyawa seseorang Bi"


" tapi Non Bibi takut" ucapnya sambil menangis


" tolong Bibi bilang sama aku, aku akan bantu ungkap semua ini Bi"


" tapi"


" ayo Bi kita gak punya waktu banyak lagi"


" sebenarnya dia dibunuh disana Non sama....


" sama siapa Bi? apa benar ini semua perbuatan Reza?"


" i i i.. iya Non" Bibi menangis ketakutan


Astaga ternyata ini semua benar Reza orang yang selama ini menjadi kekasihku adalah seorang pembunuh. Rasanya aku benar-benar tidak percaya dengan hal ini. Ya Tuhan bagaimana sekarang aku. Apa yang harus aku lakukan apa aku akan lapor ke polisi. Sementara aku melaporkan kekasihku sendiri. Bagaimana jika Reza tau kalau aku yang menjebloskan dia ke sel tahanan. Apa mungkin aku akan melakukan ini semua. Rasanya aku benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan ini. Hatiku seperti teriris pisau yang sangat tajam.


" Key kamu mikirin apa?"


" Ran aku masih tetap tidak percaya"


" tapi kamu sudah tau kan siapa sebenarnya kekasih kamu itu, dia pembunuh dan kamu harus hindari dia. Kita harus laporkan ini semua ke polisi"


" jangan Ran" ucapku


" apa? sudah gila ya kamu"


" tapi Ran aku tidak tega melihat dia dipenjara" ucapku dengan meneteskan air mata

__ADS_1


" Key ini negara hukum kamu harus sadar akan hal itu"


" aku tau tapi apa kamu tega melihatku sedih"


" apa kamu masih mencintainya setelah kamu tau kalau dia seorang pembunuh?"


" aku gak tau Ran tapi aku bingung "


" Key dia pembunuh! dan dia berbahaya buat kamu bisa-bisa dia akan bunuh kamu di lain hari"


Aku memikirkan tentang maksud dari omongan Ranti. Sedikit terlintas kebenaran tentang apa yang dibicarakan oleh Ranti. Tapi jujur saja antara takut dan takut kehilangannya masih tersebit di hatiku.


" kamu masih bingung ya? tapi satu hal yang harus kamu tau kita harus lapor ke polisi!" ucap Ranti tegas


" jangan Ran aku mohon"


" lalu bagaimana dengan nasib mayat itu?"


" aku juga bingung Ran" aku sangat kebingungan dengan hal ini.


" Bi kita pulang dulu ya" Ranti menyeret tanganku ke dalam mobil.


Di tengah perjalanan kita memang pulang terlalu larut malam. Aku memejamkan mata di sepanjang perjalanan. Rasanya semuanya begitu beraneka ragam. Aku benar-benar tidak kuat jika melihat semuanya.


" Key kamu harus kuat aku akan mempercepat perjalanan kita" Ranti segera melakukan mobil dengan kecepatan yang tinggi


" Ran jangan ngebut-ngebut aku takut"


" iya sama saja" jawabku


" eh tapi Ran tunggu itukan anak itu Ran" aku menunjuk ke seberang jalan


" aduh Keyzaaaaa plissss deh gak usah bahas hantu lagi aku takut aku mau konsentrasi nyetir" ucap Ranti


" tapi itu anaknya disana Ran" aku masih saja menunjuk ke arah sana


" sudah biarkan saja besok kita urus lagi sekarang kita harus pulang aku takut Key, gila kamu" ucap Ranti


Aku menuruti saja apa perkataannya. Aku berusaha mengabaikan anak itu. Tapi jujur saja rasa penasaran masih menyelimuti hatiku. Sesampainya di rumah Ranti langsung menuju kamarku. Dia merebahkan tubuhnya di kasur. Dia langsung terlelap dalam tidurnya wajar saja aku melihat jam 1 malam. Aku juga merebahkan tubuhku dan memejamkan mataku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi sudah tiba aku langsung mandi dan bersiap-siap ke kantor begitu juga dengan Ranti.


" Key aku masih ngantuk" ucap Ranti manja


" ya sudah tidur saja aku mau kerja" ucapku


" hiiii disini sendiri ogah ah" jawab Ranti

__ADS_1


Aku tersenyum melihatnya yang penakut. Sesampainya di kantor aku melihat Reza sudah menungguku di kantor.


" Key tumben baru datang?" tanya Reza


Ranti ketakutan melihat Reza


" plis deh Ran jangan sampai kita ketahuan" bisikku padanya


" iya Rez aku kesiangan tadi bangunnya" ucapku


" oh kamu habis begadang ya?" Tanya Reza


*iya begadang di rumahmu


ucap Ranti dalam hati*


" gak sih Rez" elakku


Reza menggandeng tanganku rasa takut juga senang terlintas di benakku. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia akan membunuhku. Aduh mikir apa sih aku ini. Aku tau pasti ada alasan tertentu darinya. Aku berusaha untuk berpikir positif. Tapi melihat bukti itu aku benar-benar takut. Aku ragu dengan cintanya padaku. Melihat dia adalah seorang pembunuh aku benar-benar takut.


" kamu kenapa kok gugup sekali?" tanya Reza padaku wajahku memang kelihatan sangat ketakutan


" oh gak gak apa-apa kok" aku melirik Ranti dia melihat tanganku yang masih berada dalam genggamannya


" hiiii" Ranti menggelengkan kepalanya


Aku menarik tanganku hingga terlepas dari genggamannya. Reza melihatnya dengan heran. Dia menatap wajahku tajam hingga tak berkedip.


" kamu ini kenapa sih Key?" Reza bertanya padaku


" aku mau ke toilet Rez" ucapku sambil meninggalkan dia


Aku berlari sambil menarik tangan Ranti. Aku berpura-pura menuju toilet. Disana aku benar ketakutan. Bagaimana jika Reza tau kalau sebenarnya kita sudah tau siapa dia.


" Key kamu kenapa?"


" aku benar-benar takut sama Reza Ran"


" hey kalau bagaimana dengan potongan mayat di rumahnya? apa kita akan membiarkan dia membusuk disana?"


" aku bingung Ran"


" ini bukan soal kebingungan Key tapi pikirkan jasad anak itu, apa kamu gak kasihan melihat dia gentayangan terus?"


" lalu kita harus bagaimana?"


" kita lapor polisi sekarang!" ucap Ranti


" lalu kalau Reza tau bagaimana?"

__ADS_1


" kita samarkan nama kita"


__ADS_2