Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Ibu


__ADS_3

Hari ini aku menunggu di sebuah stasiun yang terletak sangat jauh dari rumahku. Aku sedang menunggu Ibu dan Bapakku yang sedang dalam perjalanan menuju kota. Hampir satu jam aku berdiri disini. Rasanya aku ingin sekali memeluk mereka yang lama tak menemuiku. Rasa rindu yang selalu menghantuiku ini telah tertata rapi di hatiku. Tinggal beberapa saat lagi rindu itu akan tercurahkan kepada mereka.


' tuuuttttttttttt'


Bunyi kereta api yang melintas dan berhenti tepat di depanku. Aku memasangkan kedua bola mataku dengan tajam. Aku lihat satu persatu dari mereka yang sedang turun dari kereta api. Masih saja aku belum menemukan keberadaan mereka. Kulongokkan kepalaku kesana kemari dengan sedikit berjinjit. Masih saja aku belum menemukan mereka. Entahlah mereka duduk di gerbong nomor berapa. Aku masih saja menunggunya disini. Kemudian aku melihat seorang wanita paruh baya dari arah tengah. Itu adalah Ibuku yang sedang berpegang erat dengan Bapak. Aku segera menghampiri mereka dengan setengah berlari aku menghampirinya.


" Ibu Bapak" aku sahut tangan mereka untuk kucium


" Keyza?" Mereka melihatku dengan tatapan senang


" ayo Bu Pak" aku gandeng tangannya menuju ke sebuah parkiran.


" Kita mau kemana Key?"


" mau ambil mobil Keyza Bu" jawabku


" Alhamdulillah kamu sudah beli mobil sendiri nak?" tanya Ibu senang


" Iya Ibu maafin Keyza ya yang tidak pernah cerita sama Ibu"


" tidak apa-apa sayang, kamu sekarang jauh lebih cantik dari yang dulu. Sudah beberapa tahun ini memang kita tidak pernah bertemu"


" Iya Ibu maafin Keyza sekali lagi ya Bu aku terlalu sibuk dalam mengurus pekerjaan"


" kamu bisa nyetir sendiri?" tanya Bapak


" iya Pak dulu kan Keyza sempat belajar waktu di kampung, iya walaupun itu mobil Om Riki sih " senyumku kecil


" Rasanya Bapak senang sekali melihat kamu yang sekarang, Bapak bangga sama kamu"


Aku memeluk mereka berdua. Rasa rindu yang selama ini aku pendam untuk mereka kini telah tercurahkan dengan indah. Hangatnya pelukan mereka yang masih sama seperti dulu aku rasakan. Ingin sekali aku kembali ke masa kecilku agar aku bisa memeluk mereka setiap hari. Aku membukakan pintu untuk mereka dan segera melajukan mobil ke arah rumahku.


" kamu tinggal sama siapa Key?" pertanyaan Ibu membuatku mengingat saat Reza masih bersembunyi di rumahku. Untung saja sekarang dia sudah keluar dari sana.


" Key?" Bapak memanggilku


" oh iya Pak Bu aku tinggal sendiri di rumah dinas, kebetulan aku menempati rumah dari Mess di kantor"


Mereka menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum kepada mereka.


Sesaat kemudian kita telah sampai di sebuah rumah.


" ini rumahnya?"


" iya Bu ayo masuk" aku membukakan pintu untuk mereka dan mengajak mereka duduk di sebuah ruang kecil.

__ADS_1


" Ibu sama Bapak istirahat dulu ya disini aku akan ambilkan minum dan makanan" aku berjalan ke arah belakang untuk mengambilkan mereka makan dan minum. Setelah aku kembali dari belakang aku melihat mereka berdiri melihat ke arah sekitar rumah.


" Ibu lihat apa?" tanyaku heran


" rumah ini terletak jauh sekali dari jalan dan disekitarnya pun sangat sepi, apa kamu nyaman tinggal disini?"


" iya Ibu rencananya memang aku akan beli rumah di simpang jalan raya tapi sayang sekali kalau rumah ini dibiarkan begitu saja" jelasku


" ya sudah kamu jangan terlalu menggebu-gebu dalam mencari uang, ingat semua itu hanya titipan nak. Kita bisa saja kehilangan semuanya dalam sekejab"


" iya Bu"


" gimana pekerjaan kamu kamu kerja dimana?"


" Keyza sekarang menjadi direktur di sebuah perusahaan besar Bu"


" apa? Direktur? kamu sekarang menjadi sukses nak"


" iya Bu maaf sekali lagi Keyza tidak pernah cerita sama kalian"


" lalu apa kamu masih saja sering dihantui oleh mereka?" pertanyaan ini adalah pertanyaan dimana aku sulit sekali untuk menjelaskannya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


" iya Bu" aku meneteskan air mataku kupeluk tubuh mungil Ibuku yang sudah mulai keriput.


" satu hal yang ingin Ibu tanyakan lagi nak?"


" apa itu Bu?"


" apa kamu sudah punya pacar?"


pacar?


mana mungkin aku menceritakan ini semua kepada mereka


aku memang sudah punya pacar


tapi apa pantas jika aku bilang bahwa pacarku adalah seorang buronan


dia seorang pembunuh.


" Key?"


" iya Bu ehm nanti aku pasti akan ceritakan semuanya sama Ibu ya, sekarang lebih baik Ibu istirahat dulu" aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan

__ADS_1


Aku berdiri meninggalkan mereka aku masuk ke dalam kamarku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku masih mendengar suara Ibu dan Bapak yang membicarakan tentang aku. Aku memang sudah sangat lama menjalin hubungan dengan Reza. Tapi mana mungkin aku mengenalkan dia kepada orang tuaku. Bagaimana jika mereka tau hal yang sebenarnya. Mereka pasti akan menentang hubungan kita. Keputusan yang terbaik adalah aku harus menyembunyikan identitas Reza dulu dari orang tuaku.


" Pak kasihan Keyza jika harus tinggal disini sendiri" ucap Ibu


" lalu mau bagaimana Bu? kita kan juga harus mengurus ladang di desa"


" iya sih Pak tapi apa gak sebaiknya Keyza kita bawa pulang saja"


" apa? lalu bagaimana dengan pekerjaannya dia disini dia kan sudah sukses Bu disini?"


" iya Pak tapi rasanya Ibu tidak tega melihat dia hidup sendiri di rumah yang jauh dari pemukiman seperti ini" ibu meneteskan air matanya


Hatiku terasa sangat teriris perih ketika mendengar isakan tangis Ibu. Aku sudah berjuang sejauh ini untuk meraih cita-citaku. Dan apa mungkin aku harus kembali ke desa bersama mereka.


" uhhhhhhggggg"


Aku benar-benar bingung mendengar ucapan Ibu. Hati seorang Ibu memang bisa merasakan bahwa aku kesepian disini. Tapi aku senang berada disini karena aku bisa meraih cita-citaku. Aku mungkin bisa meraih kebahagiaan ini tapi bukan kebahagiaan batin. Batinku tersiksa dengan keadaan ini lebih-lebih ketika aku tau bahwa orang yang aku cintai adalah seorang buronan polisi.


Aku memejamkan mataku berharap ketika aku melihat mentari pagi nanti aku sudah bisa tersenyum manis melupakan semua kesedihan ini. Tiba-tiba ketika aku melirik ke arah jendelaku kelambu-kelambu itu seakan tertiup angin kencang. Hawa dingin menyelimuti tubuhku.


sepertinya tidak ada angin kenapa kelambu itu bergerak sekencang itu.


Apa aku lupa menutup jendelaku?


Aku melangkahkan kakiku melihat ke arah jendela. Aku singkap kelambu itu untuk melihat jendela yang belum terkunci.


" astaga"


Aku melihat sosok hitam besar sedang berada tepat di jendelaku. Matanya sangat lebar dan menyala.


makhluk apa itu?


Aku melangkah mundur perlahan dengan hati berdebar kencang. Dia masih terus menatapku seakan aku telah memangsa anaknya.


" pergi kamu pergi" ucapku


Dia masih saja berdiri disana seakan dia meledekku atau tidak paham dengan bahasaku. Dia semakin mendekat ke arahku aku berlari ke atas kasurku kututupi selimut seluruh tubuhku. Setelah beberapa saat aku mengintipnya pelan.


" hhhhhhhhhehh syukurlah"


Dia telah pergi dari hadapanku.

__ADS_1


__ADS_2