Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Arti sebuah Rasa


__ADS_3

Aku benar-benar tidak bisa merasakan apa yang telah terjadi di dalam tubuhku. Yang aku bisa rasakan hanyalah lemas dan tidak berdaya. Rasanya tubuhku tidak bisa digerakan dan terasa sangat kaku. Aku melihat Reza kebingungan melihatku yang menjadi lemah. Dia membawaku dengan berlari ke arah yang aku sendiri tidak tau kemana. Aku hanya bisa melihatnya tanpa harus mengucapkan sepatah katapun. Lidahku sudah terasa kaku untuk berbicarapun terasa sangatlah sulit. Akhirnya kita menemukan sebuah gubuk yang sudah tua, Reza membawaku ke gubug itu dan kebetulan disana kita bertemu dengan seorang Bapak tua yang sedang duduk di belakang gubuk itu.


"Tolong Pak tolong." ucap Reza kepada Bapak tua itu. Bapak tua itu segera mendekat ke arahku dan menyuruh Reza untuk menidurkanku di atas sebuah kursi yang terbuat dari anyaman bambu.


"Ada apa nak? apa yang terjadi?" tanya Bapak itu sambil melihatku.


"Aku sendiri tidak tau Pak tapi tiba-tiba saja tubuhnya lemah dan tidak bisa berbicara." jawab Reza.


"Sudah kamu ambil air di dalam biar aku yang mengobatinya." ucap Bapak itu.


Reza segera berlari ke dalam mengambil air putih. Beberapa menit kemudian Reza keluar dengan membawa segelas air. Bapak itu menatap mataku, aku bisa melihatnya dengan jelas tapi aku tidak bisa mengatakan sesuatu kepadanya.


"Temanmu ini sedang dihinggapi oleh makhluk yang sangat jahat. Dia berasal dari pohon besar pinggir pantai. Kenapa kalian bisa sampai di tempat ini?" tanya Bapak itu.


"Ehm kita tersesat Pak." jawab Reza.


"Memangnya kalian mau kemana?" Bapak itu menyembur mukaku dengan air yang berada di dalam mulutnya. Seketika itu aku mulai bisa membuka mulutku dan mengeluarkan suara. Ternyata Bapak itu adalah seorang dukun sakti yang terkenal di daerah ini.


"Pak.. Terima kasih. " ucapku terbata-bata.


"Iya bukannya kamu tau kalau daerah ini tidak pernah dijamah oleh manusia. Ini adalah daerah terlarang dan bisa disebut dengan daerah wingit."


"Tapi Pak sebenarnya kita sudah mencari jalan keluar tapi kita tidak bisa menemukannya Pak." ucapku.


"Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari daerah ini semudah itu." ucapan Bapak tua itu membuatku merinding. Aku langsung mendekat ke arah Reza ketika aku melihat sosok makhluk yang besar berada tepat di samping Bapak itu. Bapak itu melihatku dengan terkejut.


"Loh kamu bisa melihat sosok yang berada di sampingku ini?" tanya Bapak tua itu kepadaku.


"Iya Pak temanku ini bisa melihat makhluk gaib." jawab Reza.

__ADS_1


"Itu artinya kamu harus mengikutinya agar kamu bisa kembali ke rumah kamu dan bisa keluar dari daerah ini."


"Apa?" tanyaku.


"Jangan takut dia adalah genderuwo jinak yang sudah menemaniku disini."


Ih rasanya merinding jika aku menatap wajahnya yang mengerikan. Reza berbisik kepadaku dan meyakinkanku. Akhirnya aku mengiyakannya dan berpamitan untuk pulang sambil mengikuti langkah sosok itu.


"Key kamu beneran sudah sembuh?" tanya Reza.


"Iya." jawabku singkat.


"Kita kemana ini Key lurus atau belok?" tanya Reza kepadaku.


"Iya kita lihat saja makhluk itu berjalan kemana?" ucapku lirih.


"Makhluk apaan Key aku tidak bisa melihatnya." jawab Reza.


Sampai pada suatu jalan kita dipertemukan dengan beberapa orang kampung yang sedang beraktivitas. Akhirnya genderuwo itu menoleh ke arahku sambil menunjuk ke arah lurus. Sampai disana dia menghilang dengan cepat. Aku yang mulai kehilangan jejaknya menoleh ke belakang dan samping. Dia benar-benar menghilang dan mengarahkan kepadaku jalan yang lurus.


"Key kamu nyariin apa?" tanya Reza.


"Dia sudah hilang Rez. "


"Loh kapan hilangnya kok aku tidak tau?"


"Bagaimana kamu bisa tau orang wujudnya saja kamu tidak bisa melihatnya." ledekku.


Tidak lama kemudian aku sudah melihat mobilku berada di depan mataku. Ini kejadian aneh bukannya kemarin mobilku berada di tengah hutan. Tapi kenapa sekarang berada di pinggir jalan ini. Aku langsung berlari menuju mobil dan melihat isi di dalamnya. Semuanya utuh bahkan ketika aku mencoba untuk menghidupkannya mesinnya langsung menyala tanpa ada masalah. Ini benar-benar tidak mungkin, rasanya semalam aku telah mencobanya berulang kali. Tapi mesinnya tidak bisa menyala. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam diriku. Pertanyaan demi pertanyaan timbul di pikiranku yang tidak bisa dinalar. Kemudian ada seorang bapak yang lewat di depanku. Aku segera menghentikan langkahnya untuk bertanya sesuatu kepadanya.

__ADS_1


"Pak permisi mau tanya." ucapku sambil menghadang jalannya. Orang itu seperti keheranan melihat kita berdua sepagi ini berada disini.


"Ada apa ya?" jawab orang itu sambil berjalan mundur beberapa langkah.


"Tenang Pak kita gak ngapa-ngapain, kita cuma mau tanya jalan keluar dari desa ini?" tanya Reza dengan tenang.


"Kenapa kalian bisa sampai disini sepagi ini?" tanya orang tersebut.


"Jadi begini Pak semalam kita tersesat di tengah hutan. Mobil saya mogok dan kita juga sempat bersinggah di rumah Bapak tua yang berada di tengah hutan." ucapku sambil menunjuk ke arah hutan.


Orang tersebut seperti kebingungan mendengar penjelasan dariku. Dia juga sempat menoleh ke arah hutan tempatku menunjukkan tadi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah panik.


"Kalian menginap di rumah siapa?" sambil heran menatap kita berdua.


"Kebetulan ada gubuk tua di tengah hutan dan disanalah ada seorang Bapak tua yang menolong kita Pak." jelasku lagi.


"Apa yang kalian maksud Bapak tua itu yang berada di pondok tua yang berada di atas sana?" tanya orang tersebut.


"Iya Pak." jawab kita serentak.


"Tapi disana yang menempati pondok tua itu hanya satu orang yang sudah tua renta yang jenggotnya panjang dan putih."


"Betul sekali Pak itu dia orang yang kita maksudkan tadi. Dia orangnya sangat baik sekali dan kita bersyukur kita bisa selamat dan sampai disini." jelasku.


"Tapi orang yang saya maksud tadi dia sudah meninggal beberapa bulan yang lalu." ucapan Bapak tersebut membuatku terkejut dan seakan tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang telah menampung kita telah meninggal. Semalam memang aku tidak kepikiran apapun tentangnya. Bahkan aku tidak merasakan energi dan aura apapun disana.


"Bapak tidak salah kan? semalam Bapak tua itu yang memberi kita tempat tinggal." tanyaku penasaran.


"Iya betul seingat saya dia sudah meninggal. Dan gubuk tua itu tidak ada yang menghuninya." bapak itu masih saja memberi penjelasan yang membuatku masih tidak percaya.

__ADS_1


Aku langsung spontan menoleh ke arah Reza yang wajahnya juga berubah menjadi pucat. Aku langsung lemas dan tak membayangkan apa yang kita lakukan dengan mereka semalam di gubuk tua itu. Rasa tidak percaya dan takut menghinggapi pikiran dan otakku. Rasanya semua itu tidak mungkin tetapi jika benar apa kata orang desa itu. Aku hanya berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2