Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Buronan


__ADS_3

Ketika itu aku melihat Reza membelokkan motornya tepat di sebuah pinggiran kota. Tidak salah lagi dia telah nekat untuk menerobos sebuah jalan terjal. Aku sempat melihat ke arah mobil polisi yang tidak bisa melihatnya. Mereka kehilangan jejaknya, aku yang sempat melihatnya berpura-pura untuk berjalan lurus sehingga polisi itu telah kehilangan jejaknya. Setelah itu aku sengaja mengurangi kecepatanku sehingga polisi itu mendahuluiku. Kemudian aku memutar arah dan menembus jalan yang telah dilewati oleh Reza. Aku berusaha menerobos jalan yang sangat gelap. Jalan itu dikerumuni oleh pepohonan yang rimbun. Bahkan untuk menerobosnya aku harus terhalang oleh beberapa dedaunan yang bergelantungan ke jalan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak lupa juga aku menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutiku. Perasaan campur aduk yang aku rasakan kian menjelma. Antara ragu untuk terus melakukan mobilku ke arah yang aku sendiri benar-benar tidak tau ini jalan kemana. Tapi aku terus berusaha untuk mencari Reza. Tidak satupun tanda yang aku temukan disana. Di tengah persimpangan aku mulai turun karena aku mulai kebingungan dengan arah mana yang akan aku lalui. Pikiranku tidak karuan rasa takutku mulai menghinggapi otakku. Bulu kudukku juga merinding melihat sekitarku yang dipenuhi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Aku juga mulai merasakan hawa-hawa yang mulai membuatku semakin tidak karuan. Aku mencari jejak motor yang digunakan oleh Reza di jalanan. Antara kanan dan kiri ataukah lurus yang dilaluinya.


"Aghhhhhhhkkk." aku mulai sebal dengan diriku. Akhirnya aku memutuskan untuk terus berjalan lurus. Dengan harapan aku bisa menemukan Reza disana. Aku berusaha mencari ke kanan dan kiri tapi aku disana sudah kehilangan jejaknya. Aku berhenti di tepi jalan aku memutar otakku disana. Akhirnya aku berjalan lagi lurus ke depan hanya dengan harapan palsu. Rasanya tidak mungkin aku menemukannya disini. Jalan ini terlalu rumit untuk dilalui, sempat terbesit di pikiranku untuk menghentikan pencarian ini. Sempat ingin kembali pulang untuk menghentikan pencarian ini. Mungkin lebih baik jika aku kembali pulang dan mengajak Ranti kesini untuk menemaniku. Aku memutar arah mobilku dan segera meninggalkan tempat ini.


"Hiiiiii." gumamku dalam hati.


"Grenggggggggg grenggggggggg. ah sial." mobilku mogok begitu saja di dalam hutan ini.


Aku tambah kebingungan ketika melihat mobil yang sedang aku kendarai macet. Wajahku begitu panik melihat aku yang sedang berada di tengah hutan sendirian. Badanku juga semakin gemetar melihat sekelilingku. Aku berusaha mencari pertolongan di sekitar sini. Rasanya aku tidak mungkin menemukan seseorang di dalam hutan sini. Kuambil ponsel yang berada di dalam saku celanaku. Kupencet tombol panggil kepada Ranti.


"Aghhhhhhhkk."


Tidak ada jawaban dari Ranti bahkan ponselku tidak bisa terhubung kepadanya. Aku semakin panik dengan situasi seperti ini. Mau tidak mau aku harus berjalan mencari pertolongan. Akhirnya aku berjalan lurus ke arah tepi hutan. Aku mendengar gemuruh air yang berada di tepi hutan. Aku segera berlari kecil menuju gemuruh air tersebut. Tanpa aku sadari aku sudah berada di tepi dan disana aku melihat ada pantai yang indah. Aku terkejut ketika langkahku telah berada di tepi pantai. Aku mendekati air itu dengan semangat. Kuambil air itu di kedua tanganku dan kulemparkan ke wajahku. Aku memang sangat mengagumi keindahan alam seperti ini. Sejenak kulupakan tentang Reza yang sedang aku cari entah kemana. Kuluapkan segala emosiku dan kunikmati pemandangan indah ini. Beberapa menit kemudian aku melihat langit sudah menutupi sang mentari. Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Rasanya tidak mungkin jika aku tetap disini sampai malam hari. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan pantai itu. Seperti tidak ada tanda kehidupan di tempat ini. Tidak ada jejak manusia bahkan hewan sekalipun. Ketika pikiranku terpikirkan oleh hewan, tiba-tiba aku takut jika bertemu dengan hewan buas di tempat ini. Kupercepat langkahku dengan setengah berlari. Jika aku kembali menuju mobil mungkinkah aku bertemu dengan orang disana. Tetapi jika aku berjalan lurus lagi akankah aku juga akan dipertemukan dengan seseorang. Pertanyaan demi pertanyaan menghinggapi pikiranku. Akhirnya kuputuskan untuk tetap berjalan lurus walaupun aku sendiri tidak tau kemana langkahku melangkah.


Langkah demi langkah aku lalui tanpa arah yang pasti. Rasa lelah telah merasuki tubuhku. Kusandarkan tubuhku di sebuah pohon besar yang rindang. Ingin rasanya aku berteriak di tempat ini. Agar aku bisa mendapat pertolongan dari orang yang mendengarku.


"Tolonggggggggg." teriakku sekencang-kencangnya.


Masih saja tidak ada tanda bahwa ada yang mendengar suaraku.


"Tolonggggggggggg." kuulangi lagi teriakanku sekeras mungkin.


Tiba-tiba aku mendengar suara dedaunan kering yang terinjak oleh sesuatu. Langsung aku mencari sumber dari suara tersebut. Aku segera menoleh ke arah belakang. Tetapi sepertinya itu adalah suara angin. Tidak ada yang datang menghampiriku. Air mataku tidak sengaja menetes di pipiku Aku sudah tidak bisa menahan tangisanku ini. Rasa sesak di dadaku telah memenuhi semua ruang yang kosong.

__ADS_1


Reza?


kamu kemana?


bukankah tadi kamu berlari ke arah sini?


apa mungkin kamu sudah berlari jauh sejauh-jauhnya dari sini.


Lalu bagaimana dengan diriku sekarang?


Aku benar-benar mengkhawatirkan kamu.


Tiba-tiba saja di dalam hatiku aku merasa bahwa aku merindukan kehadirannya. Mungkin saja perasaan ini masih belum sepenuhnya membencinya. Masih saja ada rasa yang mengharapkan dia untuk hadir di sisiku. Tetapi rasanya semua itu konyol. Aku telah mengusirnya dari hidupku. Aku menangis tersedu-sedu, aku benar-benar ketakutan berada di tengah hutan sendirian seperti ini.


"Reza?" betapa terkejutnya ketika aku melihat Reza berada di depan mataku.


'Aghhhkkkkkkk rasanya tidak mungkin kalau itu Reza, mungkin aku saja yang terlalu berkhayal dan terlalu merindukannya.' gumamku dalam hati sambil mengusap mataku berkali-kali.


"Keyza ini benar kamu? kenapa kamu ada disini?" tanya Reza.


Aku menatap wajahnya dengan tatapan benar-benar heran. Aku mencubit lenganku sendiri,


'Aooww'

__ADS_1


Ternyata ini benar nyata rasanya sakit.


"Reza? kamu benar Reza?" tanyaku tidak percaya.


"Iya Key ini aku." jawab Reza meyakinkanku.


Aku dengan sigap langsung memeluk tubuhnya. Tanpa berpikir bahwa aku telah mengusirnya waktu itu. Aku benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan diriku saat ini. Aku menangis di pundaknya dengan tersedu-sedu.


"Key kamu kenapa?" tanya Reza panik.


"Maafin aku Rez." ucapku terbata-bata.


"Maaf? untuk apa?" tanya Reza.


Aku terdiam sejenak ketika Reza bertanya kepadaku.


"Key kenapa kamu bisa sampai kesini?" tanya Reza masih heran.


"Aku mengikuti kamu dari kejaran polisi itu Rez. " jawabku.


"Apa? kamu tau kalau aku lari kesini?"


Aku hanya menganggukan kepalaku. Reza mengusap air mataku dan memeluk tubuhku. Pelukan yang masih bisa kurasakan penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2