
Sesampainya di rumah Kevin berpamitan untuk langsung balik ke kantornya.
" Key aku langsung balik ya?"
" makasih ya Vin tapi kamu naik apa?"
" sopir aku sudah on the way"
" oh iya kamu hati-hati ya" aku tersenyum dan menutup pintu rumahku.
Aku langsung berjalan ke arah kamarku kurebahkan tubuhku yang sangat lelah kepalaku yang pusing sekarang sedikit menghilang perlahan.
" kamu masih pusing?" tanya Ibu mendekatiku
" engg cuma sedikit Bu" jawabku lirih
" kamu istirahat ya jangan terlalu banyak pikiran"
iya aku memang sedang memikirkan Reza
Dimana dia sekarang apa yang sedang terjadi dengannya.
Aku merindukannya saat ini.
Aku berusaha memejamkan mataku tapi tetap saja tidak bisa terlelap. Aku buka kembali mataku kurasakan kepalaku yang sudah membaik. Aku melihat kedua orang tuaku tertidur. Aku mengambil kunci mobil aku nyalakan mobil dan berjalan menelusuri jalan. Aku menoleh ke kanan dan kiri sepanjang jalan tak sedikitpun kutemukan jejak Reza. Akhirnya aku berhenti di sebuah gedung tua disana aku melihat ke arah belakang yang ditumbuhi pepohonan yang cukup besar. Aku duduk di bawah pohon itu dengan harapan bisa menemukan dia disini.
" ssttttt sstttt"
terdengar suara bisikan dari arah gedung itu. Aku melangkahkan kakiku ke arah gedung itu. Perlahan dengan sedikit takut yang menyelimuti hatiku.
" Key Key"
Sepertinya ada yang sedang memanggil namaku. Aku menoleh kearah belakang.
" Reza?" dengan penasaran aku berlari kesana
" Sstttt jangan keras-keras"
" Reza ini benar kamu?" tanyaku masih tetap tidak percaya
Dia menganggukkan kepalanya aku segera memeluknya dengan cepat.
" aku merindukan kamu Rez" ucapku
" sama aku juga Key"
" Rez kenapa kamu disini? kamu kelihatan seperti tak terawat Rez. Sampai kapan kamu akan bersembunyi?"
" sampai kasus itu tertutup Key entah sampai kapan" jawabnya
" Rez apa kamu gak kepikiran untuk pulang kerumah kamu lagi?"
" tidak Key kalau aku pulang kesana sama saja aku cari mati. Aku sementara ini akan tinggal di rumah Bi Siti"
" dimana itu?"
__ADS_1
" ayo sekarang kita kesana" ucapnya sambil mengajakku ke rumah Bi Siti
Sepanjang perjalanan aku melihat dia menyetir dengan sangat kencang.
" jangan ngebut-ngebut Rez"
" aku takut ketangkap polisi Key"
Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan berpegang erat. Setelah beberapa menit kita telah sampai di rumah yang sederhana.
" Rez ini rumah Bi Siti? disini sepertinya tidak ada orang"
" ada Bi Siti di dalam" ucap Reza
" Bi Siti ada disini?"
" iya Non saya disini menemani Reza. Kasihan Non dia sendiri karena saya sudah menganggap dia seperti anak saya sendiri"
" tapi Bi"
" Key jangan terlalu sering kesini nanti aku bisa ketahuan"
" tapi kalau aku ingin ketemu gimana?"
" kamu bisa telepon aku dulu" sambil menyodorkan kertas kecil berisi nomor telepon
" kalian kalau butuh apa-apa bisa hubungi aku, aku akan suplay makanan kalian biar kalian bisa tetap sehat" ucapku cemas
" Key apa kamu sanggup menjalin hubungan denganku secara sembunyi-sembunyi seperti ini?" tanya Reza tiba-tiba mengagetkanku
" entahlah Key aku masih bingung yang jelas aku tidak mau masuk penjara"
Aku meneteskan air mataku hatiku pedih sekali rasanya. Bagaimana mungkin kita menjalin hubungan dengan sembunyi dari kejaran polisi.
" Rez kamu jujur sama aku apa yang sedang kamu sembunyikan dariku?"
" aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu Key"
" tapi Rez bukti itu membuatku ragu"
" kamu harus percaya sama aku Key"
" bagaimana bisa? lalu maksud bukti itu apa? semuanya jelas Rez kalau kamu adalah pembunuhnya"
" kamu menuduhku Key?"
" bukannya aku menuduh kamu tapi aku benar-benar melihat bukti itu"
" lalu menurut kamu?"
" iya kamu yang telah melakukan itu semua"
" kamu tidak percaya sama aku?"
" aku bingung"
__ADS_1
" percayalah aku bukan seperti yang kamu tuduhkan padaku"
Dia menarik tubuhku yang menjauh darinya. Dia menarik tanganku dengan memohon kepadaku. Rasanya aku tidak tega melihatnya memohon seperti itu. Walaupun di dalam hatiku masih ada keraguan yang menyelimuti hatiku.
" Key aku merindukanmu" ucapan Reza di telingaku benar-benar membuatku tak berdaya. Hatiku rapuh ketika mendengar ucapannya begitu lembut. Ketika dia mulai memelukku akupun juga hanya berdiam diri saja. Tiba-tiba aku melihat sosok anak kecil itu ada di hadapanku. Dia kelihatan sangat marah sekali melihatku berada di pelukannya. Mulutku seakan membisu tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Dia mendekat ke arahku dengan mata yang hitam.
" tidak jangan tidak" ucapku sambil mendorong tubuh Reza
" apa? kamu kenapa Key?" tanya dia heran menatap wajahku dengan penuh ketakutan
" pergi pergi dari sini" teriakku
" hey Key sadar apa yang kamu lihat?" sambil menepuk pundakku
" jangan mendekat jangan" ucapku ketakutan melihat sosok itu berjalan ke arahku
" Key sadar Key" Reza mulai panik melihat wajahku pucat ketakutan
Dia mulai meraih tanganku aku tidak bisa mengontrol diri. Jiwaku melayang dan hampir saja aku kerasukan oleh arwahnya.
" Keyyyy Key" terdengar samar-samar suara di telingaku. Aku membuka mataku perlahan. Aku melihat Reza sudah berada di sampingku dengan panik. Aku menoleh ke kanan dan kiri aku tidak melihat sosok anak kecil itu lagi. Entahlah mungkin dia sudah pergi lagi.
" Key kamu kenapa?" tanya Reza
" ini semua gara-gara kamu!" bentakku
" aku? maksud kamu apa?"
" tidak usah berpura-pura tidak mengerti, kamu pasti sudah mengerti yang aku maksud"
" Key hey kamu tenangkan diri kamu dulu" ucap Reza menenangkanku
" ini semua karena ulah kamu Rez, jika saja kamu tidak melakukan pembunuhan itu mungkin aku tidak diteror oleh hantu kecil itu!"
" apa? maksud kamu apa Key? kamu menuduhku?" Reza mulai bicara dengan nada tinggi
" sudah hentikan sandiwara kamu!"
" Key kamu benar menuduhku?"
" ini bukan tuduhan tapi ini kenyataan"
" tega kamu Key!"
" Rez aku tidak akan setega ini sama kamu jika saja kamu jujur dan mau mengakui kesalahan kamu"
" tapi ini bukan salahku" elak Reza
" terus saja kamu mengelaknya tapi suatu saat nanti kamu pasti akan mengakuinya"
" aku tidak akan pernah mengakui tuduhan ini Key kamu salah"
" Rez aku sudah tau semuanya tentang kamu, tolong jangan pernah mengingkarinya"
Reza marah kepadaku dia masuk ke kamar dan menutup pintunya. Aku memang sedang berdebat dengannya tapi dia marah dan meninggalkanku begitu saja di tempat ini. Aku merenungkan kata-kataku yang telah keluar dari mulutku barusan. Rasanya ingin aku tarik kembali tapi nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau aku juga harus mengatakan hal ini kepadanya. Walaupun sampai saat ini dia masih tetap tidak mau mengakui perbuatannya.
__ADS_1