Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Dilema


__ADS_3

Reza masih memelukku dengan erat, dia juga mengusap air mataku. Dia mencium keningku dengan rasa yang tulus. Aku membiarkannya menciumku bahkan aku benar-benar merasakan ciuman itu. Reza menatap mataku dan memegang kedua pipiku. Dia menatap kedua mataku dengan tatapan penuh arti. Aku menatap matanya yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan.


"Key maafkan aku yang menjadi seorang penjahat ini. Aku benar-benar menyesal dengan perbuatanku selama ini. Sepertinya aku tidak layak untuk hidup di dunia ini Key." ucapnya lirih dengan meneteskan air mata.


"Reza kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu." ucapku.


"Aku tidak sanggup jika aku berada di penjara Key."


"Tapi demi menebus semua kesalahan kamu Rez."


"Key apa kamu masih mencintaiku?" pertanyaan Reza kali ini membuatku bingung.


"Jawab Key aku butuh jawaban kamu, aku tau keputusan kamu tidak pernah serius. Karena aku tau kamu masih sangat mencintaiku. Iya kan Key?" aku masih saja tidak menjawab pertanyaan Reza. Aku sendiri bingung dengan perasaanku saat ini. Mungkin dia benar aku tidak pernah serius untuk berpisah darinya.


"Tentang Vika?" tiba-tiba aku menanyakan tentang hubungan dia dengan Vika.


"Key Vika adalah orang yang membuatku sadar bahwa aku telah menghilangkan nyawa suaminya. Aku hanya ingin melindungi dia karena aku sadar bahwa perbuatanku telah membuatnya terluka. Dan semua yang aku lakukan padanya semata-mata hanya karena perjanjian kita." jelasnya.


"Tapi Rez perlakuan kamu padanya bukan layaknya sebagai orang biasa." bentakku.


"Kamu cemburu?" pertanyaan Reza membuatku salah tingkah.


Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Reza.


"Jadi benar kamu cemburu Key? itu artinya cintamu masih berpihak kepadaku Key." Reza tersenyum kecil kepadaku.


"Reza apa kamu sudah tau siapa sebenarnya Bi Siti?" tanyaku.


"Iya aku tau,"


"Apa? kamu sudah tau kalau dia Ibu kamu?" tanyaku heran.


"Iya Key." jawabnya.


Aku menghela nafas panjang.


"Lalu kedua orang tua kamu kemana?"


"Dia meninggalkan aku ketika aku masih berusia 6tahun."


"Meninggal maksud kamu?" tanyaku.


"Mereka kecelakaan pesawat." jelasnya.

__ADS_1


"Lalu Bi Siti?"


"Iya sejak kedua orang tua angkatku meninggal aku hanya tinggal dengannya berdua. Dan dia berkata kalau aku adalah anak kandungnya."


Reza masih berada di sandaran pundakku. Aku melihat hari semakin gelap.


"Reza aku takut apa tidak sebaiknya kita mencari pertolongan."


"Kalau aku mencari pertolongan itu namanya aku cari mati Key. Yang ada polisi akan menemukanku disini."


"Lalu bagaimana dengan nasib kita disini?"


Reza menarik tanganku dan menenangkanku.


"Key tenang selama ada aku disini kamu aman."


"Tapi aku takut Rez."


"Sssst sini aku peluk." Reza menarik tubuhku dan mendekatkannya di pelukannya. Memang aku merasa sangat tenang berada di pelukannya. Tapi aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi. Aku melepaskan pelukan yang sangat nyaman bagiku.


"Kenapa Key?" tanya Reza.


"Aku ak aku."


"Bukan itu maksudku Rez, tapi."


"Tapi apa?"


"Aku bingung dengan diriku sendiri Rez."


"Aku mencintaimu Key, lebih dari segalanya. Bahkan jika nanti aku mati aku akan selalu mencintai kamu." ucapan Reza membuatku luluh.


"Aku tau aku penjahat dan kamu tidak pantas mencintai seorang penjahat sepertiku. Tapi aku benar-benar tulus mencintai kamu." lagi-lagi ucapan Reza membuatku sangat rapuh.


"Reza aku juga masih mencintai kamu sama seperti dulu." ucapku dengan nada lirih. Reza terkejut mendengar suaraku. Dia tersenyum kepadaku dengan kebahagiaan. Dia menarik tanganku dan menciumnya.


"Makasih Key, tapi maaf aku tidak bisa menjaga kamu layaknya orang yang biasanya. Sekarang hidupku penuh dengan kejaran polisi. Aku adalah seorang buronan. Tapi ketika aku tau bahwa kamu masih mencintaiku. Aku akan lebih tenang dan rela dengan apapun yang terjadi kepadaku."


Aku meneteskan air mataku di pangkuannya. Aku ingin kita bisa bersama selamanya. Tetapi rasanya ini semua mustahil. Aku tidak mungkin bisa bersamanya dengan nyaman. Aku hanya akan mencintainya dengan bayangannya saja. Dia juga tidak akan pernah bisa bersamaku. Dia harus hidup dengan dosa yang telah dilaluinya. Dan aku juga tidak akan pernah mungkin bisa berharap dia selalu ada di sisiku.


"Key jangan menangis, ingat aku akan selalu mencintai kamu. Aku tidak mau jika kamu larut di dalam sedihmu. Dosaku sudah terlalu besar dan aku tidak mau menambah dosa lagi karena telah membuatku sedih."


"Reza apa mungkin cinta kita tidak bisa bersatu?" tanyaku.

__ADS_1


"Key kamu tau kan aku adalah seorang buronan. Mana mungkin aku akan terus menjagamu."


"Tapi setidaknya kamu bisa menyerahkan diri Reza."


"Menyerahkan diripun kita tidak bisa bersatu, aku akan mendekam di penjara seumur hidupku."


"Rez!!!" hatiku terasa sangat pedih sekali mendengar ucapannya.


Aku berkali-kali mengusap air mataku, Reza masih saja menenangkanku.


"Key aku juga tidak mau kamu selalu dihantui oleh perbuatanku, aku ingin kamu tenang dengan hidupmu. Hiduplah tanpa adanya teroran makhluk astral yang selalu mengganggumu."


Aku sudah tidak kuasa mendengar ucapan dari Reza. Aku melihat hari sudah benar-benar gelap. Aku mulai kedinginan dan ketakutan dengan lingkungan sekitar. Reza mendekapku dengan erat. Aku membiarkannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Kupejamkan mataku dengan lelah penuh air mata.


Tak terasa hari sudah mulai pagi, ternyata aku tertidur semalam disini. Aku melihat bahu Reza masih disandaranku. Kulirik Reza masih terlelap dengan tidurnya. Badanku mulai menggigil aku kedinginan. Aku membangunkan Reza dari tidurnya.


"Rez bangun Rez sudah pagi." kulirik jam di tanganku sudah menunjukan pukul 5 pagi.


"Ahhhhhh loh kita ketiduran disini Key?" tanya Reza heran. Aku hanya menganggukan kepalaku.


"Key kamu kedinginan ya? kita cari kayu bakar ya buat api unggun." ajaknya.


"Jangan Rez." elakku.


"Loh kenapa?" tanya Reza heran.


"Aku takut kalau kita menyalakan api nanti ada yang mengetahui keberadaan kita disini." ucapku.


"Sudahlah kamu tenang apinya cuma kecil kok gak bakalan ada yang tau. Memangnya kamu gak lapar? kita cari ikan di sekitar sini ya." ajaknya sambil menarik tanganku.


Aku hanya mengiyakan perkataannya. Walaupun ada rasa ragu yang menyelimuti hatiku. Tapi aku tetap berusaha untuk berpikir positif. Aku tidak mau terlalu larut dalam kesedihan ini. Aku berjalan di belakang Reza dengan mengumpulkan kayu-kayu bakar yang sedang aku cari.


"Key kamu tidak apa-apa?" tanya Reza melihat wajahku pucat.


"Iya."


"Kamu sakit Key?" tanya Reza bingung melihat wajahku lelah.


"Enggak aku cuma kelelahan mungkin."


"Tapi wajah kamu pucat sekali Key. Kita duduk dulu aku cari tempat buat kamu." Reza langsung menggendong tubuhku dengan berjalan sangat cepat.


Aku melihat wajah Reza sedekat ini dengan wajahku. Aku juga melihat Reza sekhawatir ini kepadaku. Walaupun kemarin aku telah membuatnya marah kepadaku.

__ADS_1


__ADS_2