
Pagi ini aku berangkat ke kantor lebih awal karena ada tugas yang kemarin masih tertunda. Kantor masih sangat sepi aku masuk ke dalam ruanganku.
"Deg deg deg." entahlah kenapa hatiku jadi deg-degan seperti ini.
Aku membuka laci,
"Srettt."
Kuambil berkas yang kemarin aku simpan di dalamnya.
"Bruakkkkkk."
Terdengar suara benda jatuh dengan keras di belakangku. Aku segera menoleh ke arah suara tersebut.
"Astaga."
Aku terkejut ketika aku melihat sosok bayangan hitam yang berdiri tepat di belakangku. Aku hanya mengamatinya dan mengingat-ingat siapa sosok itu. Aku melihat sosok itu tidak asing bagiku. Sosok anak kecil yang selalu menerorku saat itu. Bahkan sekarang dia bersama wanita paruh baya. Aku tau dia adalah satu keluarga. Aku tau mereka pasti akan marah kepadaku tentang kematian Kevin. Aku tau mereka akan menerorku lagi tapi aku berusaha menenangkan hatiku. Aku menarik nafas panjang-panjang. Kulihat mereka perlahan mendekat ke arahku. Aku melirik ke sebuah jendela kulihat Ranti sedang mengamatiku. Kualihkan pandanganku dan menyuruh Ranti segera menghindar dari sana.
"Mau apa kalian?" tanyaku
Mereka hanya terdiam dan masih menatapku.
"Kalian pasti akan memarahiku tentang kematian Kevin?"
Tetap saja mereka tak menghiraukan pertanyaanku. Aku mengabaikan mereka yang berada disana. Aku segera menyelesaikan tugasku hari ini. Tetap saja aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari mereka. Tapi aku harus bisa mengabaikan mereka meskipun mereka masih tetap tak berpindah tempat. Mereka tetap saja berdiri di depanku.
"Ranti." aku memanggil Ranti yang masih berada di depan jendelaku.
"Iya Bu Bos." jawab Ranti.
"Kamu tolong cek berkas ini ya?"
"Siap. Tapi Key kamu kenapa pucat kayak gitu?"
?
"Kamu gak bisa lihat ya ada dua sosok makhluk gaib yang masih menghadap ke arahku?"
__ADS_1
"Ihhhhhhh." Ranti segera berlari keluar dari ruanganku.
Aku keluar mengejar Ranti yang sedang berlari dari dalam ruanganku. Aku berhasil menahannya ketika dia hendak masuk ke dalam ruangannya. Dia berusaha melepaskan tarikan baju yang sedang aku genggam erat.
"Keyy lepaskan!" ucapnya sambil berusaha melepaskan bajunya.
Aku dengan sekuat tenaga menahannya hingga dia berpasrah dan menyerahkan diri kepadaku. Aku menarik tangannya sampai masuk ke dalam ruanganku kembali.
"Apa-apa'an sih kamu Key?" teriaknya ketakutan.
"Kamu ngapain takut? toh kamu juga tidak bisa melihat mereka kan?"
"Heh dasar sudah gila ya kamu?"
"Iya dan aku memang sudah gila sejak aku dilahirkan ke dunia ini! puas!" ucapku.
Aku menyuruh Ranti untuk menemaniku di ruangan itu. Aku melihat Ranti menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah dia bisa merasakan ada yang sedang mendekatinya.
"Sudah diam mereka tidak punya urusan sama kamu!" ucapku.
"Iya tapi sama saja mereka masih ada disini kan?" katanya dengan wajah pucat dan panik.
"Amit-amit jabang bayi cowok semua!" ucapnya sambil mengetuk-ngetuk dahinya.
"Ya kirain ada keajaiban dari yang maha kuasa untuk merubah mata kamu, biar kamu gak ngatain aku gila terus!"
Aku tersenyum melihat dia yang jadi salah tingkah seperti itu. Dia setiap detik masih menoleh kanan kiri, sementara aku masih mengerjakan sebagian tugas yang masih berada di atas mejaku.
"Kalian kenapa sih masih saja berdiri disitu? Apa coba salahku di mata kalian?" aku ngomel-ngomel sendiri sambil melihat sosok gaib tersebut.
"Aduh Keyza please jangan gila disini! yang ada aku bisa gila juga nih sekarang!" rengek Ranti.
"Ranti aku tidak bicara sama kamu! tapi sama mereka tuh!" sambil menunjukkan ke arah belakang Ranti.
"Aduh kamu pakai menunjuk ke arah belakangku lagi!! apes nih aku kalau dekat sama kamu!" rengeknya lagi sambil mengucurkan keringat dingin.
Aku melihat wajah Ranti semakin pucat akhirnya aku menyuruhnya untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
"Bruakkkk" belum sempat Ranti berdiri meninggalkan ruangan ku. Dia sudah terjatuh tersungkur di atas lantai.
"Loh Ran Ranti kamu kenapa?" aku mulai panik sambil menepuk-nepuk pipinya pelan. Dia membukakan matanya dengan cepat dan melotot ke arahku. Segera aku lempar tubuh Ranti dari pelukanku. Aku berdiri dan mundur beberapa langkah. Aku melihat tubuh Ranti berdiri tegak di hadapanku. Aku mundur sejauh-jauhnya dari tubuh Ranti. Aku sadar Ranti mulai kerasukan oleh arwah gaib.
"Ran sadar Ran!" teriakku.
"Ha ha ha ha" dia tertawa sangat keras.
Aku mulai mengeluarkan keringat dingin di tubuhku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku dari amukan arwah tersebut. Badanku merinding tanganku mendadak dingin. Wajahku juga terasa sangat pucat sekali. Dia masih saja menertawakanku yang sedang ketakutan olehnya. Dia mulai mendekat ke arahku dan berjalan perlahan mendekat ke arahku.
"Kamu harus ikut denganku! kamu harus bertanggung jawab!"
"Jangan jangan mendekat padaku! Aku tidak tau apa maksud dari ucapanmu!" teriakku panik.
Aku segera membuka jendela yang berada di belakangku. Aku segera membuka kunci jendela dengan cepat. Tapi rasanya tanganku kaku dan tidak bisa difungsikan dengan layaknya seperti biasanya. Dia semakin mendekat ke arahku sementara aku sedang terjepit di pojok ruanganku. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tetapi mulutku seperti dibungkam dengan sebuah kain. Aku sudah berusaha berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
Tuhan apa yang terjadi denganku.
Aku segera mengambil ponselku aku segera mencari nama Reza. Kenapa ponselku jadi kosong semua, kontak yang terdapat di layar ponselku hanya ada nama Kevin.
Tidak tidak mungkin ini bisa terjadi.
Aku segera membuang ponselku yang dibayangi kontak Kevin yang kemarin sudah kuhapus dari daftar kontakku. Aku tidak mungkin salah, tapi kenapa ini bisa terjadi kepadaku. Siapa yang telah mengubah layar ponselku. Kenapa tiba-tiba ada foto Kevin di dalamnya.
Tolongggggg..
Aku berharap ada seseorang yang masuk ke dalam ruanganku untuk menolongku. Tapi semuanya sia-sia. Tidak ada yang mendengar teriakan dariku. Padahal di depan ruanganku banyak pegawai yang sedang berada di luar Kenapa semuanya tidak bisa mendengar suaraku. Rasanya aku sudah berteriak sekeras-kerasnya. Tetapi mengapa mereka semua tidak menghiraukanku. Aku terjatuh di atas lantai dengan meneteskan air mataku. Aku mulai ketakutan dengan berusaha menutup kedua bola mataku. Tubuhku bergetar aku sudah tidak kuat dengan apa yang sedang menimpaku saat ini.
"Kamu harus mati!"
Aku mendengar ucapan itu sangat menakutkan. Apa yang ingin dia lakukan kepadaku.
"Ranti Ranti sadar Rann!" teriakku kencang.
Aku sudah tidak punya sela untuk berjalan mundur. Aku sudah menutup mataku berharap ini semua hanyalah mimpi.
"Bruakkk."
__ADS_1
Aku mendengar benturan keras di hadapanku. Aku segera membuka mataku pelan. Aku melihat tubuh Ranti tergeletak di depanku. Aku segera menolongnya dan memanggil semua orang yang berada disana.