
Ketika Ranti mulai sadar, dia langsung panik melihat di sekitarnya banyak orang yang mengelilinginya. Ranti kebingungan melihat aku dan para karyawan sedang berada di sekitarnya. Dia melihat ke arahku, aku tersenyum kepadanya. Tetapi dia masih saja dengan wajah kebingungannya.
"Key apa yang terjadi?"
Aku langsung memeluk tubuh mungil Ranti. Akhirnya semua karyawan keluar satu per satu. Ranti terdiam dan mungkin saja dia sudah bisa mengerti apa yang telah terjadi kepadanya.
"Key apa hal itu terjadi kepadaku lagi?"
Aku hanya menganggukan kepalaku rasanya kepalaku mulai terasa sangat berat. Aku tidak bisa merasakan jika hal itu terus menerorku. Kusandarkan bahuku di tubuh Ranti yang mulai tegak. Dia melirik ke arahku, akupun juga melirik ke arahnya.
"Key apa mungkin selamanya aku akan seperti ini?" ucap Ranti dengan nada sedih.
"Aku juga tidak tau Ran, apa mungkin aku juga akan terus menerus jadi sasaran dari teroran arwah gaib itu." sambungku.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Mungkin sebaiknya aku menyerah dengan semua ini, tapi... "
"Tapi apa Key?"
"Setelah Vika sembuh aku akan menyerah."
Ranti menghela nafas panjang dan menatapku dengan tatapan tanda tanya. Akupun juga rasanya sudah tidak sanggup dengan semua ini. Ini terasa sangat berat bagiku, aku tidak mungkin menjadi seperti ini selamanya.
"Key kamu yakin dengan keputusan kamu?"
"Iya Ran aku akan hadapi kenyataan pahit ini sendiri."
"Kamu masih punya aku Key."
"Kamu sudah terlalu sering membantuku Ran, apa mungkin kamu masih mau membantuku. Taruhannya bukan hanya tentang waktumu tapi tentang nyawa kamu." ucapku sedih.
"Kamu adalah nyawaku Key, kita sudah ditakdirkan hidup seperti ini." ucapan Ranti membuat hatiku terasa trenyuh.
"Ran gak usah lebay gitu deh!"
"Key ini aku serius! kamu malah bercanda."
"Iya iya kita ini memang senasib ya." gerutuku.
Akhirnya kita berdua saling berpelukan ibarat lama tidak berjumpa.
"Key kamu gak kepikiran sama Reza apa? gimana kalau nanti kita kerumah Vika? siapa tau Reza ada disana?" ajak Ranti.
Aku hanya terdiam mendengar ajakan Ranti,
"Key are you okay?"
"Oke oke aku lagi oke." ucapku maksa.
"Kamu cemburu kan?" tanya Ranti padaku.
"Ran sejak Reza dekat sama Vika dia jarang menghubungiku." ucapku sedih.
"Terus?"
"Gitu amat sih kamu jawabnya? simpati dikit kenapa?"
__ADS_1
"Iya habisnya aku bingung yang nyuruh siapa yang galau siapa?"
"Apa mungkin Reza jatuh cinta sama Vika ya?" tanyaku dengan sedih.
"Iya itu pasti Key!"
"Kamu kok gitu sih Ran?"
"Nih ya aku kasih tau alasannya pertama dia cantik dan lebih cantik dari kamu. Kedua dia lebih segalanya dari kamu, ha ha ha." ucapan Ranti membuatku naik pitam.
"Huft sebal deh sama kamu, jahat!" jawabku.
Ranti masih saja menertawakan aku yang tambah sedih. Tiba-tiba saja air mataku jatuh menetes di pipiku. Aku tidak bisa membayangkan jika saja apa yang telah dikatakan oleh Ranti jadi kenyataan. Akhirnya aku harus menghentikan misiku saat ini. Aku tidak boleh membiarkan dia dekat dengan Vika. Aku harus menjauhkan mereka. Tapi apa mungkin aku sanggup mengatakan ini semua kepadanya. Kegalauan ini yang membuatku tidak bisa berfikir jernih.
"Sudah gitu saja nangis, tidak mungkin Reza mengkhianati kamu dia kan cinta mati sama kamu!"
Aku cuma mengernyitkan keningku sambil membereskan barang-barangku.
"Loh kita berangkat sekarang kah?" tanya Ranti heran melihatku mengambil tasku.
"Sudah ayo berangkat."
"Oh iya ya kan kamu bosnya jadi seenaknya saja ya keluar kantor."
Aku tidak menghiraukan ucapan Ranti dengan tetap berjalan keluar menuju parkiran. Selama di perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Pikiranku saat ini memang masih memikirkan hubungan mereka. Sesampainya di depan rumah Vika aku melihat Reza membopong Vika dari depan ke dalam.
"Oh My God!" ucap Ranti di telingaku.
Aku menarik nafas dalam-dalam dengan menghentikan langkahku.
"Kenapa Vika Rez?" tanyaku lantang yang membuat Vika terbangun dari tidurnya.
Iya aku marah kali ini.
Aku benar-benar marah melihat perlakuan Reza kepadanya.
Entahlah apa yang sedang aku rasakan padanya.
Mungkin inilah cemburu yang sesungguhnya.
Rasa yang sebenarnya tidak pantas aku rasakan.
Apalagi Vika sedang depresi saat ini.
Tapi mungkin logika dan perasaan berbanding terbalik sehingga membuatku seperti ini.
"Reza siapa mereka?" tanya Vika.
Apa Reza??
Berarti Vika sudah mengerti bahwa dia bukan Kevin?
Apa maksud dari semua ini?
Tuhan.
Aku sudha tidak punya cara untuk berfikir tentang mereka lagi.
__ADS_1
Yang aku tau sakit hati ini telah menguasai isi hati ini.
"Key kamu dengar kan Vika memanggik Reza?" bisik Ranti di telingaku.
"Iya Ran aku dengar."
"Berarti mereka??" Lagi-lagi Ranti membuatku semakin galau.
"Rez Vika sudah tau bahwa kamu bukan Kevin?" tanyaku sambil menyeret tangan Reza.
"Iya Key." jawab Reza.
"Berarti dia sudah mulai sembuh dari depresinya?" tanyaku lagi.
"Kamu ini kenapa sih Key?" tanya Reza yang mulai sadar dengan wajahku yang penuh dengan amarah.
"Kenapa kata kamu? aku ini siapa? kamu lupa?" jawabku.
"Iya aku ingat kamu cewekku."
"Lalu bagaimana caramu memperlakukan cewek kamu?"
"Maksud kamu apa sih Key?"
"Rez ini bukan pertanyaan bodoh tapi harusnya kamu lebih mengerti maksudku?" jawabku.
"Key kamu cemburu?" tanya Reza.
"Lalu?!"
"Kamu ini aneh, kamu sendiri yang menyuruhku agar melakukan ini semua. Tapi sekarang kamu malah memarahiku seperti ini. Ini semua aku lakukan demi perjanjian kita kan?"
"Tapi aku rasa ini bukan hanya sekedar arti perjanjian!"
"Maksud kamu apa sih Key aku benar-benar tidak mengerti?"
Aku lalu terdiam ketika Vika datang menghampiri kita yang tengah berdebat.
"Ini ada apa?" tanya Vika.
Aku tidak menjawab pertanyaan Vika, begitupun dengan Reza yang masih terdiam dengan pertanyaan itu. Kemudian Ranti mendekati kita,
"Vika kamu sudah baikan kan?" tanya Ranti mencairkan suasana.
"Aku aku memangnya kenapa dengan diriku?" Vika berbalik tanya kepadanya.
"Kamu ingat siapa aku?" tanya Ranti lagi.
Vika menganggukan kepalanya.
"Key Vika ingat siapa kita berarti dia sudah sembuh dari depresinya." ucapan Ranti mengingatkanku akan janji yang pernah aku ucapkan kepadanya.
Aku menoleh ke arah Reza dan menatapnya dengan tatapan kebencian.
"Iya Ran aku akan lakukan apa yang semestinya aku lakukan! secepatnya!" ucapku yang membuat Reza bertanya-tanya.
"Key apa yang akan kamu lakukan? bukankah kalau Vika sudah sembuh kita akan seperti dulu?" masih saja Reza menanyakan hal yang telah melukaiku.
__ADS_1
"Tenang saja semuanya akan sama seperti dulu! dan akan sama seperti dulu!" ucapku sinis.
Reza semakin bertanya-tanya tentang ucapanku yang membuatnya semakin kebingungan.