
Aku yang masih sendiri di dalam kamarku enggan untuk beranjak dari tempat tidurku.Aku masih saja terisak dalam tangisanku. Mungkin ini adalah jalan yang harus aku lalui saat ini tapi mengapa rasanya hatiku masih saja belum bisa merelakannya.
"Key bangun ini adalah keputusan yang tepat untukmu" terdengar bisikan di telingaku. Aku mencari sumber dimana orang yang telah mengucapkan kata-kata tersebut. Tetapi tidak ada seseorang pun yang berdiri disampingku. Aku segera membuka mataku lebar-lebar, kulangkahkan kakiku menuju sumber dimana aku mendengar suara tadi.
"Key kamu benar."
Terdengar lagi ucapan kata yang masih saja membuatku penasaran.
"Key ini adalah keputusan yang tepat kamu tidak perlu menangisinya."
Masih saja terdengar suara tanpa tau dimana orangnya. Ini membuatku tambah panik aku menoleh kanan kiri bahkan ke depan juga belakang. Semuanya nihil tidak ada satupun orang yang berada disana. Aku mulai merasakan hawa-hawa yang membuat bulu kudukku merinding. Kulangkahkan kakiku perlahan menuju bilik depan. Langkah demi langkah kuayunkan dengan penuh keraguan. Aku sedang mencari siapa yang telah membuat ku bertanya-tanya tentang siapa yang telah berbicara tadi.
"Krieekkkkk." aku buka pintu belakang rumahku perlahan.
"Weettttt." seketika itu aku langsung menjerit.
"Tidakkkkkkkk pergi dari sini.!" antara takut juga penasaran. Aku mundur beberapa langkah dengan cepat.
"Keyza kamu tidak perlu takut."
"Siapa kalian?" tanyaku dengan nada tinggi dan penuh dengan ketakutan.
"Ha ha ha ha ha." terdengar suara tawa dengan nada yang sangat keras sekali.
"Keluar jangan buat aku penasaran dengan kalian!." ucapku.
"Hi hi hi hi." mereka masih saja menerorku.
Tiba-tiba satu per satu dari mereka menampakkan wajahnya dengan cepat. Aku terkejut melihat sosok Kevin, adik dan juga Mamanya yang sudah berada tepat di depanku.
'Oh Tuhan ada apa dengan mereka.'
"Kenapa kalian datang kepadaku lagi? apa mau kalian!" bentakku dengan keras.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu takut Key, aku mendukung semua keputusan kamu." ucap Kevin sambil tersenyum kepadaku.
"Apa maksud kamu?" tanyaku tidak mengerti.
"Kita semua tau bahwa kamu telah memutus hubungan dengan Reza. Itu adalah keputusan yang sangat tepat."
"Lalu kenapa kalian datang kepadaku lagi? apa salahku?" tanyaku panik.
"Kamu tidak perlu takut Key, kita semua kesini hanya akan berterima kasih kepadamu. Kita juga akan berjanji tidak akan mengganggu hidupmu lagi." ucap mereka bersamaan dengan melontarkan sebuah senyuman.
Entahlah antara senang dan takut masih saja menyelimuti hatiku. Rasanya semua ini tidak mungkin, tapi semua ini nyata. Ternyata alasan mereka menerorku selama ini hanya karena meminta keadilan. Sedangkan aku selama ini telah menghakimi diriku sendiri. Dan menutup semua keadilan itu dari mataku. Sekarang mungkin ini adalah keadilan yang mereka harapkan. Walaupun sebetulnya aku sendiri masih ragu dengan kebahagiaanku selama ini. Reza adalah orang yang teramat aku sayangi, sedangkan sekarang aku harus merelakannya mendekam di sel tahanan. Mungkin akan seumur hidupnya jika nanti polisi berhasil menangkapnya.
"Tok tok tok, Nona Keyza Nonnnnnnn." terdengar suara teriakan yang tidak asing bagi telingaku. Aku segera berlari ke arah suara tersebut. Kulihat Bi Siti berlari ke arahku sambil menangis tersedu-sedu.
"Ada apa Bi?" tanyaku sambil sedikit menenangkannya.
"Tuan Non Tuan."
"Reza maksud Bibi? kenapa dia Bi?" tanyaku panik.
Maafkan aku Bi.
Andai saja Bibi tau yang sebenarnya.
Mungkin Bibi tidak akan berlari ke rumahku saat ini.
Karena akulah orang yang telah melaporkan Reza ke kantor Polisi.
Aku ingin dia mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Di sisi lain aku juga ingin mereka para arwah itu tidak menerorku lagi.
Aku ingin bebas dari kejaran mereka.
__ADS_1
Aku ingin menghirup udara segar ketika aku melelapkan mataku.
"Non Keyza harus melakukan sesuatu Non, kasihan Reza Non." Bi Siti memohon kepadaku dengan menangis. Aku memang melihat dia sangat terpukul. Aku mencoba bertanya kepadanya dengan mengangkat wajahnya.
"Bi kenapa Bibi begitu peduli dengan Reza? bukankah Bibi tau bahwa Reza adalah seorang pembunuh?" pertanyaanku ini membuat Bi Siti tambah meneteskan air matanya.
"Non andai saja Non Keyza tau apa yang sebenarnya, mungkin pertanyaan ini tidak akan pernah muncul di bibir Non Keyza." jawaban Bi Siti membuatku semakin bertanya-tanya.
"Maksud Bi Siti apa?" tanyaku heran.
"Sebenarnya Reza adalah anak kandungku yang aku berikan kepada majikanku."
"Apa? Reza anak Bibi?" tanyaku terkejut.
"Iya Non." jawab Bi Siti sambil terus menangis.
Aku benar-benar terkejut mendengar pengakuan Bi Siti tersebut. Aku melihat Bi Siti benar-benar terpukul. Aku juga sempat meneteskan air mataku. Antara sedih dan takut telah menjelma di hatiku. Aku segera memeluk tubuh mungil Bi Siti. Aku bisa melihat air mata seorang Ibu yang sedang terluka hatinya. Seorang anaknya sekarang berada di kejaran polisi. Bahkan aku sendiri bisa merasakan kesedihan dan panik membayangkan jika Reza telah berhasil ditangkap oleh polisi. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat itu jika aku melihatnya.
"Key Key Keyza." Ranti datang ke rumahku dengan melihat keadaan rumahku berantakan.
"Apa yang terjadi Key?" tanya Ranti heran.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ranti aku melihat Vika juga datang ke rumahku.
"Key apa yang terjadi?" tanya Vika sambil melihat rumahku yang telah diobrak-abrik oleh Reza sebelumnya.
Aku tidak menjawab satu katapun, hatiku telah berada di ujung kepanikan. Di dalam lubuk hatiku aku mengkhawatirkan keadaan Reza saat ini. Aku segera mengambil kunci mobilku. Dan segera kutinggalkan mereka semua disana.
"Keyy kamu mau kemana?" tanya mereka serempat berteriak. Sedangkan aku masih saja terus melajukan mobilku dengan kencang. Aku tidak tau kemana aku pergi yang jelas hatiku saat ini sedang kacau. Aku tidak tau harus kemana akan pergi.
Tiba-tiba aku melihat mobil polisi sedang mengejar sebuah motor. Aku melihatnya dengan seksama,
Iya itu motor Reza,
__ADS_1
Aku langsung mengikuti mobil itu dengan cepat. Aku berulang kali berteriak ke arah Reza tapi dia tetap saja tidak mendengarku. Kulihat polisi itu menoleh ke arahku. Aku tidak menghiraukannya dan tetap melajukan mobilku dengan mengejar motor Reza. Reza sempat melirik ke arahku. Tetapi dia masih tetap melaju dengan kencang. Tanpa mempedulikan aku yang sedang mengejarnya. Mungkin dia sudah membenciku saat ini sehingga dia sama sekali tidak menghiraukanku. Atau dia sedang konsen dari kejaran polisi yang juga sedang melaju dengan kencang. Aku sekarang berada tepat di depan mobil polisi yang sedang mengejar Reza. Aku berusaha untuk mengacaukan perjalanannya. Setelah itu aku berhasil untuk mendahului kejarannya.