Diary Mata Indigo

Diary Mata Indigo
Vika


__ADS_3

Memang ada sedikit rasa kecewa dari sikap Vika yang menganggap bahwa Reza adalah Kevin. Tapi keguncangan jiwanya membuatku iba kepadanya. Mana mungkin aku bisa cemburu dengan orang yang masih depresi. Aku tidak mungkin merasakan hal itu. Aku berusaha menguatkan hatiku ketika aku melihat Vika sedang memeluk Reza dengan sekuat tenaga.


" Vika ini aku Reza" ucap Reza sambil melepaskan pelukannya.


" Key apa yang terjadi?" Ranti yang baru datang melihat kejadian ini.


" Vika mengira bahwa Reza adalah Kevin" bisikku.


" astaga Vika kasihan sekali" ucap Ranti.


" tapi kamu biasa saja kan? kamu tidak cemburu kan?" tanya Ranti memastikan hatiku.


" apaan sih kamu Ran masak iya aku cemburu sama Vika apalagi keadaan dia sedang seperti ini?" ucapku.


" iya tapi kan yang namanya cinta itu buta Key," jawab Ranti yang menyudutkanku.


" sudah hentikan semua omong kosongmu"


Vika melihat ke arah kita berdua, tidak ada senyuman darinya pandangannya berubah menjadi pandangan kosong. Beda sekali ketika dia melihat ke arah Reza. Dia penuh antusias ketika melihat Reza, seakan hidupnya berarti jika melihatnya.


"Key aku harus bagaimana?" tanya Reza kepadaku.


Aku hanya tersenyum kepadanya rasanya tidak mungkin jika aku memaksa Vika untuk mengingat bahwa Kevin sudah meninggal.


"Key kamu dengar aku kan?" tanya Reza lagi.


"iya Rez aku dengar kamu, lebih baik sekarang kamu turuti saja biar dia bisa lebih banyak untuk berkomunikasi." ucapku.


"apa? lalu bagaimana denganku?"


"sudahlah ini untuk sementara siapa tau dengan cara ini dia bisa lebih cepat pulih."


"demi kamu Key aku akan lakuin ini semua."


Vika merebut tangan Reza yang sedang menyentuhku. Vika benar-benar menganggap bahwa dia adalah Kevin. Bahkan Vika masih saja menyandarkan kepalanya di bahu Reza.


"Key kamu yang sabar ya." ucap Ranti sambil menepuk pundakku.


" iya Ran siapa tau dengan cara ini Vika bisa menjadi yang lebih baik." jawabku.


Sebenarnya aku tidak sanggup melihat Reza dipelukannya. Sebenarnya aku ingin melempar tangannya dan merebut kembali pundaknya. Tapi itu gila jika aku lakukan. Vika masih depresi dia benar-benar tidak bisa mengingat apa yang sedang terjadi pada dirinya. Aku harus bisa merelakan hal ini dariku.

__ADS_1


"Rez aku pulang dulu ya kamu disini saja menemani Vika." ucapku.


"Kamu sudah gila ya?"


"Aku tidak gila tapi inilah cara satu-satunya untuk mempercepat ingatan Vika."


"Tidak Key aku juga harus pulang untuk mengantarkan kamu."


"Tidak apa-apa Rez aku bisa pulang sama Ranti."


"Tapi Key."


"Sudahlah demi aku tolong kamu jaga Vika untuk sementara ini."


Aku meninggalkan rumah Vika dengan Ranti. Ranti memeluk pundakku mungkin dia tau bahwa aku sedang memendam rasa sakit. Air mataku yang daritadi aku bendung sudah mulai tidak kuasa. Sedikit demi sedikit air mata itu menetes di pipiku. Aku cepat-cepat mengusapnya karena aku tidak ingin Ranti menyaksikannya.


"Key kamu nangis?" tanya Ranti.


"Ehm enggak kok," jawabku.


"Sudah jangan tutupi dariku, aku tau kok kalau kamu cemburu."


"Gila saja kan jika aku cemburu dengan mereka?"


pertanyaan Ranti membuatku bingung?


"Ehm aku tidak punya pilihan untuk membantunya."


"Cara kamu itu salah Key," ucap Ranti.


Ranti andai saja kamu tau siapa yang sebenarnya telah menghabisi nyawa Kevin. Kamu pasti telah menyalahkanku. Kamu pasti telah membenciku karena aku telah menyembunyikan kejahatan yang kesekian kalinya.


Aku benar-benar bingung dengan perasaanku kali ini. Di sisi lain aku ingin Reza yang membuat Vika sembuh karena ini semua salah dia. Tapi di sisi lain aku tidak mungkin memungkiri perasaanku. Aku berusaha menutupi rasa sedih dan kecewaku sekarang.


"Key are you okay?" tanya Ranti.


"Yes." jawabku singkat.


"Yes tapi nangis?" tanya Ranti.


"Apaan sih Rannnnnnti."

__ADS_1


"Sudahlah Key aku itu tau siapa kamu, lagian kamu kenapa malah nyuruh Reza yang jagain Vika."


"Kamu itu gak bakalan ngerti Ran apa yang sedang aku rasakan!"


"Okay okay terserah kamu!" jawab Ranti kesal.


Setelah sampai di rumahku Ranti langsung merebahkan tubuhnya di kasurku. Aku yang duduk di sofa hanya melihatnya dari kejauhan. Aku membiarkannya di tempat tidurku. Sementara aku yang masih sibuk dengan chatku sama Reza. Terus terang saja ada rasa sedikit khawatir ketika aku meninggalkan mereka berdua disana. Apalagi ingatan Vika masih terguncang. Aku takut jika Vika menganggap Reza adalah suaminya. Lantas apa yang akan diperbuat mereka ketika malam telah tiba.


"Aghhhkkkkk."


Tiba-tiba aku tidak bisa mengontrol emosiku. Ranti yang berada di dalam kamarku segera berlari menghampiriku.


"Key kamu kenapa?"


"Ran aku bingung." ucapku sedih.


"Kamu sedih kenapa?"


"Ada sesuatu yang mengganjal di dalam otaku."


"Iya coba kamu cerita sama aku."


"Tapi kamu janji ya jangan sampai satu orangpun tau tentang rahasia ini."


Ranti menganggukkan kepalanya dan seketika itu Ranti langsung terbelalak terkejut mendengar bisikan suaraku.


"Apa Key? Reza yang telah membunuh Kevin?" tanya Ranti seakan tidak percaya.


"Ran aku tidak tau kalau kejadiannya akan seperti ini." aku menangis tersedu-sedu.


"Cukup Key dari awal aku sudah menyuruh kamu untuk tidak bicara apapun tentang ini. Tapi kamu lihat apa yang terjadi? sekarang puas kamu?!" Ranti marah besar terhadapku.


"Ran tolong mengerti aku, aku juga tidak tau kalau kejadiannya akan seperti ini."


"Cukup Key aku sudah terlalu baik untuk berusaha menutupi semua kejahatan dia. Tapi sekarang aku tidak akan tinggal diam. Kamu tau kan aku mencintai Kevin. Dan sekarang Kevin mati terbunuh oleh Reza kekasih kamu!"


"Aku tau Ran aku minta maaf aku benar-benar minta maaf sama kamu." aku berlutut di hadapannya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan lagi aku harus menemui Reza dan minta pertanggungjawaban dia!"


"Ranti tolong Ran jangan."

__ADS_1


"Jangan kata kamu? kamu tau kamu telah melindungi penjahat seperti dia. Dan kamu tau akibatnya? Bukan hanya penjahatnya saja yang akan mendekam di penjara. Tapi juga termasuk orang yang telah melindungi penjahat seperti kamu!" Ranti benar-benar marah besar kepadaku. Aku memang bodoh telah menutupinya kejahatannya. Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang harus aku lakukan. Jika keadilan yang aku pilih justru hatiku yang sangat terluka karena melihatnya mendekam di penjara.


Akhirnya aku biarkan Ranti pergi dengan sendirinya. Saat ini aku telah pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Aku benar-benar sudah tidak punya pilihan. Sampai kapan aku harus menutupi kesalahan ini. Rasanya aku tidak sanggup menahan ini semua. Aku benar-benar dihadapkan oleh masalah yang rumit.


__ADS_2