Diary Pelakor

Diary Pelakor
Kepergok


__ADS_3

Kantor Alan terletak di sebuah kota kecil yang jaraknya sekitar 5 km dari pusat kota. Kota tersebut letaknya di atas bukit-bukit kecil yang membuatnya terlihat indah. Udara pegunungan masih terasa dan sedikit sekali kendaraan di sana. Alan memang jarang berada di kantornya karena Alan bertugas untuk menangkap semua orang yang terlibat dalam narkoba. Alan hanya datang ke kantor saat-saat tertentu saja seperti saat ada rapat dan lain sebagainya.


Di kota kecil tersebut yang tidak jauh dari kantor Alan, ada keluarga Mia yaitu adik dari papi Mia. Dulu saat Mia masih SMA, Mia sering diajak oleh Maminya ke rumah Tante.


Frustasi karena dipecat oleh Sofi, Mia pergi ke rumah tantenya untuk liburan. Udara sejuk pegunungan membuat kepala Mia menjadi lebih rileks. Setelah menikah dengan Robert beberapa tahun yang lalu, Mia memang tidak pernah ke rumah Tantenya lagi. Baru kali ini setelah sekian tahun Mia berlibur ke sana.


" Sama siapa kamu kemari Mia ?" ucap Tante pada Mia setelah 2 hari Mia di sana.


" Di antar teman Tan" jawab Mia.


" Teman yang mana? kenapa tidak sekalian di ajak mampir? " tanya Tante lagi.


" Dia lagi banyak kerjaan, mungkin lain kali saja dia mampir" kata Mia pada Tantenya.


Selama di rumah Tantenya, Mia hanya duduk di rumah dan berjalan-jalan di sekitar rumah saja. Mia tidak bercerita banyak pada Tantenya karena Tante Mia sedikit judes. Mia tiba-tiba ingat pada Lili. Lili sangat akrab dengan Tante karena Usia Tante dan Lili hampir sebaya. Tante lebih tua 2 tahun dari Lili.


" Pulang dari sini aku akan ke rumah Kak Lili" gumam Mia.


*


Setelah 4 hari di rumah Tante, Mia minta ijin pulang. Mia di jemput sama Alan di peremparan jalan. Mia tidak mengijinkan Alan menjemputnya di rumah tante karena Mia takut jika Tante nanti akan bertanya ini itu.


" Ayo naik" ajak Alan yang sudah siap untuk melajukan mobilnya. Mia tidak langsung naik ke mobil, dia sedang membalas chatingan temannya di depan pintu mobil Alan.


" Ayok cepat naik" Bentak Alan, Mia bergegas naik ke mobil karena mendengar bentakan dari Alan.

__ADS_1


Alan mengajak Mia naik mobil secepatnya karena Alan takut ada yang melihatnya membawa seorang perempuan. Alan sangat menjaga wibawanya. Meskipun Alan menjemput Mia bukan di sekitar kantornya, Alan hanya berjaga-jaga agar tidak ada satupun orang yang tahu bahwa dia sedang dengan seorang perempuan.


" Lain kali saat aku jemput langsung naik, jangan kelamaan begitu" Alan begitu marah pada Mia.


Mia yang tidak pernah melihat Alan marah padanya menjadi ketakutan. Mia hanya diam saja dalam mobil. Namun hati Mia tidak bisa diam.


" Enak saja dia membentakku, belum jadi suami saja sudah berani kasar padaku" ucap Mia dalam hati.


Alan seakan mengetahui isi hati Mia, Alan memintap maaf pada Mia karena sikap kasarnya tersebut. Mia memaafkan Mia sambil meneteskan air mata.


" Kenapa kamu menangis ? " tanya Alan pada Mia.


" Aku sedih mas, Kemarin aku di pecat oleh Sofi. Sekarang mas marah-marah sama aku. Aku sengaja pergi kemari untuk refresing, malah pulangnya di buat pusing. Aku tahu mas posisi aku hanya sebagai simpanan, tapi mas jangan seenaknya gitu marah sama aku" ucap Mia dengan desahan tangisannya yang tulus.


Alan yang sedang mengendarai mobilnya mendengar perkataan Mia. Alan berkali-kali minta maaf sama Mia dan Mia memaafkannya.


" Apa mas benar-benar ingin tahu?" tanya Mia dengan wajah sembab melihat ke Alan yang sedang fokus melihat jalanan.


" iya" jawab Alan.


" Aku begini karena aku mencintaimu mas,! " ucap Mia.


" Dulu memang aku hanya ingin bermain-main saja denganmu seperti kamu yang mendekatiku hanya untuk main-main saja. Namun seiring berjalannya waktu, aku benar-benar tidak bisa jauh darimu. Aku rela kamu perlakukan sekehendak hatimu yang penting aku bisa bersamamu terus" ucap Mia lagi.


Alan terdiam mendengar pengakuan selingkuhannya tersebut.

__ADS_1


" Apa dayaku mas, aku tidak bisa memilikimu seutuhnya" Mia terus menangis dalam mobil dan Alan meremas tangan Mia tanda kepeduliannya sambil terus mengendarai mobilnya.


**


Tidak lama kemudian Mia sampai di rumahnya. Alan mengantar Mia tepat di pintu rumah Mia. Alan berpamitan pulang dan mencium kening Mia. Mia membuka pintu pagar rumahnya tanpa melihat mobil Alan yang menjauh.


" Bagus ya" ucap seorang laki-laki yang berdiri di belakang Mia sebelum Mia membuka pintu rumahnya. Mia membalikkan badannya untuk melihat arah suara.


" Kau !!!! sejak kapan kamu datang?" tanya Mia pada sesosok laki-laki yang dikenalnya. Laki-laki itu memasang wajah penuh emosi menatap Mia.


" Jadi begini kamu di belakang aku? dari pertama memang aku sudah mulai curiga padamu. Kau bukan wanita baik-baik. Aku dari tadi menunggu kamu pulang, aku tidak menyangka bahwa kamu malah pergi dengan laki-laki lain" ucap laki-laki itu lalu bergegas pergi.


Mia tidak bisa berkata apa-apa, saat Alan tadi pamit memang Alan sempat menciumnya. Laki-laki yang baru saja memergoki Mia adalah laki-laki yang suka sama Mia dan di manfaatkan oleh Mia untuk di jadikan sopir.


Hari yang melelahkan buat Mia, setiap hari dia mempunyai masalah yang membuat kepalanya hampir pecah.


***


Hari itu ada satu hal baik yang di dapatkan oleh Mia, Alan membelikan cincin untuk Mia dan memberikan sejumlah uang yang membuat hati Mia menjadi semakin mencintai Alan.


" Sebenarnya cincin ini sudah lama mas beli dan ingin mas berikan pada saat ultah kamu nanti. Tapi karena kita tidak jadi booking kamar, maka mas tidak sempat memberikannya. Maaf ya sayang ! " Mia mengingat saat Alan memberikan cincin untuk kado ultahnya yang sudah lama lewat.


Perasaan kesal karna kepergok tadi membuat Mia kesal, Mia sudah tidak punya lagi laki-laki yang di manfaatkannya sebagai sopir. Rasa kesal Mia hilang seketika dan berubah dengan senyuman saat melihat cincin pemberian Alan yang melingkar indah di jarinya.


Mia menghitung-hitung uang yang diberikan oleh Alan. Mia menghitungnya dengan raut wajah bahagia. Mia seakan lupa bahwa selama ini banyak masalah yang menghampiri.

__ADS_1


" Lumayan buat shoping dan manjain diri di salon. Enak sekali jadi simpanan suami orang, setiap hari di manjakan dengan uang dan kemesraan." gumam Mia.


Alan memang sangat royal pada Mia, Alan rela menghabiskan banyak uang asal bisa membuat hati Mia bahagia. Tentu saja Alan bukanlah laki-laki yang bodoh, Alan juga memanfaatkan Mia untuk melampiaskan hasratnya pada Mia secara gratis.


__ADS_2