
Sudah beberapa malam Mia mimpi buruk, Mia tidak mau menceritakan mimpinya pada siapapun. Mia ingin menceritakan pada orang yang bisa di percaya dan bisa menunjukkan jalan keluar untuknya. Mia teringat dengan Lili yang selalu bisa memberi jalan keluar yang baik untuknya.
" Apa kakak masih marah ya?, aku butuh nasehatnya" Mia mulai berfikir matang-matang sebelum menemui Lili.
Lili sedang tidak ada di rumah saat Mia sudah berada di depan rumah Lili. Mia lupa menghubunginya dulu untuk memastikan keberadaan Lili. Mia berkali-kali menekan bel rumah dan berharap Lili di kamar sedang melakukan sesuatu dan kemudian keluar untuk menemuinya. Tapi sepertinya rumah Lili kosong dan yang punya rumah sedang keluar.
" Kemana ya? sepi " gumam Mia.
Mia kemudian menelfon Lili, berkali- kali di telfon tidak di angkat oleh yang punya HP. Mia beranggapan bahwa Lili masih marah dengannya sehingga Lili tidak ingin bertemu dengan Mia lagi.
Mia kemudian menjauhi pintu rumah Lili yang tertutup dan ingin pulang saja. Tiba-tiba pintu rumah Lili terbuka.
" Mia ! " Lili dengan wajah kusutnya.
"'Karain tidak ada orang"
" Lagi di toilet, sakit perut karna kemarin banyak makan rujak saat arisan"
" Ayo masuk" ajak Lili.
Mereka berdua masuk dan duduk di ruang tamu rumah Lili. Lili membuatkan minuman untuk Mia.
" Tumben datang, pasti mau curhat kan" Kebiasaan Mia yang datang hanya karena ingin curhat sudah di tebak oleh Lili.
" Kwkwkw... tidak juga, bosan di rumah. Aku juga belum punya pekerjaan baru jadi kemari saja. Kakak sibuk?".
" Minggu depan mungkin sibuk jadi kamu tidak usah kemari, rumah kosong. Minggu ini masih bisa kalau kamu mau cerita sesuatu"
Tebakan Lili membuat Mia tidak enak hati jika harus curhat saat baru tiba. Mia mencari cara agar tidak terlihat oleh Lili maksud dan tujuannya ke rumah Lili.
" Ayo kita main game PUBG"
Lili sangat suka bermain PBUG, Lili sering bermain dengan suaminya dan terkadang mengajak Mia ikutan main. Sekali-kali Mia bermain game tersebut dengan Lili namun lebih banyak dia bermain dengan teman-temannya.
" Ok, kakak ambil HP dulu"
Lili masuk ke kamarnya, Lili keluar tanpa membawa HP nya.
__ADS_1
" Mana HP nya Kak?"
" Habis batre" ucap Lili kesal.
Mia merasa senang karena HP Lili habis batre, menurut Mia ini adalah kesempatan baginya untuk menceritakan tentang mimpinya akhir-akhir ini.
" Tahu tidak Kak, akhir-akhir ini aku mimpi buruk" Mia memulai.
" Makanya kalau mau tidur berdoa dulu" jawab Lili saat dia masuk lagi ke kamarnya mengambil HP untuk di isi batrenya.
Lili kembali duduk untuk mendengarkan cerita tentang mimpi buruk Mia. Mia sangat antusias saat melihat sepupunya tidak marah lagi dan mau mendengar ceritanya.
" Aku mimpi 3 malam berturut-turut tentang Alan, dalam mimpi kami sedang berhubungan badan kemudian tiba-tiba aku mati. Awalnya aku cuma menganggap itu hanya sekedar mimpi, tapi setelah 3 malam berturut-turut aku berfikir tentang dosa yang sudah aku lakukan." Mia seakan ketakutan dengan mimpi yang di alaminya.
Lili berfikir sejenak, wajah Lili sangat serius dalam mengartikan mimpi yang baru di alami oleh Mia.
" Mungkin Tuhan menginginkan kamu untuk taubat"
Mia terdiam sejenak berfikir tentang perkataan nya Lili. Mia merasa selama ini dia sudah melakukan suatu kesalahan yang membuat Tuhan menegurnya dari dalam mimpi.
" Apa aku harus mengakhiri hubungan aku dengan Alan?"
Atara sedih dan senang dengan jawaban yang diberikan oleh Lili. Mia senang jika dia bisa jauh dari Alan, tapi sedikit sedih karena Alan merupakan pohon uang yang bisa di manfaatkan untuk membayar hutang mantan suaminya.
" Kalau Alan aku tinggalkan, siapa yang akan membantu aku membayar hutang?"
" Berusahalah untuk mandiri, jika kamu selalu bersandar pada hidup orang lain maka selamanya kamu akan begitu" jawab Lili.
Mia pulang setelah beberapa jam di rumah sepupunya tersebut. Mia tidak lantas pulang ke rumahnya tapi mampir di rumah rumah Rini melihat persiapan pernikahannya Rini.
**
Sudah jam 10 malam Mia belum pulang dari rumah Rini. Mami menunggu Mia hingga membuat Mami naik darah.
" Kemanalah anak itu pergi, tidak lihat jam sudah hampir tengah malam?!" Mami bicara sendiri.
Mia yang baru sampai memasukkan sepeda motornya ke garasi. Mami menemui Mia dengan cepat, Mami denga wajah Mak lampir hendak memarahi Mia.
__ADS_1
" Aku lagi capek, jadi jangan marah-marah"
Mia mengetahui isi hati Maminya yang ingin memarahinya. Mia masuk ke rumah dan ke kamarnya dan diikuti oleh Mami dari belakang.
" Kenapa lama sekali pulangnya Mia!" Mami berbicara setengah berteriak.
" Memangnya kenapa Mi!!!" Suara Mia keluar lebih besar dari Maminya.
" Tadi rentenir datang, sudah berapa lama kamu tidak membayar hutangnya Robert?" tanya Mami cemas.
" 3 bulan, Aku tidak punya uang Mi. Sekarang saja aku tidak kerja lagi, jadi dari mana aku bisa dapatkan uang untuk membayar hutang?!" Mia yang baru pulang dan lelah dibuat naik darah dengan berita kedatangan rentenir yang menagih hutang.
" Kamu minta saja sama Robert, bukankah itu hutang dia" Mami mulai kesal dengan sikap Robert yang tidak mau ikutan membayar hutang mereka.
" Besok aku ke rumahnya Robert, sekarang aku mau istirahat Mi" Mia menyuruh Mami meninggalkannya di kamar.
Mami keluar dengan wajah muramnya. Mia menggaruk kepalanya yang tidak gatal akibat kebingungan mencari uang untuk membayar sisa hutang mantan suaminya.
" Saat aku ingin memutuskan hubungan dengan Alan, malah masalah baru datang yang membuat aku tidak bisa membuang Mas Alan untuk sementara." gumam Mia.
Mia menghubungi Alan yang sedang berdinas malam di kantornya. Banyaknya kerjaan hingga membuat Alan sering di kantor dan jarang menghubungi Mia.
" Mas ! kapan kita bisa ketemu?" tanya Mia pada sang kekasih gelap.
" Kapan saja bisa sayang, cuma saat ini Mas lagi ada kerjaan sedikit." kata Alan.
" Bagaimana kalau besok sore? " Alan menimpali.
" Besok tidak bisa, aku mau ke rumah mantan suami aku Mas" ucap Mia dengan suara lelahnya.
" Kapan bisanya kamu saja sayang" kata Alan.
" Nanti aku hubungi lagi ya, selamat malam sayang. " pamit Mia pada Alan.
***
Mia memutar otak mencari kata-kata yang tepat untuk di keluarkan saat bertemu dengan Robert esok hari. Mia sudah sangat gerah dengan sikap cuek Robert terhadap hutangnya. Mia juga perlu membawa seorang teman untuk menemaninya ke rumah Robert esok.
__ADS_1
" Rini tidak mungkin bisa menemani aku ke rumah Robert, siapa yang bisa ya?" Mia bertanya pada diri sendiri.
" Oo... Dilla saja" ucap Mia.