Diary Pelakor

Diary Pelakor
Rentenir


__ADS_3

Mia sedang tidak berada di rumah saat seorang penagih hutang datang ke rumahnya. Mami menyuruh rentenir tersebut untuk menghubungi Mia namun rentenir itu marah-marah pada Mami dan meminta agar Mami menelfon Mia segera.


" Perjanjiannya kan harus di bayar tiap bulan Bu, kenapa sering sekali nunggak?" Kata rentenir tersebut pada Mami.


" Saya tidak tahu Pak, nanti Bapak bisa tanya langsung sama anak saya" ucap Mami.


Rentenir itu menunggu Mia di depan rumah Mia, Mami menelfon Mia dan beberapa saat kemudian Mia pulang.


" Maaf Pak, beberapa bulan ini keuangan saya anjlok jadi saya tidak punya uang cukup untuk membayar hutang saya" ucap Mia sopan.


" Harusnya kamu kabari saya bukan malah diam-diam begini" ucap rentenir tersebut marah.


" Iya Pak, sekali lagi saya minta maaf" ucap Mia lirih.


Rentenir tersebut menunjukkan bukti pembayaran Mia yang nunggak dan berikut bunga yang harus di bayar jika masa pembayaranya di perpanjang. Mia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan meski hatinya sangat tidak suka dengan sikap yang di tunjukkan oleh rentenir tersebut.


" Dasar lintah darat" pikir Mia sambil menyimak penjelasan si rentenir.


Tidak lama rentenir tersebut pulang dan membuat Mami merasa lega.


" Kenapa kamu tidak bayar tepat waktu Mia?" ucap Mami saat melihat rentenir tersebut sudah menghilang dari pandangan mereka.


" Aku belum punya uang Mi, aku tidak tahu harus cari uang kemana agar bisa melunasi semuanya" ucap Mia bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Gali lobang tutup lobang saja" Mami memang sudah terbiasa berhutang sana sini, Mami selalu gali lobang tutup lobang saat berhutang pada orang.


" Memangnya ada yang mau hutangin uang sebanyak itu Mi? tanya Mia.


" Ya rentenir lah sayang, Mami punya kenalan rentenir yang suku bunganya lebih lecil. Kamu bisa pinjam uang sama dia, tapi Mami di kasih komisi juga kalau kamu berhasil." ucap Mami.


" Nanti aku pikirkan Mi, aku mau tidur dulu, capek."


Mia mengistirahatkan badannya yang kelelahan karena mencari uang. Uang yang Mia kumpulkan tidak cukup untuk membayar hutang mantan suaminya tiap bulan, belum lagi Mia harus menafkahi keluarganya karena Papinya sakit dan adik-adiknya seakan tidak berperan. Keperluan Mia sehari-hari seperti kosmetik dan uang jajan untuk dirinya sendiri juga kurang.


" Apa yang harus aku lakukan?" tanya Mia pada dirinya sendiri.

__ADS_1


*


Mia nongkrong di sebuah kafe dengan dua temannya yaitu Rini dan Dilla. Mia tidak bersemangat ngopi bersama mereka karena masih ingat pada rentenir yang datang ke rumahnya.


" Apa kamu baik-baik saja Mia? " tanya Rini yang dari tadi memperhatikan Mia tidak seceria biasanya.


" Aku lagi pusing mikirin hutangnya Mas Robert, kemarin rentenir datang ke rumahku nagih sisa hutangnya. Mas Robert sedikitpun tidak mau membayarnya" ucap Mia lirih.


" Mas Robert kok tega ya? " ucap Dilla.


Mia meneguh jus jeruknya yang dingin untuk mendinginkan hatinya yang sedang panas dengan hutang dan sikap Robert.


" Kamu coba saja telfon mantan suamimu itu, minta uangnya" kata Rini.


" Aku kapok berurusan sama mereka, mereka itu bukan manusia" ucap Mia.


" Betul sekali, aku pernah melihat Mia di usir saat minta uang sama Mas Robert. Orang tua nya Robert malah bersikap kasar pada Mia" ujar Dilla.


" Aku harus gimana ya Rin ? La?" tanya Mia


Mia mengerti bahwa teman-temannya juga tidak punya uang segitu. Mia kembali meneguh minumannya dan kembali berpikir mencari jalan keluarnya.


**


" Tadi yang mau pinjamkan uang datang kemari, Mami bilang kalau kamu mau pinjam uang" ucap Mami saat Mia di antar pulang oleh Rini.


" Siapa yang mau pinjam uang Mi? Aku kan sudah bilang bahwa aku mau berpikir dulu" ujar Mia sambil duduk di dekat mami di kursi beranda rumahnya.


" Ngapai kamu pikirkan lagi? ikut saja saran dari Mami. gali lobang tutup lobang saja" ucap Mami.


" Terserah Mami lah, aku capek" Mia beranjak masuk ke rumah menuju kamarnya.


Mia merasa berhutang untuk tutup hutang lama itu adalah mencari masalah yang baru, namun saat ini Mia tidak punya pilihan lain selain mencari pinjaman untuk menutup hutang mantan suaminya.


" Bagusan aku jadi simpanan Om-Om, jadi aku tidak perlu susah-susah cari uang. Kalau butuh uang tinggal minta dan tidak ada beban" gumam Mia.

__ADS_1


Mia membenamkan diri dalam tempat tidurnya, besok dia akan bekerja lagi jadi dia butuh istirahat sejenak.


" kalau aku ngutang lagi, aku akan ngutang lebih banyak sedikit agar ada sisa buat aku belanja" pikir Mia.


***


Mia sudah siap sarapan saat Mami menanyakan tentang persoalan pinjam hutang lagi. Mia belum memberi jawaban yang pasti sehingga Mami terus bertanya tentang hal yang sama pada Mia.


" Nanti pulang kerja aku kasih jawabannya Mi, aku masih mikir." ucap Mia.


" Lama sekali kami mikirnya, entar keburu rentenir itu datang lagi nagih hutang sama kamu" ujar Mami.


"Masih lama tanggal bayarnya, jadi aku masih punya waktu untuk berpikir." Mia menaiki motornya dan pergi ke tempat kerjannya.


Dalam perjalanan Mia masih terus berpikir jalan keluarnya, sesekali Mia melihat orang di depannya yang membawa mobil dengan santai bersama keluarganya. Mia merasa iri akan kebahagian yang mereka tunjukkan.


" Andai Papi masih kaya, mungkin aku tidak harus kerja seperti ini" Mia menyesali hidupnya.


Mia sampai di tempat kerjanya dan memarkir motornya di tempat biasa. Teman satu pekerjaannya sudah datang dan melihat ke arah dia dengan senyuman ramah mereka. Mia membalas senyum mereka dan senyum tukang parkir yang selalu ramah memarkir keretanya.


" Bos sudah datang?" tanya Mia pada salah satu temannya.


" Belum, mungkin sebentar lagi" ucap teman yang diajak bicara tersebut.


Mia terkadang berpikir untuk meminjak uang pada Bos tempat kerjanya, tapi terkadang diurungkan niatnya, Mia takut jika dia terlalu banyak berhutang maka dia tidak akan sanggup untuk membayarnya.


" Itu Bos" ucap teman pria yang duduk di dekatnya.


Mia memberi senyum pada Bos nya dan dia tidak jadi meminta pinjaman pada Bos baiknya tersebut.


" Tidak usah saja, kalau tidak di kasih malah jadi malu nantinya" pikir Mia saat melihat Bosnya berjalan melewatinya.


Mia kembali bekerja dan melakukan pekerjaannya seperti biasa. Untuk sejenak Mia melupakan masalah hutangnya dan fokus pada pekerjaan yang sedang di gelutinya. Mia berharap akan ada jalan keluar di setiap masalahnya.


" Nanti saja aku pikirkan lagi" pikir Mia saat seorang konsumen datang dan bertanya tentang ponsel yang akan di belinya.

__ADS_1


__ADS_2