
Mami sudah pulang saat Mia datang ke rumah sakit. Mia menuju ke ruang inap Papi dan membawakan buah-buahan yang mungkin di sukai Papi. Selama di rumah sakit Papi jarang sekali makan, Papi lebih suka tidur atau menonton acara tv untuk menghilangkan rasa suntuknya.
" Papi mau buah?" ucap Mia pada Papinya.
" Tidak, Papi mau tidur saja" Ucap Papi pelan.
" Setidaknya makanlah sesuatu agar Papi cepat sembuh." Pinta Mia pada Papinya.
Papi menolak dengan menggelengkan kepalanya. Papi menghadap ke kanan dan tertidur. Mia menyelimuti Papi yang tertidur kemudian duduk di sofa ruangan Papi.
Mia merasa bosan sendiri menunggu dengan hanya duduk di ruangan Papi. Sementara Papi tidur, Mia berniat keluar sekedar untuk menghirup udara segar.
*
Saat sedang berdiri di taman depan rumah sakit, Guru kelas Zul menelfon Mia agar mengambil Rapor Zul yang sudah di bagikan hari itu. Mia tidak bisa meninggalkan Papi sendirian di rumah sakit hanya untuk mengambil rapor, Mia menelfon Mami yang sudah lama pulang tapi belum balik-balik.
" Mami kemana ya, kenapa lama sekali?!" pikir Mia.
Mami tidak mengangkat telfon dari Mia, berkali-kali Mia menghubungi namun tidak ada jawaban. Mia kemudian menelfon Egi agar mengambil rapot milik Zul di sekolahnya. Egi juga tidak menjawab telfon dari Mia. Mia kemudian berjalan menuju ke ruangan Papi di rawat, Mia tidak menemukan kedatangan Mami di sana.
Tiba-tiba dokter datang ke ruangan Papi dan memeriksa keadaan Papi. Dokter menyarankan untuk membeli satu obat yang tidak tersedia di rumah sakit. Dokter meminta agar obat tersebut segera di beli dan di berikan pada Papi.
Kesabarn Mia sampai pada puncaknya, Mia harus segera membeli obat dan mengambil rapor pada jam yang sama, sedangkan Mia tidak bisa meninggalkan Papi sendirian di kamarnya. Mia mengupat-upat sendiri hingga Mami datang 2 jam kemudian.
" Mami kemana saja? gurunya Zul telfon di suruh ambil rapor dan dokter meminta aku untuk membeli obat sekarang juga." ucap Mia dengan nada kesal.
" Mami tadi ketemu sama kawan lama, jadi ngobrol sebentar" ucap Mami santai.
Mia tidak memperdulikan ucapan Maminya dan terus berlalu untuk membeli obat dan mengambil rapor. Saat keluar dari rumah sakit, Mia melihat Alan dengan istrinya memasuki rumah sakit. Alan tidak melihat Mia yang berjalan di belakangnya. Alan terus berjalan memasuki rumah sakit.
" Mas Alan sedang apa ya?" pikir Mia.
Mia tidak ingin mencari tahu apa yang ingin dilakukan Alan di rumah sakit. Mia buru-buru untuk membelikan obat untuk Papi dan mengambil rapor milik Zul. Mia menggunakan sepeda motor miliknya dan terus melaju ke arah apotik.
__ADS_1
**
Sehabis membeli obat untuk Papinya, Mia menancapkan gas menuju sekolah Zul. Mia sampai di sekolah setelah 15 menit kemudia. Saat Mia memasuki ruang guru kelas, Mia melihat sang guru yang sedang bersiap-siap hendak pulang.
" Sudah lama saya menunggu kamu datang, kenapa baru sekarang datang?" tanya Guru kelas Zul.
" Maaf Bu tadi saya ada perlu sebentar" ucap Mia sopan.
" Saya sudah menghubungi kamu dari sejak tadi pagi, harusnya kamu datang lebih cepat. Sekarang kamu sudah membuat saya menunggu sangat lama" ucap Bu guru kesal.
Sang guru memberikan rapor milik Zul pada Mia. Mia mengambilnya kemudian pamit pada sang guru. Mia pulang dengan wajah masam karena tidak senang dengan ucapan gurunya.
Mia menyimpan rapor Zul di rumahnya dan pergi lagi menuju rumah sakit untuk memberikan obat yang di minta oleh dokter. Mia menyerahkan obat pada perawat dan masuk ke ruang Papi di rawat.
" Mana rapornya ?" tanya Mami.
" Sudah aku simpan di rumah" ucap Mia kesal.
" Iya, jangan lupa cuci piring dan sapu rumah" ucap Mami.
" Apa ?!, jadi dari tadi Mami pulang rumah belum di sapu da piring belum di cuci?" ucap Mia semakin kesal.
" Mami tidak sempat" ucap Mami.
Mia tidak memperdulikan perkataan Mami nya, dia meninggalkan Mami dan Papi di rumah sakit dan buru-buru pulang ke rumah.
***
Di parkiran kendaraan Mia bertemu dengan Alan dan Istrinya yang juga sama-sama hendak pulang. Mia hanya menatap ke arah mereka dengan pandangan iri sedangkan Alan pura-pura tidak tahu bahwa Mia berada di situ. Mia mengambil sepeda motor miliknya dan bergegas pulang.
" Sombong sekali Mas Alan" pikir Mia dalam perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah Mia melihat rumah yang sangat berantakan dan kamarnya yang juga berantakan. Mia segera merapikan kamarnya namun tidak merapikan bagian lain rumahnya. Selesai beberes Mia merebahkan badannya di tempat tidur untuk mengistirahatkan badannya.
__ADS_1
" Hari ini melelahkan dan menyebalkan" gumam Mia kesal.
Mia mulai memejamkan matanya dan tiba-tiba bunyi pesan dari WA nya.
Alan : Lagi apa sayang?
Mia melihat pesan dari Alan dan tidak membalasnya. Mia merasa marah saat bertemu di parkiran tadi Alan tidak menoleh ke arahnya sedikitpun seolah mengisyaratkan bahwa Alan lebih menjaga perasaan istrinya ketimbang perasaannya.
Hati Mia bergejolak saat dia tidak ingin mrmbalas pesan WA dari sang kekasih gelapnya. Mia kemudian mengambil HP nya dan membalas pesan yang masuk dari Alan.
Mia : Istirahat.
Mia menulis pesan sangat singkat dan terkesan marah agar Alan bisa membaca perasaannya saat itu. Mia membanting HP nya di tempat tidur yang empuk setelah mengirim pesan untuk Alan.
Alan : Marah ya sayang ? Maaf ya, tadi ada istri mas jadi mas tidak berani menyapa.
Alan mencoba untuk menenangkan hati Mia agar Mia tidak marah lagi padanya. Namun Mia tetap saja dengan amarahnya dan malas membalas pesan WA dari Alan.
Mia : Iya mas, Mas pasti lebih menjaga perasaan istri mas dari pada perasaan aku.
Dari pesan yang barusan Mia kirim terlihat jelas bahwa Mia sedang marah dan cemburu dengan kejadian di parkiran tadi. Alan kemudian menelfon Mia agar bisa membujuk hati Mia yang sedang galau.
" Maafin Mas ya sayang, Mas hanya menjaga perasaan dia sebelum Mas menceraikannya" ucap Alan.
" Jadi Mas akan menceraikannya?" ucap Mia senang.
" Iya,, demi kamu apapun akan Mas lakukan" ucap Alan dengan penuh harapan.
Rasa lelah Mia berganti dengan bahagia saat Alan memberinya harapan akan menikahinya setelah ia menceraikan Istrinya. Mia mulai berhayal tentang hal-hal yang akan membuatnya bahagia nanti saat sudah menikah dengan Alan. Mia juga berjanji akan bersikap baik dan menyayangi anaknya Alan.
" Jika aku dan Mas Alan sudah menikah nanti, aku akan jadi istri dan Ibu yang baik buat anak-anaknya. Meskipun mereka bukan anakku tapi aku akan memperlakukan mereka seperti anak sendiri." Janji Mia pada dirinya sendiri.
Mia larut dalam hayalan cintanya.
__ADS_1