
Pagi-pagi sekali Mia bangun untuk berangkat ke tempat kerja barunya. Mia mengenakan baju setelan khusus SPG yang memang di wajibkan pakai oleh pemilik toko ponsel tersebut. Mia bersemangat bekerja untuk mencari pundi-pundi rupiah agar bisa menutup setiap cicilan hutang mantan suaminya pada rentenir.
Semenjak berpisah dengan Alan, keuangan Mia sudah mulai menipis. Mia harus bekerja keras siang malam serta kerja sampingan seperti memulai kembali berjualan melalui online. Kali ini yang jual oleh Mia adalah ponsel-ponsel yang sudah tersedia di toko tempat dia bekerja.
Mia juga meminta Lili dan Tante agar membantunya untuk mempromosikan jualannya pada teman-teman Tante dan Lili atau orang-orang lain seperti tetangga Tante dan Lili agar jualannya banyak yang beli.
*
Sesampainya di tempat kerja, Mia bekerja seperti biasa, namun Mia sedikit agak murung karena masih teringat dengan perlakuan Alan padanya. Mia sudah menaruh banyak harapan pada Alan.
" Lihat saja nanti, aku akan bilang sama istrimu kalau kamu itu tidak setia" pikir Mia.
Mia tidak terima perlakuan Alan yang selingkuh di belakangnya. Mia merasa itu adalah penghinaan terhadapnya. Mia terus memikirkan perbuatan Alan dan mengupat sendiri saat sedang bekerja. Pisahnya Mia dengan Alan membuat Mia tidak konsentrasi dan tidak semangat dalam bekerja.
**
Mia merasa bosan sendiri saat di kamar, tidak ada yang menemaninya bahkan tidak ada yang mengirimkannya sebuah pesan. Mia terkadang ingat dengan semua pacar-pacarnya yang tidak satupun bisa dijadikan cinta sejati. Terkadang Mia bernyanyi sendiri lagu-lagu sendu yang menggambarkan isi hatinya saat ini.
" Apa aku akan sendiri terus?" pikir Mia.
Rasa takut akan kesendirian dalam menjalani hidup tetap di rasakan Mia, meski Mia sangat percaya diri dengan kecantikan yang di milikinya, Mia tetap saja was-was jika dia akan menua dalam kesendiriannya.
" Kenapa tidak ada yang bertahan lama denganku, padahal aku sangat cantik dan hampir sempurna" Mia mulai resah dengan hilangnya semua laki-laki yang dulu sangat mengaguminya dan tidak ingin kehilangannya. Nyatanya sekarang semua sudah pergi dengan wanita yang mereka anggap lebih baik.
***
Mami datang dengan berita bahwa Papi masih lemas dan belum bisa beraktivitas seperti biasa, Zul minta uang karna dia tidak ada pegangan uang saat dia di penjara. Semua masalah dalam keluarga Mia membuat Mia menjadi pusing.
__ADS_1
" Aku pusing Mi...kenapa semua harus aku yang tangani?" ucap Mia pada Mami saat Mami meminta uang untuk Papi dan adiknya Zul.
" Jadi Mami harus minta uang pada siapa? Papi sudah tidak bekerja lagi dan kamu tahu sendiri bahwa uang simpanan Papi di Bank sudah lama habis" kata Mami.
" Kamu minta saja sama pacarmu yang polisi itu" ucap Mami lagi setelah berfikir beberapa saat.
" Aku malu Mi, Mami kok matre sekali sih Mi? dia bukan suamiku Mi jadi tidak mungkin aku minta uang seenak hati gitu" Mia kesal dan memasang muka sebal dengan ucapan Maminya.
" Entar kan bisa jadi suami kamu juga" ucap Mami dengan nada yang kurang enak.
" Aku sudah putus sama dia Mi" ucap Mia singkat.
Mia menjatuhkan diri ke tempat tidurnya yang empuk. Persengketaan dia dengan Mami tidak ada ujungnya jika terus dilanjutkan. Mami yang juga duduk di tempat tidur Mia bangun dan beranjak dari kamar Mia. Mia hanya melihat punggung Mami yang berjalan membelakanginya.
" Hidup ku saja susah, gimana mau bantu orang tua?" gumam Mia.
****
" Kalau tidak masuk kerja apa tidak di potong gajimu nanti" tanya Mami saat melihat Mia dengan segar bugar mondar mandir ke dapur.
" Aku alasan sakit Mi, orang sakit mana bisa kerja" ucap Mia sambil mengambil beberapa roti lapis dan mengolesinya dengan selai strowberry.
" Kamu makan banyak sekali, memangnya kamu tidak diet lagi?" tanya Mami lagi saat Mia sudah menghabiskan 8 biji roti lapis.
" Besok diet lagi" ucap Mia singkat.
Mami kembali melanjutkan pekerjaannya, Mia membuka lagi kulkas dan menuangkan segelas penuh jus jambu yang di belinya kemarin.
__ADS_1
" Kalau hati lagi kacau memang ini solusinya, makan sampai tidak ada waktu untuk mikirin dia." pikir Mia sambil mengunyah sisa roti lapisnya.
*****
Sehabis makan siang, Mia duduk di samping rumahnya dengan seorang tetangga yang juga memiliki hubungan darah dengannya. Seorang Ibu-ibu yang merupakan Kakak dari Mami dan sering di sebut Bude oleh Mia.
" Si Kakak sekarang sudah besar anaknya" Pamer Bude pada Mia.
Bude yang merupakan Kakak dari Mami Mia tidak terlihat seperti seorang Bude. Dia lebih terlihat seperti orang asing yang selalu membandingkan anaknya dengan anak-anak orang lain yang hidupnya kurang beruntung. Yang paling sering Bude bandingkan adalah Mia dengan anaknya Bude yang juga seumuran dengan Mia yang sekarang sudah menikah dan punya anak.
" Iyalah karena dia punya suami makanya anaknya sudah besar" ucap Mia sewot.
Rumah Bude berada di sebelah rumah Mia, Bude hampir setiap hari datang ke rumah Mia baik hanya sekedar mampir atau mengajak Mami untuk bergosip.
" Aku lagi pusing Bude, tolong jangan ganggu aku dulu" pinta Mia pada Bude yang sedang duduk di sampingnya seakan mengajak Mia untuk bergosip sesuatu.
" Kamu kenapa? putus cinta?" Bude seperti peramal yang tahu bahwa saat itu Mia sedang galau karena baru putus cinta dengan pujaan hatinya.
" Galau apanya? " tanya Mia menutupi kegalauannya.
" Muka kamu terlihat masam dan kurang semangat, kayak orang baru putus cinta saja" kata Bude.
" Bukan putus cinta Bud... !! aku lagi tidak enak badan, lagian aku memang lagi tidak ingin pacaran." ucap Mia lagi.
" Kalau tidak ingin pacaran, kawin saja" ucap Bude seadaanya.
Bude memang suka berbicara seadanya tanpa di pikirkan terlebih dahulu, Perkataan Bude kadang-kadang tidak di perdulikan oleh Mia. Mia lebih senang diam jika Bude sudah duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Keluarga sebelah Papi semua baik dan hidup bahagia, tapi keluarga sebelah Mami semua bermasalah dan tidak bisa dijadikan panutan. Aku tidak mau nasibku seperti keluarga-keluarga Mami." pikir Mia kemudian.