
Masalah ekonomi yang di hadapi keluarga Mia membuat mereka harus berurusan dengan rentenir setiap saat. Kali ini Mia harus menggali lobang baru agar lobang lama tertutupi. Mia tidak punya pilhan lain selain berhutang lagi pada rentenir yang lain. Kebiasaan Mia dan keluarga Mia yang boros membuat mereka terus-terusan tidak cukup dalam masalah ekonomi.
" Mi.. kapan kita akan ke tempat rentenir itu?" tanya Mia pada Mami yang sedang mengangkat jemuran saat Mia baru pulang dari tempat kerjanya.
" Nanti malam saja, sekalian Mami juga mau mampir di tempat kawan Mami" ucap Mami sambil terus mengangkat jemurannya.
Mia kemudian masuk ke kamarnya dan bergegas mandi, rasa lelah dan gerah yang dia rasakan hilang dan berganti dengan rasa segar saat setelah dia mandi.
Mia memperhatikan daftar jumlah tagihan hutang yang harus di lunasi jika dia melunasi semuanya.
" Apa aku hanya membayar sebagian dulu ? setidaknya untuk setahun ini aku tidak kepikiran tentang hutang itu. Terus kalau aku pinjam yang baru, berapa perbulannya? " gumam Mia sambil berpikir jalan terbaik dan dia tidak mau ada yang salah.
Mami tiba-tiba masuk saat Mia sedang serius menghitung jumlah hutangnya.
" Kamu tanya-tanya saja dulu nanti, biar jelas sebelum kamu mau meminjam uang pada orang itu" jelas Mami.
*
Malam harinya Mia dan Mami sudah siap menuju ke rumah tempat mereka akan meminjam uang. Ada rasa senang dalam hati Mami karena jika Mia jadi meminjam uangnya maka Mami akan dapat komisi dan pastinya akan digunakan oleh Mami untuk membeli baju baru.
Mia tidak berpikir apapun saat itu, Mia fokus pada jalanan yang macet dan hiruk pikuk kendaraan di jalan yang membuat suasana menjadi sangat ramai. Mami yang duduk di belakang terus berhayal tentang baju akan di belinya dan model yang akan di pilihnya. Tentu saja Mami akan bergaya di pesta pernikahan anak tetangga mereka yang akan melangsungkan pesta minggu depan.
" Apa ada orangnya di rumah?" tanya Mia tiba-tiba.
" Mami rasa ada, dia jarang keluar kalau sudah malam" ucap Mami.
__ADS_1
" Tahu saja Mami, apa Mami sudah terbiasa kemari" tanya Mia yang sedang memasuki lorong rumah yang akan mereka tuju.
" Mami pernah pinjam uang sama dia sekali saat pesta di komplek sebelah" ucap Mami.
Mia berhenti di sebuah rumah yang berwarna putih dengan halaman yang luas tanpa tanaman sedikitpun.
" Rumahnya sepi sekali, aku tidak yakin ada orang" ucap Mia.
" Ayo masuk, dia sudah tahu kalau kita mau kemari" Mami menarik tangan Mia masuk ke halaman rumah putih tersebut dan mereka berhenti di pintu rumah kemudian membunyikan bel.
Seorang Ibu keluar dan membukakan pintu rumah dan menyapa kami dengan ramah. Ibu itu sudah berusia kira-kira 50 tahun dengan rambut yang pangkas laki dan badannya sangat gemuk. Dia mengenakan baju daster merah jambu dan emas di tangannya seperti toko emas berjalan.
" Silahkan masuk! " Dengan ramah Ibu yang biasa di panggil Kak Bot itu menyuruh kami masuk dan duduk di kursi ruang tamu miliknya.
Mia dan Mami masuk dan duduk kemudian Kak Bot masuk ke dalam kamarnya. Mia dan Mami menunggu di ruang tamu hingga Kak Bot keluar dengan membawa sebuah buku catatan.
" Iya Kak, ini anak pertama aku" ucap Mami santai seakan Kak Bot itu sahabatnya.
Mia hanya melempar senyum sopan pada Kak Bot, Mia memperhatikan Kak Bot yang berbicara dengan Mami sambil membuka-buka buku catatannya satu persatu.
" Kakak sudah tahu maksud Mia datang" ucap Kak Bot pada Mia.
" Kakak pernah lewat di depan rumah kalian ngutip uang dari orang-orang yang minjam sama kakak, kebetulan ketemu sama Mami kamu dan dia menceritakan masalah yang kamu hadapi saat ini. Kakak bisa bantu kamu tapi sebelumnya kamu harus tahu syarat-syaratnya agar nanti kita sama-sama enak" ucap Kak Bot panjang lebar sambil memberikan sebuah kertas yang bertuliskan syarat-syarat dan tanda tangan bermaterai 6000.
" Apa ini harus aku tanda tangani Kak?" tanya Mia setelah membaca syarat-syaratnya.
__ADS_1
" Sudah di baca semua? kalau sudah kamu harus berikan foto kopi KTP dan tanda tangan dibawah ini" ucap Kak Bot sambil menunjukkan bagian yang harus di tanda tangani oleh Mia.
Mia melakukan semua yang di suruh oleh Kak Bot, Kak bot menjelaskan teknik pembayarannya dan semua yang harus di setujui oleh Mia.
" Besok Kakak transfer uangnya karena jumlah yang kamu pinjam sangat banyak jadi tidak mungkin kamu pulang dengan membawa uang sebayak itu.
" Iya Kak, kalau begitu kami pamit dulu" ucap Mia.
" Baik" ucap Kak Bot.
Mia dan Mami meninggalkan rumah Kak Bot dan menujunke rumah teman Mami yang tidak jauh dari situ. Mia menemani Mami meski hati Mia mulai merasa bosan dan lelah, Mia tidak enak menolak ajakan Mami karena Mami sudah mau menemaninya ke rumah Kak Bot.
Setalah beberapa saat di rumah teman Mami, mereka berdua pulang karena jam sudah menuju pukul 11 malam. Mereka tidak enak hati meninggalkan Papi hanya berdua dengan Egi yang kadang lupa untuk menjaga Papi yang sedang sakit dan tidur di kamarnya.
*
Mia merasa sangat lelah saat sudah berada di kamarnya, untuk sejenak masalah keuangan dia terkendali. Mia belum tahu nanti gimana ke depannya, yang dipikirkan Mia adalah terus bekerja untuk menutupi hutang dia yang baru.
" Setidaknya aku sudah tidak berurusan dengan lintah darat yang jantan itu" ucap Mia kesal.
Mia mencoba untuk menenangkan otaknya yang kalut, dia tahu bahwa yang dilakukannya adalah membuat masalah yang baru, namun untuk sementara Mia tidak punya pilihan lain. Terkadang saat Mia sendirian seperti saat ini Mia teringat dengan masa-masa kejayaannya dulu, saat Papi masih kaya dan punya suami yang juga kaya dan dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya dalam hidup.
Dulu Mia sering berbelanja, liburan, dan menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting. Sekarang semua sudah jauh berubah, Mia tinggal di rumah yang sangat tidak layak dengan orang tua yang sakit dan kedua adiknya yang bermasalah. Keaadaan ini membuat Mia merasa bahwa ini adalah hukuman buat dia yang selama ini sudah tidak bisa menghemat dan tidak bisa menjaga apa yang sudah jadi miliknya.
" Sebaiknya aku tidur, besok sudah bekerja lagi" pikir Mia.
__ADS_1
Mia memejam matanya, untuk sesaat dia masih memikirkan apakah hidupnya yang susah ini hanya mimpi. Dia membuka matanya untuk memastikan bahwa dia memang bermimpi, namun saat dia membuka mata dia sadar bahwa semua ujian ini adalah nyata.