
Kepala Mia terasa sakit saat bangun pagi dan teringat tentang hutang mantan suaminya. Mia segera bangun dan menghubungi Dilla agar nanti bisa menemaninya ke rumah orang tua mantan suaminya.
Dilla merupakan teman Mia saat SMA, Dilla yang juga mengenal Robert dan keluarganya tidak keberatan jika Mia memintanya untuk menemani dia ke rumah orang tua Robert.
Dilla pernah mengatakan pada Mia bahwa Robert sebenarnya sudah memiliki anak dari mantan pacarnya. Robert hendak menikahi mantan pacarnya tersebut akan tetapi wanita itu menolaknya. Wanita itu tidak suka dengan keluarga Robert yang tidak jujur dan suka menyalahkan orang lain.
Mia terkadang berfikir apakah semua yang dikatakan ole Dilla itu betul atau salah. Mia ingin sekali bertanya langsung pada orang tua Robert perihal anak Robert yang sudah ada sebelum mereka dulu menikah.
*
Mia yang masih mengenakan baju tidur warna silver duduk di jendela kamarnya. Matanya menatap langit pagi yang masih segar dan menenangkan.
" Apa hidup ku akan begini terus" pikir Mia dalam benaknya.
Perjalanan hidup Mia yang masuk katagori hancur menjadi mimpi buruk buat Mia. Setiap hari Mia memikirkan hidup dia ke depannya. Mia sering merasa iri dengan hidup orang lain yang terlihat sempurna di matanya. Saat dia membayangkan hidupnya, yang teringat hanya Egi yang pernah masuk penjara, Robert yang memakai n menjual narkoba, zul yang menikam orang dan sekarang di sel, Papi yang jatuh miskin dan penyakitan dan Mami yang hingga saat ini belum bisa menghilangkan sifat matrenya.
" Tidak ada yang bisa di andalkan" gumam Mia dalam lamunannya.
Mia keluar dari kamarnya menuju ke dapur, Mami yang sedang menyiapkan sarapan meminta Mia agar membuatkan teh untuk mereka semua.
" Mi , apa Papi tidak punya simpanan uang lagi?" tanya Mia.
" Uang Papi sudah habis terpakai untuk Papi berobat, Mami saja sudah tidak bisa lagi belanja" ucap Mami kesal.
" Belanja saja yang Mami pikirkan, baju Mami kan sudah banyak Mi" Mia kesal dengan Maminya.
Mia meneguh teh yang baru di buatnya.Pikiran Mia melayang kemana-mana, Mia berfikir apa dia sanggup bertemu dengan Robert dan orang tuanya. Mia tahu betul bahwa orang tua Robert sedikit angkuh dan tidak mudah di ajak bicara.
**
Sore harinya Mia menjemput Dilla di rumahnya, Dilla sudah siap saat Mia datang. Namun anak Dilla saat itu sedang sangat rewel sehingga Mia menunggi Dilla hingga dia bisa membujuk anaknya yang sedang menangis.
" Apa anakmu sakit?" tanya Mia yang merasa tidak enak sudah membuat Dilla harus meninggalkan anaknya sebentar.
__ADS_1
" Dia minta ikut, aku tidak bisa membawanya agar nanti kita tidak terganggu" ucap Dilla yang sedang memakai sepatu.
Mia dan Dilla berangkat menuju rumah Robert. Rumah Robert tidak begitu jauh dari rumah Mia, jika jalanan tidak macet, mereka hanya butuh waktu sekita 10 menit. Namun terkadang jalanan sangat macet sehingga mereka butuh waktu setengah jam untuk sampai.
Setibanya di depan rumah Robert Mia tidak melihat ada tanda-tanda Robert di rumahnya. Mia melihat Ayah Robert yang sedang duduk membaca koran di beranda rumah mereka.
Ayah Robert melihat kedatangan Mia, tapi Ayahnya berpura-pura tidak melihat dan bersikap tidak ramah. Mia masuk dan membuka pintu pagar sendiri dan duduk di samping mantan Ayah mertuanya.
" Ada Robert Yah? " tanya Mia pada Ayah mertuanya.
" Sudah keluar" jawab Ayah Robert tanpa menoleh sedikitpun ke arah Mia.
Melihat sikap Ayahnya Robert, Mia tahu betul bahwa kehadirannya sangat tidak diinginkan. Mia menatap Dilla yang menunggu di sepeda motor miliknya kemudian memberi kode agar masuk juga dan duduk di sampingnya.
Dilla dengan wajah polosnya dan rasa takut serta segan melihat mantan mertua Mia. Dilla duduk di samping Mia sambil menunggu kedatangan Robert. Mia menghubungi Robert dan memintanya untuk pulang karena dia ingin bertemu.
***
Mia menunggu dengan bosan kedatangan Robert, Robert yang tadinya berkata akan pulang ternyata belum muncul batang hidungnya. Mia merasa kesal dengan sikap Robert yang seakan lari darinya. Mia dan Dilla juga sebal dengan sikap Ayah Robert yang hanya duduk diam mematung di depan mereka.
" Bunda ada?" tanya Mia memecah kesunyian.
" Sudah keluar" ucap Ayah Robert dingin.
Mia kembali menunggu Robert hingga membuat pinggang terasa pegal karena terlalu lama menunggu.
Setelah dua jam kemudian Robert pulang dengan wajah lesu. Dia masuk ke rumahnya bahkan tidak menyapa mantan istrinya sedikitpun. Robert berlalu begitu saja seakan menganggap Mia hanya guci pajangan rumah orang tuanya.
" Mas !" panggil Mia saat Robert berlalu darinya.
Robert seakan tidak mendengar dan terus masuk ke rumahnya. Tidak lama Bunda Robert keluar dengan wajah seram dan angkuhnya.
" Ada apa lagi kemari?" tanya Bunda Robert.
__ADS_1
Mia terheran-heran sendiri di buatnya, Ayah mertuanya tadi mengatakan bahwa Bunda sedang tidak ada di rumah ternyata dari tadi sembunyi di dalam.
" Ayah bilang Bunda tidak di rumah, jadi Bunda sembunyi dari Mia?" ucap Mia sedikit ketus.
" Ada perlu apa lagi kemari?" ucap Bunda dengan lantangnya.
" Mana Mas Robert? Kenapa dia sembunyi di dalam? Apa dia takut bertemu dengan aku?" ucap Mia semakin marah dan lantang.
" Hubungan kalian sudah berakhir, jadi pulang sana" ucap Ayah dari beranda rumah mereka.
" Aku hanya mau bertemu dengan Robert. Dia punya hutang sama rentenir, tapi dia tidak mau bayar sedikitpun. Dia sudah berjanji di pengadilan akan ikut membayar hutang itu" ucap Mia dengan suara lantangnya.
Robert keluar dari rumahnya dan berdiri di belakang Bundanya. Mia melihat kedatangan Robert dengan pandangan marah kesal.
" Sini kau ! kau jangan bersembunyi di balik ketiak orang tuamu." Amarah Mia semakin memuncak.
" Pulang sana" ucap Robert acuh.
Mia sangat sedih dengan perlakuan Robert dan orang tuanya. Mia seperti ingin menangis melihat mantan suami dan mertuanya yang tega memakinya dan mengusirnya. Dilla yang datang bersama Mia hanya diam seribu bahasa, dia kasihan melihat Mia namun tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga mereka.
" Jangan teriak-teriak di depan rumah kami, malu di dengar sama tetangga" ucap Ayah Robert kemudian.
Mia yang saat itu sudah berdiri di dekat pintu pagar meneteskan air matanya. Robert sangat kejam terhadapnya, seharusnya semua bisa dibicarakan baik-baik. Namun Robert seakan meminta pertolongan orang tuanya untuk memarahinya dan mengusirnya.
" Bunda tega sama saya" ucap Mia dalam tangisannya.
"Robert sudah janji akan bayar hutang nya tapi malah pura-pura gila di sana. Penipu kalian semua !!" teriak Mia.
" Kami bukan penipu!" ucap Bunda setengah berteriak.
" Bunda penipu, apa Bunda pikir aku tidak tahu bahwa Mas Robert punya anak sebelum menikah dengan aku? Kenapa kalian tidak jujur saat itu?" ucap Mia lantang dalam tangisannya sehingga membuat para tetangga melihat ke arah mereka.
" Pulang sana, jangan buat malu keluarga kami" ucap Ayah Robert.
__ADS_1
" Biar saja semua tahu kalau kalian semua penipu!!" teriak Mia lagi.
Mia kemudian keluar dari pintu pagar rumah mantan suaminya sambil menangis. Dilla menarik tangan Mia dan mengajaknya pulang. Dilla tidak ingin melihat Mia terlalu sakit melihat perlakuan mantan suami dan mertuanya.