Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
21. Seperti Gadis Kecil


__ADS_3

Meeting hari ini begitu lama, sampai Keylin yang mengantuk pun tidur siang di ruang CEO bersama Samuel. Satu jam berlalu, akhirnya semua karyawan menghirup nafas lega dapat bertahan sampai rapat berakhir. Kini Edgar resmi menggantikan Justin mengatur perusahaan selama lima tahun ke depan. Mereka pun satu - satu meninggalkan kursinya, kembali ke tempat semula. Tidak tertinggal, Edgar juga keluar dengan santai dari ruangan itu.


Pria bermata biru itu menuju ke ruangan kerjanya bersama seorang sekretaris wanita yang lumayan cantik. Ia sekretarisnya Justin.


Melihat Bosnya datang, lima bodyguard itu berdiri tegak. Edgar nampak heran di depan ruangannya ada lima anggota skypea berjaga di luar pintu.


"Mengapa kalian berlima ada di sini?" tanya Edgar dengan suara khasnya yang dingin itu. Sedingin badai kutub utara.


"Maaf, Bos! Kami di sini menjaga Tuan Samuel dan Nona Keylin. Mereka sekarang ada di dalam sana dan menunggu anda, Tuan Bos." Mereka menjawab serempak dengan tegas.


'Keylin? Siapa gadis itu?' pikir sekretarisnya Justin baru dengar ada gadis lain di sisi Samuel.


'Mungkin kah seorang pengasuh? Babysitter?' lanjutnya masih membatin. Ingin rasanya ia bertanya pada CEO barunya itu, tetapi ia juga agak takut pada Edgar yang dikenal tempramental. Sekaligus acuh tak acuh seperti sekarang. Pria itu masuk ke dalam dan mengabaikannya.


"Hmm, sepertinya aku harus laporkan ini pada Pak Bos." Wanita itu pergi ke arah ruangannya. Sedangkan lima bodyguard masih setia di tempat mereka sehingga karyawan yang lewat merasa terheran - heran. Layaknya ada buronan yang dijaga sangat ketat.


Edgar duduk di sebelah Keylin yang tidur bersandar sembari memangku Samuel di atas kasur yang ada di kedua pahanya. Bayi yang tidur pulas itu sedikit lagi bisa terjatuh dari pangkuannya Keylin.


Edgar menelpon seseorang. Memesan makanan saji di luar sana. Ia ingin makan siang bersama Keylin. Setelah memesan, Edgar menyentuh pipi Keylin yang halus itu. Jarinya turun tepat di bibir istrinya. Bentuk bibir bawahnya yang terbelah itu mirip dengan Tania dan satu - satunya fisik Keylin yang membuatnya candu selain apem warna kesukaannya di bawah sana.


Sambil menunggu pesanannya , Edgar mengambil karet di dalam laci meja Justin. Dengan usilnya, ia duduk lagi kemudian mengikat kuncir dua pada rambut Keylin yang panjang hitam pekat dan lebat itu. Tidak selebat rumput - rumput tipis istrinya. Ingin rasanya dicukur saja tapi Edgar tidak mau Keylin menyadari kelakuannya lewat itu. Edgar maunya Keylin itu sadar kelakuannya lewat ingatan, sebab Edgar ingat, di kesempatan kedua, Keylin sadar dan melihat dirinya melakukan itu padanya. Namun sampai sekarang, gadis itu tidak mencurigainya.


"Apa jangan - jangan gadis ini jelmaan kebo?" gumam Edgar merasa gemas sama Keylin yang belum sadar - sadar juga. Padahal Edgar mengikat erat rambutnya tapi si Keylin tertidur pulas sekali siang ini.


Edgar tersenyum getir. Model rambut Keylin menampakkan dirinya seperti gadis kecil yang menggemaskan. Mengingatkan Edgar pada Tania yang dulu suka memintanya untuk mengikat rambutnya dengan model kuncir dua.

__ADS_1


"Oekkk."


Edgar terkejut. Tiba - tiba si baby mungil menangis. Tanpa angin dan tanpa petir, bayi dua bulan lebih itu terbangun hingga keylin pun tersadar dan langsung berdiri, menggendong Samuel dengan menggoyangkan badannya sedikit.


"Cup, cup, cup. Jangan nangis ya, mami di sini kok sama Samuel. Nanti Papi Edgar datang lihat Samuel." Keylin menenangkannya sembari mengusap sedikit.


"Ehem." Keylin terkejut dan menengok ke belakang.


"Tuan Edgar, kok bisa ada di sini? Padahal tadi aku lihat Tuan ada di sana sama banyak orang." Keylin menunjuk ke arah pintu. Edgar pun juga menunjuk tapi mengarah ke jam dinding kantor.


Keylin terperangah lalu sedikit nyengir. Ia baru sadar sudah tidur sangat lama. Gadis itu mengusap bibirnya, cemas kalau ada ilernya yang menempel. Tapi sepertinya aman - aman saja.


"Mengapa kau datang ke sini?" tanya Edgar dan mengambil Samuel. Keylin kagum sejenak melihat Samuel diam di bahu Edgar. Memang ikatan batin antara Edgar dan Samuel sudah erat.


Keylin menyodorkan hape Edgar. Pria itu terkejut melihat hape tempat koleksi foto Tania ada di tangan Keylin. 'Pantas saja tadi aku cari di saku tidak ada, rupanya benar hape yang satu ini tertinggal di rumah.' Edgar mengerti alasan Keylin datang ke tempatnya.


"Kau benar, isi hape ini sangat berharga. Lebih berharga dari harga dirimu." Kata Edgar mengambilnya.


Keylin menunduk dan merem*s jemarinya. Perasaannya tersinggung dan agak sakit mendengarnya. Ia juga tidak mau dijual, tapi mau bagaimana lagi, ayahnya sangat serakah sampai rela menjualnya. Jadi mulai hari itu, Keylin mencoba belajar tidak memasukkan kata - kata hinaan dalam hatinya.


"Terima kasih," ucap suaminya lagi.


"Sama - sama, Tuan." Angguk Keylin dan tersenyum tegar.


Tiba - tiba pintu diketuk. "Pergi buka itu." Keylin pun pergi membukanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak." Keylin tak lupa mengucap sopan pada drivernya. Setelah itu, pintunya ditutup kembali. Ia membawa kresek itu lalu menaruhnya di atas meja.


"Ini apa, Tuan?" tanya Keylin.


"Itu makanan yang kupesan khusus untukmu." Keylin menunjuk dirinya tak percaya makanan semahal itu dibelikan untuknya.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Edgar.


"Serius, Tuan mau aku yang habiskan ini sendirian?" Keylin tidak yakin bisa memakan semua itu. Walau terlihat enak, tetap saja perutnya tidak cukup menampung isi kotak makanan itu yang porsinya bisa dihabiskan oleh tiga orang.


"Ya, aku mau pola makanmu itu ditingkatkan. Kalau kau tambah sehat, asimu bisa lebih lancar keluar untuk Samuel." Edgar mau asi Keylin itu selalu subur. Itung - itung ada yang bisa dihisap olehnya juga.


"Tapi," ucap Keylin berhenti.


"Tapi kenapa?" tanya Edgar sembari mengusap pundak kecil Samuel.


"Itu, saya mau sembuh, Tuan." Keylin melontarkan keinginannya.


"Maksudnya?" Edgar kurang paham, sebab Keylin itu secara medis sehat tanpa penyakit mematikan. Jadi soal sembuh itu agak aneh didengarnya.


"Itu, saya harap tidak lagi mengeluarkan asi. Saya mau jadi gadis normal pada umumnya. Gadis yang kembali percaya diri tanpa harus menahan rasa kesulitanku." Keylin menjelaskan dengan pelan - pelan.


"Oh, jadi kau tidak mau menyusui Samuel lagi?"


"Karena sudah menikah denganku, kau tidak mau mengurus Samuel? Begitu?" Tatap Edgar dengan kecewa.

__ADS_1


Keylin menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang dia maksudkan.


__ADS_2