Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
23. Cium Istrinya Dong


__ADS_3

Dua puluh menit yang lalu, Edgar dan Keylin bersama - sama membawa Samuel ke ruang pemeriksaan. Memberi imunisasi pada bayi kecil itu. Di tengah pemeriksaannya, Keylin meminta izin.


"Mau kemana kau?" tanya Edgar.


"Saya mau lihat Mona, Tuan." Keylin mau ke sana, tapi yang sebenarnya ia mau bertemu Bryan sebentar. Tetapi Edgar melarang.


"Jangan dulu, kau tetap di sini sampai Samuel selesai diimunisasi."


Keylin pun mengangguk pasrah duduk menunggu di sebelah Edgar. Lima menit kemudian, Dokter pun selesai memeriksanya. Samuel diberikan pada Edgar dan kemudian pria itu memberinya pada Keylin.


"Tuan, mau kemana?" tanya Keylin melihat Edgar mau pergi. "Aku ingin bertemu seseorang. Kau pergilah ke ruangan Mona duluan. Tunggu aku di sana." Edgar ingin bertanya sesuatu perihal Galaktorea yang dialami Keylin. Bisa saja kelainan itu disebabkan dari perlakuan ayah Keylin yang memaksa gadis itu mengkonsumsi obat - obatan atau faktor lain yang tidak diketahui Edgar. Sebab saat ia membeli Keylin, gadis itu terlihat kumuh dan lusuh layaknya seorang gembel jalanan. Kemungkinan juga istrinya itu disiksa oleh Santo dan menyebabkan Keylin depresi berkepanjangan. Edgar ingin tahu apa saja dampak dari hal itu.


"Eh, kok kau di sini, Keylin?" Mona yang ada di tempat brankarnya itu beranjak duduk. Dia hampir tidak mengenali Keylin yang menguncir rambutnya. Tampak gadis itu belum sadar tatanan rambutnya berubah. Benar - benar gadis yang kurang peka. Keylin pun menjawab dia habis membawa Samuel imunisasi bersama Edgar.


"Mona, kau bisa nggak jaga Samuel?" Keylin memohon dan melirik lengan Mona yang punya enam jahitan itu.


"Emang kau mau kemana?" tanya Mona dan mengambil Samuel kemudian meletakkan bayi itu di pangkuannya.


"Aku mau ke apotek sini, beli vitamin sebentar."


"Okeh, serahkan saja Tuan Samuel padaku. Tapi ingat, jangan lama - lama! Aku tidak mau nanti Tuan Edgar memarahiku sudah memberimu ijin!"


"Siap, aku akan cepat kembali. Terima kasih." Keylin bergegas keluar. 'Dasar bodoh, tingkahnya masih saja belum berubah. Dia sudah jadi istri Tuan Edgar tapi masih saja kekanak - kanakkan. Untung saja Tuan Edgar tidak mempubliskasikan pernikahannya. Kalau itu terjadi, satu dunia akan mencemohnya yang sudah memperistri gadis yang tidak tahu menjaga penampilannya itu.' Mona sedikit jengkel memikirkan Keylin. Tapi melihat Samuel, hatinya merasa tentram. Namun tiba - tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk diterima Mona dari Bianca.


[Hei, Mona! Cepatlah pulang, aku membutuhkan bantuanmu] - Tulis Bianca.


[Apalagi yang kau inginkan?] - Kirim Mona.


[Bantu aku menghabisi Keylin] - Balas Bianca.


Mona tersentak kaget.


[Kau sudah gila ya, Bianca?] - Ketik Mona.


[Dasar bodoh! Jangan mengejekku! Cepatlah kau pulang ke sini] - Paksa Bianca.


[Tidak mau] - Tolak Mona.


[Bego banget sih kau, Mona! Kalau Keylin tiada, kita bisa seperti dulu lagi. Hanya berdua mengurus Tuan Edgar tanpa gangguan gadis sial itu] - Jelas Bianca tampak emosi pada Mona yang langsung memblokir kontak Bianca.


"Bianca setan. Aku baru saja terluka, sekarang dia mau memanfaatkan aku. Tidak semudah itu, aku tak mau lagi jadi alatmu lagi. Hari ini kupastikan kau dibuang oleh Tuan Edgar dan meraung seperti singa menyedihkan." Mona mengepal tangan. Waktunya dia membalas tamparan Bianca padanya. Untung tadi dia sudah menscrensot pesan Bianca sebelum dihapus oleh wanita iblis itu yang berniat membunuh Keylin.

__ADS_1


Kini Keylin sudah berpapasan dengan Bryan. Gadis itu tersenyum pada Bryan tetapi Dokter itu mengerutkan keningnya.


"Keylin, tumben kau menguncir rambutmu, apa kau sengaja berpenampilan itu di depanku?" tanya Bryan di sebelahnya.


"Eh, kuncir?" Keylin memegang kepalanya. "Astaga! Kok rambutku begini?" Keylin membukanya cepat. Sangat malu di depan Bryan.


"Pfft, sepertinya kau tidak sadar lagi seseorang mengusil dirimu." Bryan tertawa kecil. Memang tahu kebiasaan Keylin yang kadang begitu.


"Apa kau tadi ketiduran dan seorang anak kecil menjahilimu?" tanya Bryan.


"Hahaha, sepertinya begitu, Kak." Keylin tertawa renyah. Ia yakin ini ulah dari Edgar. 'Tuan Edgar nyebelin juga! Ish! Bikin jengkel,' gerutunya dalam hati.


"Oh ya, mau apa kak Bryan bertemu sama Key?" tanya Keylin lanjut. Bryan menarik nafas kemudian tersenyum. Ia jelaskan kalau mau mengajak Keylin bertemu Ibunya. Sekalian mengajak gadis itu pacaran.


"Kau mau nggak jadi pacar aku?"


Keylin diam dua detik kemudian menolak cepat. Dalam hatinya dia senang, tapi Keylin sadar statusnya sudah diperistri orang lain.


Bryan memegang dua bahu Keylin dan mengungkap perasaannya. "Key, aku menyukaimu dan jadilah kekasihku." Bryan berharap jawaban yang memuaskan tetapi sebaliknya yang menyakitkan.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa."


"Lho, kenapa? Apa kau tidak suka dengan caraku ini? Atau ucapanku ini?" tanya Bryan sedikit kecewa.


"Okeh, aku paham." Bryan tersenyum getir.


"Maaf ya, Kak," ucap Keylin lagi.


"Tidak apa - apa. Aku bisa memahaminya. Sekarang aku ada urusan dulu, kalau ada masalah pada ayahmu, hubungi aku ya." Bryan mau mengusap kepala Keylin, namu ia tarik kembali tangannya. Bryan pergi dengan perasaannya yang sakit. Dia merasa terlambat mengisi hati Keylin sehingga seseorang menempatinya duluan. Tapi yang sebenarnya, dialah yang saat ini berada di hati gadis itu. Namun sekarang, Keylin dengan perihnya membuang perasaannya itu terhadap Bryan.


Gadis itu mengusap matanya yang basah. Seketika saja di depannya ada Edgar. Pria itu heran bisa berpapasan dengan istrinya tanpa Samuel.


"Hei, kau dari mana saja?" tanya Edgar . Keylin mendongak dengan dua matanya yang merah. Ketua Mafia itupun terkejut pada Keylin yang tiba - tiba memeluknya dan menutupi dirinya dengan jasnya itu. Keylin sesugukan tak jelas di pelukannya itu sehingga menarik perhatian orang - orang.


"Hey, siapa yang membuatmu menangis?" tanya Edgar dan melihat rambut istrinya tidak dikuncir lagi.


"Hiks, kenapa sakit rasanya. Sudah diberi kesempatan tapi dia datang di waktu yang salah. Harusnya dia katakan dari dulu, bukan terlambat seperti ini."


Edgar segera menarik Keylin menjauhi orang - orang sebelum ocehan sedihnya itu keluar semua.


"Siapa yang kau maksudkan itu?" tanya Edgar. Keylin yang sedikit tenang pun menjawab, "Maaf Tuan, tadi aku sedih habis nonton drama film di hape." Keylin terpaksa bohong dengan alasan konyolnya itu.

__ADS_1


"Cih, bikin orang cemas saja." Edgar mendecak lidah. Tiba - tiba terkejut ketika tangannya ditarik seseorang.


"Hai, Om!" ujar seorang anak kecil berpakaian pasien.


"Lho, adek kenapa di sini?" tanya Keylin mengira anak itu tersesat. Anak itu tersenyum lalu melihat Edgar dengan tatapan marah.


"Hai, Om! Jangan marah sama kakak ini," ucapnya menunjuk Keylin.


"Om tidak boleh begitu tahu!" celotehnya menggemaskan.


"Kalau kakak cantiknya nangis, harusnya Om kasih permen bukan muka jelek seperti itu." Keylin terkejut pada nyali anak perempuan itu yang berani menegur ketua Mafia itu. Gadis itu bahkan menyodorkan satu permen kaki pada Edgar.


"Ini Om, diambil! Terus kasih sama adiknya."


Keylin menahan tawa dikira adiknya Edgar. Beda lagi sama suaminya itu yang lumayan kesal.


"Ihh, Om jangan lotot gitu dong! Serem tahu!" celetuknya berkacak pinggang. Edgar mendengkus dan menarik Keylin. Gadis itu kaget dirangkul di depan anak itu.


"Hai, Nak. Dia ini istri saya, bukan adik saya." Keylin mendongak dan melihat Edgar yang mengatakan status hubungan mereka pada anak itu.


"Ohh istri? Kalau begitu, om cium istrinya dong!" pinta gadis itu membuat Keylin membola sempurna. 'Cium? Di sini?' batin Keylin ingin lepas dari Edgar tetapi seketika yang diterima benar - benar dua ciuman manis di pipi.


"Yeahh, gitu dong om! Hihihi." Anak perempuan itu bertepuk tangan ria. Keylin diam dan bersemu merah.


"Hai, Nak. Kenapa kau menyuruh om lakukan itu?" tanya Edgar. Anak perempuan itu menunduk sedih. Bercerita kalau dia ingin sekali melihat orang tuanya yang sedang bertengkar bisa rukun kembali dan bahagia bersamanya. Dia rindu moment cinta dan sayang dari orang tuanya. Anak itu menangis karena merasa bersalah. Gara - gara dirinya yang sakit, orang tuanya ingin pisah sebab tidak dapat menemukan jalan keluar membayar biaya perawatannya sehingga dirinya ditinggalkan di rumah sakit itu sendirian. Karena tidak tega melihatnya, Keylin berlutut memeluknya. Sedangkan Edgar menghubungi Gerry mencari orang tua anak itu dan menyuruh juga mengurus pembayaran rumah sakit.


Keylin terkesima melihat Edgar masih punya empati pada anak itu. Usai mengurus semua, Keylin membawa anak itu ke ruangannya sendiri dan tidak sengaja ia berpapasan dengan Bryan. Keduanya tanpa sapaan pergi begitu saja membuat Edgar yang jalan di sebelah istrinya itu merasa Dokter yang tadi dan Keylin seperti saling menghindar.


"Apa cuma perasaanku saja?" gumam Edgar. Setelah mengantar anak itu. Edgar pun pergi keluar dari rumah sakit bersama Keylin, Samuel dan juga Mona yang mendadak mau pulang sekarang. Tiba - tiba, saat Edgar mau masuk mobil, ada panggilan dari Gerry.


"Tuan, mau pergi ya?" tanya Keylin di sebelahnya, sedangkan Mona dan Samuel ada di dalam mobil.


"Ya, aku pergi dulu. Kau jaga baik - baik Samuel."


Cup


Mona terperangah melihat Edgar mengecup kepala Keylin. Membuat gadis itu salah tingkah. Tentu malu pada Mona yang melihatnya. 'Wow, sepertinya hubungan mereka semakin dekat saja.' Batinya menyadari tingkah Edgar yang bersikap manis pada Istrinya. Kini Edgar pergi memakai taksi sedangkan Keylin pulang diantar oleh bodyguard yang memang ikut dengan mereka tadi. Satu diantara mereka menjadi supir dan menyetir mobil Edgar.


Ketuanya itu bergegas pergi karena Gerry mendapat petunjuk keberadaan Tania. Edgar tidak sabar melihat adik angkatnya itu. Berharap jasad Tania masih utuh. Tetapi dia sangat berharap Tania masih hidup.


....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya♥


Terima kasih...


__ADS_2