
Semua kursi yang berjejeran itu sudah kembali ke posisi semula. Kini benda sandaran empuk itu diduduki oleh Edgar, Keylin, Tania dan Mona. Tak terkecuali Samuel terkantuk - kantuk di gendongan Ibunya.
"Sekarang jawab, kenapa kalian berdua harus kekanak-kanakan begitu? Apa kalian tidak malu dengan Samuel?" Edgar memulai bicara. Sedikit membentak dua wanita yang duduk berhadapan. Edgar bagai raja tampan yang saat ini dikelilingi 3 selir cantik - cantik.
"Maaf…." lirih Keylin dan Tania kompak, saling menatap kemudian berpaling acuh.
"Mona!" Edgar menatap Mona yang keringat dingin.
"Ya, Tuan?" tanya Mona mau meleleh seperti lilin ditatap lurus.
"Jelaskan, apa yang membuat mereka seperti ini?" Edgar langsung bertanya pada Mona. Sebab, ia tahu jawaban dari Keylin dan Tania pasti berbeda. Jadi ia menunjuk Mona sebagai penengah saksi mereka.
"Itu, ini gara - gara susu. Nona Keylin tadi manawarkan asinya ketika Tuan Samuel ingin susu, tapi No-nona Tania melarang. Akhirnya mereka berdua memperdebatkan tempat di rumah ini, Tuan." Mona menjawab gugup.
"Apa? Cuman susu? Hanya karena susu kalian memporak-porandakan rumah ini?" Edgar menatap kecewa pada istri dan Tania yang tidak bisa diharapkan. Edgar pikir, dengan meninggalkan Keylin dan Tania bisa menjalin hubungan akrab tapi sudah membentuk perang dingin.
"Maaf, Edgar. Aku hanya tidak ingin merepotkan Keylin saja, kok," bela Tania pada dirinya sendiri.
"Tapi Keylin memaksa ingin merebut Samuel dariku," lanjut Tania menunjuk kesal pada Keylin.
"Aku tidak mau merebutnya! Aku hanya tidak tega melihatnya tadi menangis. Itu saja kok, sayang." Keylin meraih tangan Edgar, menatap dengan mata berkaca - kaca dan memanggilnya mesra di depan Tania.
'Isshh, sudah aku bilangin jangan berurusan sama Edgar tapi tetap saja menempel! Memang susah menyingkirkan dia! Dasar wanita tidak peka!' desis Tania mengumpat dalam hati.
Edgar memijat pelipisnya diperebutkan lagi. Kedua tangannya ditarik sana sini. Ia pun melirik Keylin dan Tania. 'Apa jangan - jangan Keylin adalah bayi yang ditaruh Tania?' pikir Edgar menatap mereka bergantian. Ingin rasanya dia bertanya, namun melihat Keylin dan Tania sedang marah - marahan, Edgar pun terpaksa mengurungkan niatnya. 'Besok saja deh, aku tunggu suasana hati mereka membaik.' Edgar pun berdiri dan melepaskan tangan Tania.
"Tania, ini sudah malam, naiklah ke kamar dan tidurlah lebih awal bersama Samuel."
Tania berdiri. "Kau mau kemana lagi?" tanya Ibu kandungnya Samuel.
Edgar pun menarik Keylin berdiri. "Malam ini aku sudah menemukan petunjuk tentang keberadaan adikmu, tapi aku akan memberitahu mu besok. Sekarang aku mau tidur," ucap Edgar pada Tania yang terkejut kemudian wanita itu tersenyum bahagia.
"Baiklah, besok katakan semua yang kau dapatkan padaku. Ayo, sayang. Kita tidur sekarang." Tania naik ke atas membawa Samuel. Mona di sana mengelus dada lega melihat Edgar membawa Keylin.
__ADS_1
"Huftt, akhirnya bisa nonton Drakor dengan tenang." Mona menuju ke kamarnya. Ingin menonton, tapi di lubuk hatinya dan isi kepalanya itu sedang memikirkan sang Dokter. "Kira - kira, Dokter tampan itu lagi ngapain ya?" Mona cemberut tidak memiliki kontak Bryan.
"Aihh, kenapa sih kau berharap begini! Sadar Mona, kau itu cuma pembantu, sedangkan Dokter itu beda kelas denganmu. Kau tidak cocok bersanding dengan anak worlfard itu." Mona menggerutu dirinya sendiri.
"Hai, sayang. Kenapa belum tidur?" Edgar yang habis keramas, duduk di sebelah Keylin.
'Apa aku tanya soal hubungannya dengan Pak Santo sekarang?' pikir Edgar sangat penasaran.
"Hai, kok diam sih? Jawab dong, sayang." Edgar meraih tangan Keylin yang dingin.
"Istri kalau ditanya sama suami, jangan didiamkan dong," celetuk Edgar masih tidak dijawab. Ia menarik dagu Keylin agar istrinya itu melihatnya. Namun sontak pria itu terkejut melihat sang istri menangis. Air matanya menetes tanpa isak tangis.
"Hai, kau kenapa, sayang? Jangan buat panik malam - malam begini, dong." Edgar mengguncang bahu Keylin. Keylin pun melihatnya, perlahan suara sesenggukannya terdengar.
"Maaf, aku iri."
"Iri pada siapa, hmm?" tanya Edgar mengusap sisa embun kecil yang tergenang di pipi chubby istrinya.
"A-aku iri pada Tania." Keylin mengusap air matanya.
"Tania punya segalanya, beda denganku." Keylin menunduk dan menggenggam kedua tangannya.
"Hai, kenapa harus iri? Kau kan punya aku dan juga nih baby kita. Kau juga punya banyak penggemar di luar sana." Edgar menunjuk dirinya dan kemudian mengelus perut Keylin. Berharap perkataannya dapat menghibur istrinya, tapi si Keylin malah menangis sejadi - jadinya membuat Edgar kebingungan dan panik.
"Duhh, kenapa lagi? Kenapa tambah kencang? Apa aku salah bicara tadi?"
Keylin menggelengkan kepala. Ia sedang memikirkan ucapan Pak Santo.
"Kalau bukan itu, terus apa, sayangku?" tanya Edgar gemas melihat istrinya yang lagi hamil itu melankolis malam ini.
"Aku tidak punya orang tua." Edgar terkejut mendengarnya.
"Lho, orang tuamu kan Pak Santo, kenapa kau bicara begitu? Awas, kualat sama ortu itu tidak baik lho. Apalagi kau sedang hamil." Edgar mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
"Hiks, Pak Santo bukan orang tua kandungku." Edgar kembali syok. Sedikit lagi dugaannya hampir benar.
"Bukan? Kenapa bukan?" tanya Edgar mengambil dua tangan istrinya dan menatap mata Keylin yang sembab.
"Aku dipungut di tempat sampah." Tangisan Keylin pecah. Edgar segera memeluknya dan mengusap punggung istrinya. Ia juga sedang menenangkan dirinya yang tambah syok. Dugaannya tepat sasaran.
"Hiks, kenapa orang tuaku begitu kejam padaku sampai meninggalkan aku di sana?"
"Kalau mereka tidak suka, harusnya aku tidak usah dilahirkan. Harusnya saat itu aku dibunuh saja."
Edgar tambah kaget mendengar ocehan Keylin yang sakit hati dan sedih. Ia segera membentak tidak suka mendengarnya.
"Hentikan! Jangan bicara begitu lagi,"
"Hiks, kenapa kau marah?" tanya Keylin terisak.
"Ya dong, aku marah! Kalau kau mati, jodohku gak bakal ada!" kata Edgar mendengkus.
"Kan bisa nikah sama yang lain," ucap Keylin dengan wajah polosnya itu.
"Sudah! Jangan bicara ngaco lagi. Sekarang kau tidur! Besok kau harus ke pemotretan. Kalau matamu sembab begini, besok kau bisa tampil jel- kurang cantik." Lidah Edgar terpeleset hampir saja salah bicara. Ia menidurkan Keylin, menyelimutinya dan juga mengecup keningnya dengan penuh cinta dan kelembutan.
"Sudah, jangan nangis. Okeh?"
Chup!
Edgar tidak lupa mencium kelopak mata istrinya. Menciumnya cukup lama sampai air mata Keylin perlahan berhenti.
"Terima kasih, kau selalu mengerti kondisiku, Edgar." Keylin memeluk suaminya. Sangat erat. Edgar pun balas memeluk. Tertidur di bawah satu selimut yang sama.
Sedangkan di dua tempat yang berbeda, tampak Bryan dan Justin menatap foto wanita yang juga sama. Keduanya tersenyum mendapat pesan dari Keylin. Balasan singkat yang berisi ucapan terima kasih yang berarti bagi mereka.
__ADS_1
"Sial, kenapa mikirin istri orang terus sih!" Justin dan Bryan mengumpatkan hal yang sama. Sementara Tania melihat Samuel yang tertidur di sebelahnya. Mengelus pipinya dengan lembut. Ia pun memejamkan mata, tidak sabar ingin tahu keberadaan sang adik kecilnya.
"Ku harap, dia tidak membenciku."