Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
63. Cucu Pertama?


__ADS_3

"Sayang, kau mau makan martabaknya di sini atau di kamar?" tanya Edgar kepada Keylin yang selesai makan.


"Kau bawa itu ke kamar dulu, aku mau cuci piring," ucap Keylin membereskan piring kotor di atas meja lalu menaruhnya ke wastafel.


"Yaudah, aku ke kamar duluan, kalau sudah cuci piring, langsung ke kamar, paham?"


"Paham, Tuan Suami."


Edgar pun mengecup kening Keylin, kemudian keluar dari dapur. Alex yang selesai makan pun menyusul Edgar, meninggalkan Tania dan adik iparnya itu di dapur berdua saja.


Keylin yang mencuci piring pun terkejut saat Tania berdiri di sampingnya.


"Aku bantu ya," ucap Tania tersenyum ramah.


"Tidak perlu, Nona Tania lebih baik ke kamar saja menjaga Samuel," tolak Keylin mengambil spons di tangan Tania, namun Ibu Samuel itu masih bergeming di tempatnya.


"Hmm, kenapa diam saja? Apa Nona melupakan sesuatu jadi berdiam diri di sini?" tanya Keylin meliriknya heran.


"Itu … sebenarnya aku mau bicara sesuatu padamu," lirih Tania.


"Oh, Nona ingin menyuruhku menyapih Samuel?" tebak Keylin.


"Bu-bukan, aku senang lihat kau masih memberi asi untuk Samuel, aku tidak me-melarangmu kok," ucap Tania terbata - bata.


'Tumben Nona Tania cara bicaranya kaku, apa jangan - jangan dia mau menyuruhku pergi dari rumah ini? Sehingga membuat nada suara seperti itu?' pikir Keylin sedikit mundur.


"Lalu, apa yang mau Nona katakan padaku?" tanya Keylin membilas piring kotornya cepat. Sontak saja, dua tangannya diambil Tania. Keylin terkejut melihat wanita itu menggenggam tangannya yang penuh busa itu.


"Kau jangan lagi panggil aku Nona," ucap Tania mendekat.


"Oh, kalau begitu, mau dipanggil apa?" tanya Keylin meneguk kasar ludahnya. Jaraknya terlalu dekat, dan itu membuat Keylin takut kalau di dorong tiba - tiba.


"Panggil namaku atau panggil kakak juga boleh," kata Tania tersenyum kaku.


"Ehh, kenapa kau tiba - tiba agak aneh hari ini?" tanya Keylin. Tania menunduk, menarik nafas dalam - dalam. Ini waktunya dia katakan identitasnya pada adiknya itu.


"A-aku ini-ini…."


"Ingin martabak yang tadi dibeli Edgar?" tebak Keylin memiringkan kepalanya.


"Bukan! Aku mau bicara sesuatu padamu, bukan meminta sesuatu!" Keylin tersentak diteriaki Tania.

__ADS_1


"Kalau begitu, apa yang kau inginkan?" Keylin bertanya dan melepaskan kedua tangannya dari Tania. 


"A-aku dan kau itu —” putus Tania ketika suara suaminya memekik di luar dapur.


"Akhhh, ampun Tante!" pekik Alex terdengar kesakitan.


"Tante?" ucap Tania dan Keylin menoleh bersamaan. Kedua wanita itu segera menuju ke sumber teriakan.


"Ck, dari mana saja kau baru muncul, ha?" bentak Regina barusan sampai di rumah dan langsung menghampiri Alex. Kemudian ia menjewer tanpa ampun telinga anak mendiang adiknya itu.


"Ampun, Tante! Aku sibuk mencari tempat persembunyian musuh, dan sekalian mencari keberadaan istriku. Tapi sekarang aku bersyukur Tania masih hidup," tutur Alex mengelus telinganya yang merah.


"Cih, masih hidup? Jadi kau benar - benar percaya wanita yang muncul di jumpa pers itu adalah istrimu? Bagaimana jika wanita itu penjahat yang menyamar?" Regina mendecakkan lidahnya.


"Tante, di jumpa pers itu memang bukan Tania, dia itu saudara kembar Tania, dan wanita yang itu adalah istriku sungguhan," ucap Alex menunjuk Tania yang berjalan di sebelah Keylin.


"Mana buktinya?" Pinta Regina mengeluarkan tangannya.


"Ini buktinya, Mama." Edgar datang, membawa hasil tes DNA yang dikirim bodyguard dari Gerry barusan.


"Berikan itu pada Mama." Regina mengambilnya, membaca hasil dua tes DNA. Sepuluh detik saja, Regina pun selesai mencerna isinya. Ia pun melirik sinis ke Tania.


"Mama, jaga mulutnya dong. Tania itu termasuk menantu Mama tahu. Sekarang minta maaf dan berhenti mencaci Tania," cetus Edgar memegang tangan Ibunya. Tapi Regina menghempaskan tangan Edgar dengan cepat.


"Ck, Mama sedang capek, tidak mau bicara lagi," ucap Regina pun pindah di dekat Keylin.


"Keylin, tolong ya antar Mama ke kamar," mohon Regina mengelus rambut Keylin. Ia sengaja memperlihatkan sikap lembutnya pada Tania.


"Baik, Mama." Keylin pun pergi bersama Regina menaiki anak tangga. 'Ck, dia masih dendam saja pada Tania. Padahal Om Marquez sudah mati, seharusnya tidak perlu lagi dipermasalahkan,' batin Alex tahu Regina benci Tania dikarenakan perhatian Marquez dulu lebih tercurah pada Tania daripada Justin. 


Edgar yang melihat Keylin ikut masuk ke dalam kamar Ibunya, ia pun menyusul cepat. Sedangkan Tania dan Alex masih berdiri di tempatnya.


"Oh ya, apa kau sudah katakan hubungan kalian, sayang?" tanya Alex penasaran. Tania menggeleng pelan, kemudian menatap Alex dengan mata berkaca - kaca. "Hiks, aku tidak berani." Tania sedikit menangis.


Alex pun mengusap embun yang menggenang itu kemudian tersenyum. "Kalau begitu, biar aku dan Edgar langsung katakan pada Keylin. Sini, kita ke atas bersama." Alex membawa Tania menaiki tangga kemudian menuju ke kamar Regina.


Keduanya pun mengernyit heran melihat Edgar berdiri di dekat pintu dan tidak masuk.


"Hai, Ed. Kau sedang apa di sini?" tanya Alex. 


Tania yang berdiri di sebelahnya pun terkejut mendengar Keylin di dalam sana menolak sesuatu.

__ADS_1


"Maaf, aku-aku tidak bisa meninggalkan Edgar, Mama." Keylin menggelengkan kepala, tidak mau menerima botol yang berisi obat yang ada di tangan Regina itu.


"Apa maksud mu? Kau ingin melanggar kesepakatan kita?" ujar Regina geram dan merem4s botol itu. Ia kecewa, sudah jauh - jauh ke luar negeri hanya memberinya obat, sekarang Keylin tidak menginginkannya.


"Kesepakatan? Apa yang dikatakan Tante Regina, Edgar?" tanya Alex dan Tania.


"Keylin, kau tidak perlu cemas, Tante sudah menyiapkan lima milyar untuk memenuhi kebutuhanmu di luar sana,"


"Bahkan, Tante akan mencarikan laki - laki yang jauh lebih pantas untukmu,"


"Ayo, ambil ini dan bawa koper itu pergi dari sini. Nanti Tante yang akan bicara pada Edgar untuk mengurus perceraian mu." Regina tersenyum dan memohon.


Keylin sekali lagi menggelengkan kepala, membuat senyum Regina langsung hilang. Ketika wanita baya itu mau membentak, langsung saja Edgar masuk.


"Mama!" ujar Edgar mengepalkan kedua tangannya.


"Sudah, Ma. Jangan paksa Keylin," lanjutnya menarik Keylin menjauh dari Ibunya.


"Edgar, Mama tidak paksa dia. Mama cuma minta dia pulang ke ayahnya dan Mama meminta ini karena sudah sesuai dari kesepakatan kita berdua. Lihatlah, Mama pulang membawa obat untuknya." Regina menunjukkan obat Keylin. Keylin yang mendengar itu pun menunduk sedih, merasa tidak punya siapa - siapa jika harus meninggalkan Edgar.


"Lagipula, kau tidak bisa terus menerus menyembunyikan pernikahan kalian. Mama tidak mau, orang - orang di luar sana menganggap kau itu perjaka tua. Mama malu kalau mereka mengatakan hal aneh padamu. Apalagi kau sering bersama dengan Gerry," celoteh Regina.


"Dan lebih malunya lagi kalau menantu Mama dari keluarga tidak jelas."


Edgar pun maju, menepuk kedua lengan Ibunya.


"Maaf, Mama. Aku tidak akan pernah menceraikan istriku dan dua hari ke depan aku akan melakukan jumpa pers di perusahaan. Memperkenalkan Keylin pada semua orang dan mengatakan kabar bahagia kalau Mama tidak lama lagi akan memiliki cucu pertama."


Regina memegang dadanya, syok mendengar kata terakhir dari putra sulungnya itu. Ia pun melirik Keylin kemudian turun menatap perut menantunya itu yang masih terlihat datar.


"Cucu pertama? Maksudnya, dia hamil?" Tunjuk Regina. 


"Hah? Keylin serius hamil?" Alex dan Tania bertatap mata. Terkejut mengetahuinya sedang mengandung anak Edgar.


"Mamah!" pekik Keylin dan Edgar memapah cepat Regina yang jatuh pingsan. Baru juga sampai di rumah, malam ini sudah masuk rumah sakit.


.


Kalau menantu hamil harusnya senang🤭ini malah masuk rumah sakit😹


Author masih mau ngetik bab ini, tapi masih sedikit down gara - gara poin diturunin😥huftt harus ekstrak sabar. Maaf ya baru bisa update di jam ini🙏😓

__ADS_1


__ADS_2