
Dengan kedua tangannya, Keylin menutup mulutnya. Ia begitu terkejut melihat Bianca menerima tembakan di pahanya yang berasal dari Edgar. Sang mafia itu nampak geram mendapati istrinya hampir dibunuh.
Dan sekali lagi, Edgar menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkannya ke Bianca yang terduduk kesakitan menahan darah yang bercucuran keluar.
"Arghhh, ampun … Tuan!" Bianca bersimpuh bak suster ngesot.
Namun Edgar tak bisa diajak damai sekarang dan tinggal menarik pelatuknya, maka kepala Bianca bisa dilubangi, namun Keylin dengan cepat berdiri di hadapan Edgar dan merentangkan kedua tangannya.
"Jangan! Jangan tembak!" larang Keylin memekik. Bianca meremas tangan ditolong oleh Keylin. Meskipun begitu, mantan pembantu itu tetap dendam pada Keylin.
"Nona, menyingkirlah! Anda baru saja dalam bahaya akibat ulahnya, sekarang biarkan Tuan Edgar menyelesaikannya sendiri," ujar sekretaris wanita itu yang kebetulan berpapasan dengan Edgar dan juga Mona yang sekarang membawa Samuel ke klinik di luar pantai.
"Tidak! Jangan lakukan itu. Jangan bunuh dia!" Keylin yang sedang hamil tak mau suaminya melukai siapa - pun karena itu tak baik pada calon bayinya nanti. Ia mau katakan kondisi tubuhnya, tapi tak mampu jujur di depan Edgar.
Edgar pun memberikan pistol itu pada sekretarisnya, ia sadar ada sang bayi di dalam perut istrinya. Bianca pun dibawa oleh sang sekretaris untuk dipenjara. Bahaya yang hampir merenggut nyawanya itu kini telah tiada. Namun Keylin masih diam bergetar ketakutan dan sedang memikirkan kondisi Samuel.
Plukh…
Keylin terhenyak sesaat menerima pelukan Edgar. Rasa tenang dan damai berangsur-angsur menghilangkan ketakutan dan kecemasannya.
"Tak apa - apa, Samuel baik - baik saja. Kau juga sekarang aman di sini." Edgar mengusap punggung Keylin yang terguncang. Ia paham dengan tangis Keylin itu yang sudah terlepas dari ancaman Bianca.
"Kau dari mana saja, sih?" lirihnya sesegukan.
"Maaf, tadi aku hubungi Gerry." Sambil dijawab, ia mengecup kepala istrinya. Keylin pun mendekap tubuh Edgar dan memeluknya dengan sangat erat.
Beberapa menit berlalu, Keylin yang sudah tenang pun melepaskannya. Mungkin saja kedua kaki suaminya itu sudah kesemutan, tapi demi sang istri, Edgar merasa tak masalah.
"Bagaimana? Sudah membaik?" tanya Edgar memberikan segelas air putih.
Keylin mengangguk dan tersenyum. Kemudian meneguk sampai habis air putihnya. Edgar pun meraih satu tangan Keylin. "Mau istirahat? Atau jalan di tepi pantai?" Tunjuk Edgar ke arah matahari yang condong ke barat. Menandakan hari mulai sore menampakkan indahnya senja hari ini.
"Mau ke sana, tapi jangan pergi dariku lagi," ucap Keylin memilih jalan - jalan keluar.
"Hm, Iyah. Aku sedetikpun akan selalu di sampingmu." Edgar tersenyum simpul.
"Yaudah deh, yuk kita ke sana!" Keylin menarik Edgar. Dengan sedikit hati antara sedih dan senang, Keylin menggandeng Edgar di setiap langkahnya. Menikmati udara terbuka yang menyejukkan lara. Senyum Keylin menebar indah membuat Edgar tak bisa luput memandangi sang istri. Rasanya adem ayem. Tapi untuk Keylin, ia sedang menunggu Edgar bicara.
Tiba - tiba pun, suaminya itu memeluk dari belakang. Menyandarkan dagunya ke atas kepala Keylin. Bumil cantik itu menunduk tersipu dipeluk di tempat terbuka.
"Hai, bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya Edgar berbisik.
"Lumayan udah baik, kok." Keylin memegang dadanya yang sedang berdebar - debat.
"Baguslah, aku senang mendengarnya, tapi kenapa kau menekuk terus wajahmu?" Edgar melirik ekspresi Keylin.
Keylin pun berbalik badan dan masih dirangkul oleh Edgar. Ia tersenyum sedikit kemudian menghembus nafas berat.
__ADS_1
"Hmm, kenapa? Apa masih ada yang kurang? Atau kau menyesal sudah melarang ku menghabisi wanita itu?"
Keylin menggeleng, bukan.
"Terus apa yang sedang kau pendam?" tanya Edgar lebih mendekati wajah istrinya.
Keylin memegang kedua pipi Edgar dan menjawab, "Aku mencintaimu. I love you, bear." Tangannya turun mengalungkan leher Edgar.
'Ya ampun, aku pikir apa, ternyata ingin mengutarakan perasaannya. Apa ini faktor ngidamnya?' Edgar tertawa dalam hati kemudian mencubit gemas hidung Keylin. Ia pun membalas ucapan istrinya dengan suara lemah lembut.
"Love you too, baby." Edgar mengecup cukup lama kening Keylin kemudian lebih mendekati wajah istrinya. Keduanya tenggelam dalam tatapan cinta mereka. Namun Edgar lebih tertarik ingin menyambar bibir istrinya. Sedangkan Keylin, kedua pipinya memerah dibalas tanpa hambatan. Serasa ucapan itu untuknya bukan kepada siapa-pun.
[Pemanis]
Tiba - tiba Mona menelpon. Mengabarkan pada Edgar bahwa Samuel sudah sadar dan menangis meminta susu. Namun dalam panggilan video call itu, Mona mengernyit heran melihat Edgar dan Keylin tampak malu - malu.
"Mamah… huwee…" pinta Samuel muncul dalam panggilan itu.
"Ck, mamah aja terus, kapan sih panggil papah?" celetuk Edgar. Tetapi Samuel menggeleng manja dan lebih memilih Keylin membuat Mona di dekat bayi itu menahan tawa. 'Pftt, anak ini pandai bikin orang emosi juga. Memang 11 12 sama Keylin.' Batinnya gemas.
"Yok, sayang. Kita jemput anak kita."
Keylin terdiam digandeng, namun lebih tak sangka mendengar ucapan Edgar. Ia pun mengelus perutnya dan berharap Edgar tak mempermasalahkan janin di dalam perutnya itu. Kedua matanya pun menangkap kalung di lehernya.
"Kenapa kau pakaikan ini padaku? Ini kan kalungnya Tania, harusnya kau simpan saja," ucap Keylin ingin lepaskan benda itu tetapi Edgar mencegah.
"Jangan dong, kalung ini kan sudah aku beli untukmu. Jadi miliknya siapa?"
"Milik Tania," ucap Keylin manyun.
"Ishh, ini milik kau sayangku. Lama - lama ku makan dirimu ini." Gemas Edgar mencubit kedua pipi tembem istrinya.
"Tapi kalau Tania masih hidup terus minta kalung ini, bagaimana?" tanya Keylin menyipitkan matanya.
"Nggak usah dikasih. Atau bilang saja cari yang lain." Edgar tersenyum polos. Keylin mendengkur kemudian berdiri di belakang Edgar dan langsung saja lompat ke punggung suaminya itu.
"Lho, ada apa ini?" tanya Edgar heran.
"Istrimu mau digendong, sayang." Goda Keylin.
"Pftt, ya udah, pegangan ya! Jangan sampai melayang ke atas." Keylin mengangguk dan merangkul leher Edgar. Ia pun dibawa dengan langkah santai menuju ke tempat Mona dan Samuel.
Selepas menjemput Samuel, penginapan pun dijaga ketat oleh lima bodyguard yang dipanggil datang ke pantai karena Edgar ingin keluar malam ini.
"Mau kemana?" tanya Keylin.
__ADS_1
"Sebentar, aku mau ambil sesuatu di sana. Kau tetap di sini jaga Samuel dan tak perlu takut lagi. Aku pergi dulu ya," kecup Edgar sebelum pergi kemudian ia pun menuju ke tempat persiapan kejutan Keylin.
"Hei, kenapa sih tuh muka dijelekin? Kau sengaja ya?" Mona bertanya sembari memberi air putih untuk Samuel. Keylin duduk di dekat Mona dan membuang nafas berat.
'Apa aku curhat saja sama Mona? Tapi aku juga takut dia akan salah paham terus memperkeruh suasana hatiku.' Keylin melirik jam di tembok yang mendekati pukul 11 malam. Tinggal beberapa menit lagi, ia akan menginjak 20 tahun.
"Entahlah, aku mau tidur saja, Mon." Keylin berdiri mau ke kamarnya namun seketika Mona mendapat sebuah notif dari Edgar. Ia disuruh menuntun Keylin ke arah utara pantai.
"Akhh." Mona berpura - pura menjerit.
"Kenapa, Mona?"
"Awhh, perutku nyeri, apa kau bisa mengantarku ke klinik yang tadi? Kayaknya aku butuh obat maag nih." Mona menggendong Samuel dan memegang perutnya.
"Tapi Edgar melarang kita jauh - jauh dari penginapan.
"Ihh, jangan takutlah, kau kan jago nendang orang, Key." Senggol Mona. "Kalau ada penjahat, kau layangkan lagi pukulan mautmu." Mona mengepalkan tinjunya.
"Terus ada lima bodyguard yang jaga sang putri. Iyah, kan?" lirik Mona pada lima bodyguard Edgar itu.
"Pfft, ya udah, yuk kita ke sana sebelum kau kena asam lambung." Keylin pun keluar. Ia tak jalan ke klinik tapi langkahnya diarahkan ke suatu tempat yang sunyi mencekam.
"Duuh, kok ke sini sih, Mon?" desis Keylin agak menjauh pada Mona. Tiba - tiba seseorang dari belakang menutup matanya.
"Ahh, siapa ini?" pekik Keylin dan langsung diam saat mendengar suara dan merasakan nafas tak asingnya.
"Edgar, ada apa ini?" tanya Keylin deg - degan dituntun lagi dengan matanya yang tertutup. Suasana disekitar terasa makin sepi dan dingin. Tapi Mona dan Samuel masih mengikuti di belakang. Untung saja Samuel memakai sweater tebal jadi udara dingin tak menembus pori - pori kulit bayi itu, tetapi tampak Samuel sangat mengantuk.
"Edgar! Bicara dong." Cubit Keylin ngasal namun tepat mengenai pinggang Edgar.
"Shht, diamlah. Ada kejutan untukmu," bisik Edgar.
"Kejutan apa?" tanya Keylin.
"Kalau di kasih tahu, bukan kejutan namanya," celetuk Edgar melihat Keylin cengengesan.
"Ihhh, masih jauh nggak sih?" cetus Keylin dan sontak kaget tatkala mendengar suara helikopter kemudian hilang tak terdengar lagi.
"Edgar, itu apaan?" Kaget Keylin ingin sekali melihatnya. Beda lagi sama Mona dan Samuel terperangah.
"Oh itu, cuma kelelawar malam kok. Yok sini, tempatnya sudah dekat." Edgar terus menuntun Keylin. Sedangkan bumil cantik itu khawatir gara - gara suara gemuruh itu.
'Duhh, kejutannya apa sih?' batin Keylin tambah deg - degan sampai ia mau pipis tak tahan dibawa entah kemana malam ini. Akibat suara gemuruh itu menarik perhatian seorang wanita yang sedang berdiri sendirian di pinggir pantai.
"Apa yang terjadi di sana?" Karena penasaran, wanita yang memakai sweater putih abu - abu itu melangkah ke tempat Keylin berada.
.
__ADS_1