
Tringg... Tringgg....
Belum juga keluar dari ruang rawat, hape Edgar berdering. "Hadeh, siapa lagi sih! Bikin ganggu saja!" gerutu Edgar dan mengambil hapenya.
"Siapa itu?" tanya Keylin melihat Edgar bergeming.
"Kau tunggu dulu di sini, ada telepon dari Mamah." Edgar keluar dari sana, pergi mengangkat panggilan Regina.
"Hufft, syukurlah, ada kemajuan," hela Keylin senang kemudian turun dari brankar. Gadis itu mengambil tas dan membawa Samuel keluar. Dokter sudah mengizinkannya pulang jadi Keylin akan menunggu di kursi luar saja. Samuel di gendongannya perlahan menggeliat, Keylin segera menepuk - tepuk pundak bayi itu supaya tidak terbangun. Keylin berdiri, menggoyangkan sedikit badannya dan melihat jam di hapenya sudah pukul 03.46 sore.
"Maaf ya, sayang, Papi Edgar lagi pergi teleponan sama nenekmu, jadi kita tetap tunggu di sini. Kamu tidur di pelukan mami dulu ya." Keylin mengecup kening Samuel. Tiba - tiba senyumnya hilang saat Bryan bicara di belakangnya. Pria itu lagi - lagi kehilangan sosok di jalan tadi sehingga kembali ke rumah sakit dan tidak sengaja melihat Keylin sendirian tanpa Edgar di sisinya.
"Keylin, sudah sebulan tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Bryan dengan senyum paksaan.
"Ba-baik, kak. Maaf, aku tidak menghubungi kakak selama ini," jawab Keylin sedikit menunduk. Tak berani menatap mata Bryan.
"Tidak apa - apa, aku bisa memaklumi kau sekarang sibuk, tapi apa hubunganmu dengan bayi itu?" Tunjuk Bryan pada Samuel.
"Dia Samuel, putra Nona Tania," ucap Keylin.
"Oh, aku pikir itu anakmu," kata Bryan mengejutkannya.
"Lho, Kak, kenapa Kak Bryan tidak mengenalinya?" tanya Keylin merasa aneh pada sang Dokter yang tidak tahu Samuel. Padahal orang - orang di kota tahu anak Tania selamat.
"Aku sibuk memikirkan pasien daripada kehidupan dunia selebriti." Bryan menjawab ketus. Tapi dia sebenarnya tahu sosok Tania karena wanita itu sering mengecek kandungan ke rumah sakit bersama suaminya atau Edgar. Tetapi Bryan tidak begitu tertarik memperhatikan Tania.
"Sepertinya Kak Bryan sibuk, kalau begitu aku pergi -"
"Sebentar, Keylin," cegah Bryan. Akibat suaranya itu, sebelah mata Samuel terbuka dan melirik Bryan. Namun dua detik kemudian masuk ke dalam mimpinya. Samuel amat mengantuk sekarang sambil remas dada Ibu susunya.
"Ke-kenapa, Kak?" tanya Keylin agak cemas kalau berlama - lama bicara pada Bryan.
"Apa kau sudah menikah?"
Sebelah mata Samuel terbuka lagi dan melirik Bryan. Diamatinya pria berjas putih itu kemudian sontak ia memecahkan tangisnya. "Huowee....!" Samuel baru sadar kalau pria yang di dekatnya itu bukan Edgar. Ia menangis ketakutan sebab tak kenal Bryan.
Melihat tangan Keylin menepuk - tepuk lembut punggung bayi mungil itu dan melihat ada cincin di jarinya, membuat pertanyaan Bryan sudah dijawab tuntas. Keylin benar - benar sudah menikah.
"Key, siapa yang sudah menikah denganmu?" tanya Bryan dengan kepalan tangan kirinya. "Maaf, kak, saya ada urusan, permisi." Keylin tak mau Bryan dan Edgar berurusan. Ia secepatnya berbalik badan dan di depannya ada seorang wanita baya yang berdiri.
"Ehh, kau gadis yang di foto itu, kan?" Bryan terbelalak adanya sang Ibu di rumah sakit.
"Hei, Nak. Katanya kau teman anakku, apa itu benar?" Ibunya Bryan memegang satu tangan Keylin, wanita itu diam sesaat merasakan tangan Keylin yang dingin. Samuel di sana pun mendadak diam dan memperhatikan wanita itu.
__ADS_1
"Saya -" putus Keylin kala Bryan bicara pada Ibunya.
"Mah, ini di rumah sakit, pelan kan suaramu," ucap Bryan tak mau jadi pusat perhatian.
"Bryan, kau ini kenapa malu - malu begitu sih? Harusnya itu kau senang mamah datang periksa di sini dan bisa bertemu temanmu, tahu!" dengus Ibunya mencubit lengan Bryan. "Awhh, mamah, jangan begitu deh, sini Bryan pulangkan mamah." Dokter tampan itu menarik Ibunya.
"IHH, LEPASKAN!"
Keylin dan Samuel terhenyak melihat wanita itu meronta dan menepis tangan Bryan kemudian menghampirinya.
"Hei, Nak. Apa kau mau ikut dengan Tante? Melihatmu langsung, kau sepertinya cocok jadi bagian keluarga Tante, apa kau mau?" Wanita itu sedikit memaksa. Itu disebabkan Ibunya Bryan tak mau kedua kalinya melepaskan calon menantunya. Karena yang pertama entah kenapa tak ada kabar, alias Mona tak muncul - muncul lagi batang hidungnya. Bryan memijat dahinya yang berdenyut tak habis pikir tingkah sang Ibu yang norak. Meminta Keylin jadi menantu di tempat umum.
"Mah, ayo pulang. Jangan ganggu Keylin, dia sudah menikah. Jangan bikin malu Bryan juga."
Wanita itu syok berat. "Sudah menikah? Apa itu benar?" Ia menatap tak percaya Keylin. "Ya, Tante. Maaf saya tidak bisa memenuhi keinginan anda, permisi." Keylin pergi tak tahan diperhatikan orang - orang.
"Mama!" Bryan memapah Ibunya yang nyaris pingsan. Dokter itu mengangkat Ibunya dan melirik Keylin yang menjauh. Niatnya yang tadi mau kasih kabar gembira pada Keylin akhirnya tak jadi lagi. Bryan segera membawa Ibunya periksa kembali dan segera mengantarnya pulang.
"Hei, kenapa kau ada di sini? Bukan kah tadi aku suruh tunggu di sana. Ada apa, hmm?" tanya Edgar selesai cekcok sama Ibunya. Regina menelpon ingin tahu kabar Keylin. Wanita itu mau menghubungi menantunya tapi Regina merasa Keylin pasti sibuk ngurus Samuel dan tak mau menantunya itu bertanya perihal obat kesembuhannya.
"Itu, aku tak mau jauh - jauh darimu, Ed," ucap Keylin membuat hati Edgar serasa meluncur ke angkasa tak dipanggil dengan sebutan 'Tuan'. Panggilan 'Ed' sudah membuatnya sangat bahagia.
"Ed, ayo kita pulang sekarang," mohon Keylin memegang tangan suaminya yang diam - diam tersipu aneh.
"Baik, sayang. Sini ku antar kalian pulang." Edgar keluar menggandeng tangan Keylin dengan perasaan gembira.
"Kau kenapa, sayang?" Dengan lembut, Edgar bertanya dan mengecup tangan Istrinya.
"Mau singgah beli sesuatu di jalan?" Tunjuk Edgar pada penjual gorengan.
"Tuan Ed," lirih Keylin. Edgar terpaku mendengar istrinya kembali memanggil begitu.
"Hei, kau kenapa, sayang?" Edgar menyisir rambut Keylin sembari menyetir.
"Aku kangen Ibuku," hembus Keylin sedih gara - gara melihat keakraban Bryan dan Ibunya tadi.
"Seandainya saja Ibuku ada, pasti hari - hariku jauh lebih baik daripada hidup bersama ayah," lanjutnya mengeluh.
"Kalau begitu, katakan di mana Ibumu? Biar kita menjemputnya sekarang," ucap Edgar menepikan mobilnya. Keylin menggelengkan kepala. "Ibuku sudah tiada," katanya dengan nada rendah.
"Aku dari bayi, besar tanpa Ibu. Jadi yang merawatku cuma ayah. Aku sedih tidak pernah memeluk Ibu, apalagi tidak tahu wajah Ibuku bagaimana. Dengar suara Ibu pun tidak pernah. Bagaimana ya aku bisa memimpikan Ibuku yang sudah berjuang susah payah melahirkan aku?" Keylin menutup wajahnya. Menahan embun bening kecil agar tak berlinang. Dari bayi, Keylin disusui hanya air putih oleh ayahnya dan Santo tidak pernah memberi foto istrinya. Saat ini, entah kenapa ada sebuah dorongan yang membuatnya ingin bertemu sang Ibu.
"Sepertinya aku memang pembawa sial, Tuan. Gara - gara melahirkan aku, Ibuku meninggal. Bulan lalu kepala asisten juga meninggal, anda pernah terluka dan Mona pun terluka juga." Keylin menangis tersedu - sedu. Edgar segera menggapai kepalanya dan memeluk istrinya. Memberinya sandara empuk dan menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Kau keberuntungan bagiku, bukan pembawa petaka. Coba kau lihat, Samuel sehat sampai sekarang berkat dirimu, jadi jangan kau rendahkan dirimu lagi, sayang." Edgar mencium kepala istrinya.
"Sekarang senyum lah," pinta Edgar. Keylin mengangguk dan balas memeluk Edgar. 'Terima kasih, Tuan.' Batinnya tak berani bicara di depan Edgar.
"Sini ikut denganku,"
"Mau kemana, Tuan?" Keylin keluar membawa Samuel. Edgar menggandeng tangan istrinya. Menuntunnya ke sebuah kedai gorengan jalanan. Walau terlihat sederhana tapi rasanya sangat lezat dan bikin ketagihan. Sampai di sana, orang - orang mulai memperhatikan pasutri itu, sebab Edgar dan Keylin memakai kacamata hitam beserta Samuel yang terlelap juga dipakaikan kacamata. Mereka pun mengira ketiganya berasal dari keluarga tajir.
"Pfft, hahaha...." tawa Keylin tiba - tiba.
"Kenapa tertawa?" tanya Edgar bingung dan menyantap gorengan bakwan gurih di tanganya dengan kecap manis. Keylin menunjuk hidung Edgar yang dinodai kecap itu sehingga layaknya tahi lalat yang besar.
"Itu, ada kecap di hidung," bisik Keylin menunjuk hidungnya. Edgar mengusap hidungnya tapi tidak mengenainya. "Sini biar aku yang ngelap aja." Keylin mengambil tissu dan dengan lembut mengusap hidung Edgar. Meskipun cuma tindakan kecil, tapi itu sangat manis sampai menembus di dalam hatinya dan menambahkan rasa cintanya.
"Nih, kau makan," pinta Edgar memberi sepotong bakwan.
"Aku makan ini? Serius tak apa - apa?" tanya Keylin sedikit canggung diperhatikan sama orang - orang.
"Tak apa - apa dong," ucap Edgar tersenyum.
"Lagipula kau kan istriku, sayang." Edgar menggodanya. Mencolek pinggang Keylin.
"Hmm, jangan begitu, malu dilihat orang - orang," lirih Keylin berbisik geli.
"Oh, malu? Ya sudah, sini aku tambahin malunya." Edgar tak peduli, dia terang - terangan nyium bibir istrinya di depan umum. Mereka terperangah dan adapun yang tertawa melihat tingkah manja Edgar. Namun aksinya berhenti mendadak tatkala di antara mereka ada yang mencurigakan. Edgar membayar gorengan itu dan langsung saja membawa Keylin pergi. Dari tatapan orang mencurigakan itu, tidak salah lagi adalah anggota Mafia Worlfard yang mengawasinya.
"Tuan, kenapa kita tidak ke mobil? Kenapa kita lewat di sini?" tanya Keylin digandeng erat dan terus melewati geng kecil. Saat mau dijawab, tembakan dikeluarkan. Edgar menarik Keylin bersembunyi di balik tembok. Pria itu tidak ke mobil agar mereka tak leluasa mengejarnya.
Edgar memeluk istrinya yang gemetar dan menenangkan Samuel yang sedikit lagi mau menangis.
"Sial, kemana Bos Skypea itu!" Mereka berdecih dan ditugaskan untuk membunuh Edgar di kesempatan ini. Mumpung terlihat sendiri tanpa anak buahnya.
Edgar mengeluarkan pistolnya, mau menghabisi dua anggota worlford. Namun Keylin mencegah.
"Jangan, Tuan!"
"Maaf, aku harus ke sana, sayang. Jika tidak, nyawa mu dan Samuel bisa dalam bahaya," Edgar bersikeras namun Keylin menggeleng 'Jangan' lagi.
"Kenapa kau melarangku?" tanya Edgar dan melirik dua anggota itu masih ada di posisinya. Ketika mau dijawab, rasa mual Keylin muncul tiba - tiba. "Huekkk...." Berkali - kali Keylin mengeluarkan suara itu membuat dua anggota Worlford mengarahkan matanya ke tembok persembunyian Edgar.
"Kau kenapa? Keracunan?" Panik Edgar melihat istrinya linglung tak berdaya. Sementara dua anggota di sana perlahan mendekat dengan pistol dan pisau di tangan mereka.
.
__ADS_1
Lagi Ngidam istrimu itu Edgar hhi
Tiga part lagi segera meluncur. Tinggalkan likenya ya🌼