Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
29. Mencari Keylin


__ADS_3

Orang - orang sebagian bertanya - tanya mengapa Edgar berada di sana. Mereka yang kenal Edgar itu kejam kini mengubah pandangannya. Mereka sudah melihat langsung kepribadian Edgar yang baik pada anak - anak.


Mereka jadi mengingat Tania dan mengungkit kebaikan - kebaikan wanita itu, membuat Keylin yang mendengar jadi minder sendiri.


Edgar menarik Keylin keluar, diikuti oleh Mona, Gerry dan anak - anak itu menuju ke mobil Gerry.


"Om, terima kasih," ucap bocah laki - laki itu sedikit gugup diberikan banyak hadiah menarik. Edgar tersenyum tipis kemudian melirik Gerry.


"Gerry, bawa mereka," pinta Edgar.


"Mau dibawa kemana?" tanya Keylin.


Gerry pun menjawab, "Nona, anak - anak ini mau kubawa ke panti asuhan khusus anak - anak seperti mereka. Anda tidak usah mencemaskan mereka lagi sebab panti asuhan itu dibangun oleh Nona Tania untuk mereka. Semua kebutuhan sehari - hari sudah tersedia di sana dan bahkan ada sekolah dasar yang bisa mereka masuki."


Keylin terpaku takjub mendengarnya. 'Rupanya Nona Tania penyayang anak - anak sampai membangun panti asuhan. Aku jadi bersalah sudah iri padanya. Seharusnya ku jadikan dia itu motivasi ku bukan sainganku.' Keylin tersenyum lega.


"Kakak." Anak itu mendongak pada Keylin sebelum naik ke mobil.


"Terima kasih sudah membela kami, kakak baik sekali." Anak perempuan itu memegang tangan Keylin. Gadis itu berjongkok dan membelai kepalanya. "Jadi adik yang baik untuk kakakmu dan saudari yang baik pada adikmu, paham sayang?"


"Paham, kakak." Anak itu memeluk Keylin. Edgar dan Gerry saling pandang melihat Keylin mudah sekali menyerahkan pelukannya. Padahal baju - baju anak itu sangat kotor.


"Tunggu dulu!" Keylin menahan Gerry.


"Ada apa?" tanya Edgar.


"Kau juga mau ikut, Nona Keylin?" tanya Mona sopan di depan Edgar sambil menggendong Samuel.


"Ini dek, ambil untuk adik kecilmu."


Dua pria itu dan Mona terkejut melihat Keylin yang memberi dua botol dot berisi asinya itu, padahal itu disediakan untuk Samuel. Edgar pun. dalam hati tambah suka dengan kebaikan istrinya.


Anak - anak itu senang ada susu yang layak dan gratis untuk adik kecilnya. Gerry pun membawa ketiga anak itu ke rumah yang sebenarnya. Tempat mereka akan bertemu teman - teman yang senasib dan memulai hidup lebih baik.


"Key, kau terlalu baik tahu, tapi aku salut padamu, walau kau agak polos, otakmu masih bekerja dengan baik dan kau masih bisa peduli pada anak - anak itu," bisik Mona. Keylin malu - malu dipuji. Namun sontak dua perempuan itu kaget. Nyaris lupa sama satu pria di dekat mereka. Kalau saja Edgar tidak mendehem, pasti dilupakan oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Ehem, apa masih belum puas jalan - jalannya?" tanya Edgar. Keylin menempel pada Mona, mencolek - colek lengan sahabatnya. "Hei, apa yang harus kukatakan nih?" bisik Keylin. Mona balas mencolek dan menjawab, "Katakan saja kalau kau masih mau." Keylin menatap Mona. "Kenapa aku harus katakan mau?" tanyanya polos.


"Aduh, Keylin, kalau kita lanjut jalan, kau bisa dekat sama Tuan Edgar. Kau itukan istrinya, jadi ini waktunya kalian berdua kencan," bisik Mona. Samuel mendongak, ia heran apa yang dibisikkan dua wanita itu.


"Terus bagaimana denganmu?" tanya Keylin.


"Tenang saja, aku dan Tuan Samuel pulang. Aku yakin, Tuan Edgar tidak akan keberatan membawamu kencan. Itung - itung hubungan kalian bisa semakin lengket," ucap Mona dan melirik Edgar yang tampak penasaran apa yang mereka bisikkan. Mengira keinginannya terwujud, tapi rupanya Samuel menampar wajah Mona. Wanita itu kaget mendapat tamparan kecil itu. Keylin tertawa lucu melihat Samuel tampak tidak mau pulang.


"Duuh, aku yang kena deh," desis Mona cemberut jadi obat nyamuk. Samuel pun mengembangkan senyumnya. Ia tampak senang ikut jalan - jalan lagi dan melihat Edgar bersama Keylin jalan berdua di depannya.


"Tuan, maaf, tadi aku maunya ajak Tuan, tapi aku tahu waktu begini, Tuan sibuk. Maaf sudah pergi tanpa -"


"Sudahlah, lupakan itu. Sekarang pilih toko yang mana mau kau datangi?" ucap Edgar tidak mau mempermasalahkannya. Keylin menatap Edgar kemudian meraih tangan suaminya itu. Edgar berhenti dan melihat Keylin menggenggamnya.


"Ada apa? Kau takut pada seseorang di sini?" tanya Edgar. Keylin menggeleng dan semakin erat menggenggamnya. Mona yang di belakang pun paham kalau gadis itu sedang memulai aksi pendekatan. Namun dugaannya salah, sebab jawaban Keylin itu terlalu bobrok.


"Aku mau berak, Tuan."


"Berak?"


"Ya Tuan, aku sudah kebelet e'ek, nih."


'Dasar Keylin, memang tidak bisa diandalkan. Ckckck.' Mona yang gemas ingin sekali melahap kepala Samuel. Edgar pun menuntun istrinya ke sebuah apartemen susun. Meminjam toilet cepat sebelum bom dahsyat meledak.


"Ahhh, leganya." Keylin keluar dari toilet. Ia langsung saja terkejut tak melihat Edgar di depannya. 'Lho, kemana Tuan Edgar?' pikir Keylin tak melihat siapa pun. 'Jangan - jangan aku ditinggal?' Keylin berlari dan pergi mencari.


Mona datang membawa Samuel, wanita itu baru saja mengganti popok Samuel di tempat orang. Sedangkan Edgar sedang menelpon ke suatu tempat. Ia tidak bisa menunggu di depan toilet, takutnya suara bom atom istrinya sampai ke telinga rekan bisnisnya.


"Ehhh, kok kosong? Kemana Keylin?" Mona mengamati isi toilet tapi tak ada Keylin. Untuk mengetahuinya, Mona menelpon ke kontak gadis itu, namun nada dering hape Keylin terdengar dekat. Mona mengarahkan matanya ke Edgar yang datang. Pria itu baru saja selesai menelpon dan di tangannya ada hape Keylin yang memang dititipkan padanya.


"Tuan, gawat!" ujar Mona.


"Kenapa kau panik begitu?" tanya Edgar.


"Nona Keylin tidak ada di dalam." Mona menunjuk.

__ADS_1


"Apa? Tidak ada?" Edgar masuk melihat dan keluar dengan raut wajah cemas tinggi.


"Cepat, kita cari dia!" Edgar mengambil Samuel. Gilirannya memakai gendongan bayi dan mencari Keylin. Mona di belakang pun khawatir, dan berpikir ada yang menculik Keylin atau bisa saja Bianca yang membawanya pergi.


Di pinggir jalan, Edgar menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Keylin. Sambil menelpon, Edgar iseng - iseng membuka isi hape istrinya yang berpassword tanggal pernikahan mereka. Di tengah panggilan suara, Edgar tersadar ketika melihat semua isi galeri Keylin. Ada banyak foto Samuel yang imut dan juga foto dirinya yang ditangkap secara diam - diam.


'Ternyata dia sering memotret ku, hmn,' batinnya tersenyum tipis sebab fotonya lumayan tampan.


'Apa dia sudah jatuh cinta padaku?' pikir Edgar bengong membuat Samuel menengadah dan melihat ayah angkatnya itu tersipu malu - malu.


"Ba-ba," kata Samuel tiba - tiba. Edgar menatap bayi itu yang membuatnya kaget. "Ma-ma, ba-ba," ucapnya lagi sembari tangan mungilnya menunjuk ke belakang Edgar.


Pria itu terdiam syok melihat di kejauhan sana ada Keylin. Ibu susu Samuel itu sedang memanjat apartemen susun di sana dan berusaha menolong seorang anak yang tersangkut dan tergantung di bawah jendela apartemen kosong. Orang - orang dari atap berusaha menolong, tetapi mereka tak berani, takut jatuh ke bawah. Orang tua sang anak histeris di bawah sana. Bayangkan saja, dari lantai sepuluh lalu anak itu terjatuh, kepalanya langsung pecah atau kemungkinan isi perutnya meledak.


Tetapi dengan aksi menegangkan Keylin yang memanjat lewat celah - celah yang ada, membuatnya mudah menuju ke sang anak. Edgar tak bisa tinggal diam, pria itu pergi membantu sebelum keduanya jatuh mati. Sementara di antara kerumunan orang, anak magang perusaha media kembali merekam Keylin. Bahkan secara livestreaming. Membuatnya dapat menarik banyak penonton yang kagum pada aksi penyelamatan Keylin. Ada pula yang memuji fisik dan kecantikan gadis itu yang ideal dan idaman. Dari livestreaming itu, sebagian perusahaan media tertarik dan ingin mengenal gadis pemberani itu.


"Huwaa...mamah," tangis anak itu. Keylin mendongak dan mengenali suara itu. Ternyata anak di atasnya adalah anak yang di rumah sakit.


"Hei, Dek. Jangan banyak bergerak." Keylin menegurnya supaya tenang. Gadis itupun juga menenangkan dirinya agar tidak melihat ke bawah. Keylin yang terus tegang berhasil sampai dan langsung melepaskan baju anak itu yang tersangkut besi.


"Akhh, kakak!" jerit anak itu ketakutan, nyaris saja jatuh ke bawah. Untungnya Keylin dengan cepat menangkap satu tangannya dan satunya lagi ia gunakan memegang pinggir jendela. Orang - orang di bawah semakin histeris dan Ibu sang anak jatuh pingsan, sedangkan sang ayah menyediakan kasur tebal di bawah sana.


"Dek, jangan menangis. Percaya sama kakak," ucap Keylin dan melihat tangannya yang tak tahan memegang pinggir tembok. "Hiks, Kakak, aku takut." Anak itu tambah menangis. 'Aduh, kalau begini, aku bisa jatuh juga.' Keylin mau menuntun anak itu ke jendela sebelah tetapi tenaganya tak mampu menahan berat mereka.


"Akhhh!" semua orang berteriak tatkala pegangan Keylin terlepas, namun beruntungnya Edgar menangkap tangan keduanya dan menarik mereka masuk ke dalam jendela lantai tujuh. Orang di atas dan bawah mengelus dada. Orang tua anak itupun berlari masuk ke apartemen.


"Tuan," lirih Keylin takut dengan Edgar yang merah padam. Anak itupun meraih tangan Edgar, kembali menenangkan hatinya. Edgar menghembus nafas berusaha mengontrol emosinya sebab ada Samuel dan anak itu. Tak baik memperlihatkan perdebatan di depan anak - anak.


Cklek!


"Mamah, Papah," tangis anak itu memeluk orang tua mereka. Ia meminta maaf sudah bermain di atas sendirian. Setelah tenang, kedua orang tua itu berterima kasih pada Keylin dan Edgar yang sudah membantu mereka kedua kalinya. Tiba - tiba Keylin yang pusing, jatuh pingsan.


"Akhh, kakak!"


"Nona Keylin!" Mona yang datang langsung teriak syok. Edgar memberikan Samuel pada Mona dan membawa cepat Keylin ke rumah sakit. Sepertinya Keylin tidak baik - baik sekarang. Atau mungkin saja ada hal lain yang terjadi padanya. Siapa sangka, Dokter yang memeriksanya adalah Bryan.

__ADS_1


.


Tinggalkan Like nya🌼


__ADS_2