Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
49. DOR!!


__ADS_3

"Bagaimana pencarian mu? Apa kau sudah tahu siapa yang pertama melelang kalung itu?" tanya Edgar pada panggilan suara yang berlangsung dan melihat kalung Keylin di tangannya. Tampak Keylin melepaskan kalung itu dan tak mau memakainya. 'Apa karena dia sudah tahu kalung ini milik Tania jadi dia enggan memakainya?' Edgar tersenyum mengira istrinya cemburu.


"Dasar bumilku itu, kalung ini kan sudah aku beli, harusnya ini sudah sah jadi miliknya." Edgar menertawai sikap pencemburu istrinya. Yang diam saja tanpa minta hal apapun.


"Tuan Edgar, dari semua yang aku temukan, kalung ini berpindah - pindah pemilik." Gerry menjawab sembari melihat berbagai biodata orang asing dari hasil penemuannya.


"Berpindah - pindah? Maksudnya kalung itu berkali - kali dipakai oleh orang lain?" tebak Edgar.


"Ya Tuan Edgar, dan pencarianku yang terakhir ini masih belum saya temukan orangnya. Tapi dari penjelasan dari mantan pemilik lainnya, mereka mengatakan seorang laki - laki yang menawarkan kalung itu."


"Seorang laki - laki? Bukan perempuan, Ger?" Edgar mengira itu adalah wanita yang bisa mengarah pada Tania.


"Bukan, Tuan. Ciri - cirinya adalah seorang pria bukan Nona Tania yang anda kira. Pria ini agak sulit aku dapatkan karena sudah 20 tahun berlalu," ucap Gerry menyetir mobilnya dan mencari tempat atau cctv yang mengarah ke jalan yang pernah dilalui pria itu dari ucapan mereka.


"Hmm, kalau begitu tetap cari dia tapi berhati - hatilah, preman worlfard kemungkinan sudah menyebar di wilayah kita ini."


"Baik, anda tenang saja, Tuan Edgar." Gerry mengakhiri panggilannya dan menaikkan kecepatan laju mobilnya. Ia sudah tahu tentang semua Tania berkat informasi dari Edgar. 'Aku tak sangka, tuan Samuel memiliki darah keturunan Mafia worlfard. Anak ini lumayan beruntung bisa terlahir dari pasangan Nona Tania dan sepupu Tuan Edgar.' Gerry tersenyum lega karena bayi yang dibenci Regina bukanlah anak sembarangan. Dan itu semua terbukti benar, Samuel terus diincar oleh worlfard dan juga wanita yang sedang menggendongnya sekarang. Sebab Samuel cucu pertama di keluarga itu.


"Bianca! Serahkan Samuel pada kami!" Mona membentak pada mantan rekan pembantunya itu.


"Mo-mona, pelankan suaramu, kau bisa membuat Samuel menangis," tegur Keylin.


"Ck, Keylin. Justru ini yang kita harapkan, kalau Samuel menangis, suara tangisnya bisa didengar Tuan Edgar." Mona mendecak dan melihat Bianca yang masuk dengan cara menyamar sebagai pengurus penginapan. Kebetulan Bianca melihat Mona saat membeli nanas.


"Hahaha… percuma," tawa Bianca.


"Bayi ini sudah aku berikan obat tidur, jadi tak akan ada bala bantuan untuk kalian." Bianca menodongkan guntingnya.

__ADS_1


"Sial, kau jahat sekali Bianca, obat seperti itu tak boleh kau berikan padanya, dasar sint1ng!" cecar Mona.


"Kenapa … kau berbuat seperti ini, Bianca?" tanya Keylin tetap berhati - hati. Ia khawatir Bianca maju dan menusukkan ujung gunting itu pada perutnya. Sangat disayangkan jika Keylin kehilangan calon cucu pertama Regina itu.


"Hahaha, semua ini gara - gara kau!" ujar Bianca marah pada Keylin.


"Aku? Apa salahku?"


"Bodoh! Karena kau masuk ke dalam kehidupan Tuan Edgar, aku tak bisa mendapatkan pria tampan itu. Padahal aku sudah bertahun - tahun memimpikan akan menjadi nyonya baru di keluarga Marquez. Tapi adanya kau, semua impianku hilang. Kau pembawa sial! Dasar gadis penggoda." Bianca terus mencaci kemudian pindah menatap benci pada Mona.


"Dan kau! Wanita busuk!" cacinya untuk Mona.


"Kau itu kan tak suka pada Keylin! Tapi kenapa kau tak mau kerjasama padaku, Mona?!" bentak Bianca. Mona maju dan mengepal tinju. "Karena aku masih waras, tak seperti dirimu yang lebih gila dari orang gila. Mungkin RSJ saja tak dapat menampung orang sepertimu, Bianca." Mona tersenyum puas mengeluarkan unek - uneknya. Bianca semakin tersulut amarah sebab kecewa pada Mona yang melaporkannya ke polisi sehingga Bianca terus bersembunyi layaknya kecoa jalanan.


"Arghh, kalian yang gila!" ujar Bianca menerjang dan kemudian …


Akhh!


Samuel terlempar ke atas tatkala Bianca menerima sebuah tendangan keras dari Keylin. Mona menangkap bayi mungil itu kemudian mendekapnya dengan lembut. Ia juga syok melihat Keylin melayangkan kakinya itu sampai mengenai perut Bianca. Mantan pembantu Edgar itu terdorong ke sofa dan kemudian terjungkal ke belakang. Gunting yang tadi dia pegang langsung jatuh ke lantai. 


"Mona, cepatlah keluar! Bawa Samuel dan cari bantuan!" ujar Keylin setengah teriak.


"KEYLIN!" geram Bianca tak sangka Keylin dapat melawannya. Mona yang melihat Samuel tak sadar - sadar pun terpaksa keluar mencari Edgar. Situasi semakin menegangkan kala Bianca mengeluarkan pisau pemotong daging yang besar.


'Oh gawat, aku hanya tahu menendang. Itupun barusan cuma tendangan sepak bola yang sering kulakukan. Kalau urusan pisau begini, sepertinya kakiku yang akan terpotong.' Keylin mundur ketakutan.


"Hoh, kenapa? Kau takut, Key?" senyum Bianca melangkah maju.

__ADS_1


"Tidak kok, aku tak takut padamu," ucap Keylin dengan ekspresi tenang walau dalam hatinya sudah ingin setengah pingsan.


"Sial, tak usah setegar itu. Aktingmu itu tak bisa membohongiku." 


"Sekarang pergilah kau ke nerak4, bajiNgan!" 


Bianca mengayunkan pisaunya. Ia ingin menyayat wajah Keylin namun bumil itu masih tahu cara menghindar. Membuat Bianca mengalami darah tinggi.


"Arghhh! Jangan kabur kau, Keylin!" Bianca mengejar Keylin yang lari ke lantai dua. Menantu Regina itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia mencari hapenya namun benda itu berada di kamar sebelah.


"Keluar kau, Keylin!" teriak Bianca di depan pintu dan menggedor - gedornya.


"Tidak! Aku tak mau! Kau tunggu saja di situ sampai Tuan Edgar datang dan membawamu ke penjara!" balas Keylin ngos - ngosan saking paniknya akibat pintu itu dihujam dengan pisau Bianca.


"Kep4rat kau, Keylin! Sini keluar dan lawan aku! Katanya kau ditunjuk menjadi bintang film action, kan? Nah kebetulan, tunjukkan seni bela diri mu padaku." Bianca sampai merusak ganggang pintu.


Keylin mendekati jendela. Seluruh tubuhnya basah dibanjiri keringat dingin. Nafasnya tak terkontrol sambil terus berkomat - kamit tak jelas. Tapi ia berharap Edgar segera datang. Namun …


Brakkh!


Pintu kamar itu ambruk.


"Akhh! Jangan ke sini!" pekik Keylin melempar bantal dan apa saja di dekatnya tetapi Bianca dapat menangkis semua itu dengan pisaunya itu.


"Hahaha, sekarang kau tak bisa kemana - mana. Mulai hari ini kau berakhir di tanganku." Bianca memojokkan Keylin di sudut kamar. Bumil cantik Edgar itu semakin tak leluasa bergerak.


"Akhhh, mati kau!" Bianca dengan mata bahagia dan hati yang bergemuruh senang mengayunkan pisaunya ke arah Keylin namun langsung …

__ADS_1


DOR!!


__ADS_2