Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
36. Masih Hidup?


__ADS_3

Keylin menatap hapenya yang rusak, yang di dalam sana ada banyak foto - foto Samuel. Edgar pun mengikuti arah pandangan Keylin, ia pun paham raut wajah istrinya.


"Maaf, aku tidak tahu kalau mereka bisa melakukan itu."


Keylin menatap Edgar yang tampak merasa bersalah sudah membanting benda elektronik itu. Keylin pun perlahan - lahan mengatakan keinginannya pada Edgar yang berani mengekspos dirinya. Mona di balik tembok mengelus dadanya, merasa lega tidak disebut namanya. Asisten itu bergegas kembali pada Samuel.


Tak lama kemudian, Keylin masuk sendirian ke dalam kamar. Mona yang menjaga Samuel pun menghampirinya.


"Hei, kau baik - baik saja, kan? Tuan Edgar tidak memukulmu kan, Key?" tanya Mona lumayan khawatir. Keylin melirik Samuel kemudian tersenyum pada Mona.


Gadis itu senang karena Edgar mau menuruti keinginannya dan sudah mendapat izin suaminya. Ditambah lagi hapenya akan diperbaiki oleh Gerry dan membersihkan virus di dalam sana.


"Syukurlah, kita selamat." Mona tertawa bahagia.


"Terus, Tuan Edgar kemana?" tanya Mona.


"Dia keluar lagi memberi hapeku pada Gerry, Mon." Keylin mengambil alat pumpingnya. Memerah asinya yang terisi penuh dan itu membuat Keylin merasa heran pada asinya yang tambah banyak keluar.


"Wah, pas banget nih!" Mona duduk di sebelahnya.


"Apa lagi yang pas banget?" tanya Keylin mulai tak enak dengan senyum Mona.


"Aku memilih satu panggilan dari perusahaan entertainmet dan itu perusahaan terbesar di dunia hiburan di kota ini,"


"Lalu? Apa yang mau kau lakukan lagi?"


"Nah, pas banget Tuan Edgar keluar lagi, bagaimana kalau kita ke perusahaan itu terus hadiri wawancara diam - diam? Katanya mereka sedang membutuhkan pemeran wanita yang jago beladiri untuk film aktion mereka," jelas Mona.


"Hah? Jago beladiri? Kau suruh aku karate begitu?" Keylin menunjuk dirinya sendiri dan sedikit terkejut.


"Keylin, gara -gara aksi manjatmu itu, mereka mengira kau jago beladiri. Lagipula, kau memang cocok jadi bintang film!"


"Tapi kau juga terlihat cocok, Mona!"


"Yaelah, aku nggak cocok tau! Muka pas - pasan begini nggak ada daya tariknya di layar kaca," ucap Mona tak lupa mencubit pipinya.

__ADS_1


"Tapi kau jago beladiri!" debat Keylin ingat bagaimana tendangan Mona yang tampak keras pada si penjahat.


"Iya sih, aku lumayan tahu tapi tetap saja kau yang cocok!" decit Mona gemas melihat Keylin mulai tahu cara membuka perdebatan.


"Tapi aku nggak tau mau ngomong apa nanti," keluh Keylin. Mona menggenggam kedua tangan Keylin.


"Keylin, aku akan mengajarimu. Percaya padaku," ucap Mona tersenyum. Dalam hatinya sedang membayangkan uang mengalir setiap detik ke dalam rekeningnya dan menghayalkan dirinya punya rumah besar kemudian jadi orang kaya baru. Mona tak sabar mendapat hadiah rumah mewah dari Regina yang sudah membantu Keylin.


"Ya udah deh, aku ikut kau saja."


Mona dan Keylin pun ke perusahaan itu bersama Samuel. Tak mau sia - siakan waktu mereka. Sedangkan di dalam sebuah mobil, Edgar belum turun dari sana. Pria itu memandangi hape Keylin di tangannya. Masih bersalah sudah merusak benda yang banyak tersimpan foto - fotonya. Rasanya tak rela jika foto itu hilang nanti.


"Tuan Edgar!" Gerry keluar dari markas Skypea. Berjalan cepat ke arah Bosnya kemudian berdiri di dekat mobil.


"Ger, aku tugaskan kau perbaiki hape ini dan bersihkan virus - virus yang berbahaya. Tapi jangan sampai kau hilangkan file - file gambar di sana," titah Edgar memberi hape itu.


"Ini mudah sekali bagiku, kau tenang saja, Tuan Edgar," ucap Gerry menyimpan di dalam sakunya.


"Omong - omong, apa kau sudah memberi tahu kondisi istrimu yang sudah berbadan dua itu, Tuan Edgar?" tanya Gerry ingin tahu. Edgar menghirup nafas kemudian tersenyum kesal pada Gerry yang mengungkit itu.


"Hah? Kenapa?" tanya Gerry belum meninggalkan tempatnya.


"Jangan - jangan kau tidak berani, Tuan Edgar?" tebak Gerry dengan tawa yang tertahan.


"Bukannya tidak berani, aku hanya ingin memberinya suprise nanti di ulang tahunnya ke 20 tahun. Tinggal tiga hari nanti, dia akan beranjak menjadi wanita dewasa."


"Wanita dewasa? Bukannya Nona Keylin sudah dewasa sekarang?" lirik Gerry sengaja memancing.


"Hahaha.... tenang Bos, aku cuma bercanda kok, tapi selamat sudah jadi calon ayah. Eh tapi, kapan - kapan boleh lah kasih bonus pada kami," rayu Gerry mundur dan takut dipelotot.


"Dihh, pergi sana makan gorengan!" Edgar melaju pergi meninggalkan markas Skypea.


"Aishh, dasar Bos pelit!" dengkus Gerry lalu masuk melakukan tugasnya.


Dalam perjalanan, Edgar menatap hapenya. Sebuah kordinat lokasi memberitahukan keberadaan istrinya. Edgar mengulas senyum tipis mengetahui Keylin ada di salah satu perusahaan media. Mobil itu segera melaju ke sana.

__ADS_1


Siang ini, Keylin mulai diwawancarai. Berbagai pertanyaan umum diberikan untuknya. Awalnya Keylin mudah menjawab itu, namun di akhir percakapan, mereka bertanya soal keluarga Keylin. Mereka ingin tahu lebih jelas siapa sosok Ibu, ayah, dan status Keylin saat ini. Pertanyaan yang simpel tapi berbahaya baginya.


'Duh, bagaimana ini? Tuan Edgar mengizinkan aku tampil di sini tapi dia melarangku jujur dengan statusku dan keluargaku.' Batin Keylin cemas dan melirik Mona yang menjaga Samuel. Mona terlihat gelisah juga di sana.


"Nona Queenlin, apakah ada sesuatu yang sulit dari pertanyaan kami?" tanya mereka. Keylin merem4s jemarinya. Ia tidak tahu mau bicara apa lagi. Namun tiba - tiba semua yang ada dalam ruangan itu heboh dengan kedatangan Edgar.


"Dia Tuan Edgar itu, kan?" Mereka mundur ketakutan dan ada pula yang memuja - muja Edgar yang datang mendadak ke perusahaan mereka.


Mona berpaling muka. Berharap tidak dilihat, tetapi Samuel memanggil Edgar.


"Ba-ba," rengek Samuel membuat semua mata beralih padanya. Mereka pun baru sadar bayi itu adalah anak Tania.


"Ehem, ada gerangan apa Tuan Edgar datang kemari?" tanya sang CEO perusahaan. Pria tua yang sudah berumur dan tertarik pada Keylin. Raut wajah Edgar berubah dingin dan datar. Ia berjalan ke arah CEO itu yang mengulurkan tangan namun Edgar melewatinya. Sikap arogannya itu membuat sang CEO kesal dalam hati.


"Kalau saja Samuel dan babysitternya tidak ada di sini, aku tak sudi menginjakkan kaki di tempat ini," ucap Edgar menarik tangan Keylin berdiri.


'Babysitter?' Mona dan Keylin terkejut mendengar ucapan Edgar yang menganggap Keylin hanyalah babysitter.


Keylin menunduk sedih, ia paham maksud Edgar bicara begitu agar Worlfard nantinya berpikir Keylin adalah babysitter dan bukan istrinya. Tapi tetap saja membuat hati Keylin sedih dan sakit memiliki hubungan rahasia dengan Bos Mafia itu. CEO perusahaan media itupun dengan sopan meminta persetujuan Edgar untuk mengontrak Keylin selama pembuatan naskah film selesai. Tak lama menunggu jawaban, Edgar menyetujuinya dengan syarat jangan memaksa Keylin melakukan adegan berbahaya dan hal senonoh. Jika sampai hal itu dilakukan Keylin, siap - siap giliran perusahaan mereka dihancurkan.


Selesai urusan Keylin, Edgar pun menggandeng tangan Keylin keluar dari sana dan disusul oleh Mona dan Samuel di belakang. Tiba - tiba seseorang bersweater hitam melewati mereka sambil mengantar sebuah paket. Edgar menoleh cepat, ia merasa sekilas orang tadi persis Tania. Samuel pun juga mendadak menangis. Keylin segera mengambil Samuel dan menenangkannya. Ia sontak terkejut melihat Edgar mengejar ke arah yang berbeda. Membuat Mona terheran - heran pada Edgar yang meninggalkan mereka tanpa bicara pada Keylin terlebih dulu.


"Kemana Tuan Edgar pergi?" guman Keylin dan Mona saling pandang memandang dan resah gelisah. Seketika hape Mona bergetar, menerima panggilan dari Regina untuk menanyakan apakah Keylin rutin meminum obat pemberiannya atau tidak. Mona membelalak, lupa melakukan tugasnya yang satu itu.


"Kau kenapa, Mona?" tanya Keylin melihat Mona yang tampak seperti orang yang kebelet pipis.


"Hahaha, nggak ada apa - apa kok, yuk kita susul Tuan Edgar." Mona menarik Keylin. Tak mau Keylin tahu dirinya bekerja diam - diam pada Regina. 'Pulang nanti, aku akan menyuruh Keylin meminum itu.' Batin Mona berharap obat Keylin masih ada di rumah. Sedangkan Edgar gagal mengejar Kiara. Wanita misterius itu begitu cepat hilang darinya. Edgar pun menghubungi Gerry untuk mencari tahu dan melihat rekaman cctv di perusahaan media itu. Edgar yakin, dia tidak salah lihat kalau yang tadi itu benar - benar Tania. Pergerakannya dan postur tinggi tubuhnya mirip adik angkatnya itu.


Keylin yang sempat mendengar obrolan Edgar dan Gerry itupun kembali diam mematung di sebelah Mona yang lagi sibuk kirim pesan ke Regina jadi tidak fokus pada percakapan Edgar dan Gerry.


'Tania? Nona Tania masih hidup?' batin Keylin tadi mendengar sekilas Edgar menyebut nama Tania. Ia pun menatap Samuel dengan pandangan tak dapat diartikan.


"Ma-ma." Samuel mengulurkan tangan kecilnya dan memegang dagu Keylin. Ibu susunya itupun memeluknya erat. Pelukan Keylin terasa berat dan tak mau berpisah dengan bayi menggemaskan itu.


Sedangkan di rumah Bryan, Dokter itu sedang membuka sebuah kotak kuno milik Ibunya. Ia menemukan sebuah foto dirinya dan Ibunya bersama dua gadis kecil yang dibagian wajahnya sengaja dirobek. Bryan melihat Ibunya yang tidur di sana dan rasanya ingin bertanya sekali lagi tentang adiknya namun wanita itu selalu menjawab adiknya sudah meninggal. "Arghhh! Menyebalkan!" rutuk Bryan memegang kepalanya dan menunduk sedih tak ingat semua wajah adiknya dan masa lalunya semenjak sadar di rumah sakit dua puluh tahun lalu setelah mengalami kecelakaan tabrak lari. Untung Ibunya dengan cepat menyelamatkan nyawanya pada saat itu.

__ADS_1


__ADS_2