
Pagi - pagi ini, Keylin masih belum bangun. Melihatnya begitu pulas, Ibunya Bryan tak tega membangunkannya. Tetapi Bryan barusan meminta padanya untuk segera menyuruh Keylin bersiap. Karena itu, ia pun terpaksa membangunkannya dengan cara mengelus kepala Keylin.
"Umhh," lirih Keylin menggeliat.
"Hei, Nak. Kau sudah bangun?"
"Ahh, Tante. Maaf, aku nggak sadar sudah pagi." Keylin beranjak duduk dan merapikan rambutnya cepat.
"Tak apa - apa," ucap Ibunya Bryan tersenyum kemudian memberikan segelas susu yang dibuatnya tadi.
"Nih, minumlah dulu, setelah itu pergilah mandi. Bryan di luar sudah menunggumu. Dia ingin mengantarmu pulang ke tempat kau bekerja." Tak lupa wanita baya itu mengatakan tujuan Bryan pagi ini ingin ke rumah Edgar.
"Ah itu, Tante tak perlu repot - repot begini, aku jadi tak enak sudah menyusahkan Tante," ucap Keylin ragu mengambilnya sebab takut pada worlfard. Ia teringat pada susu buatan si penjahat.
"Tak usah dipikirkan, Tante senang kok bisa buatkan susu untuk kau yang lagi hamil." Ucapan Ibunya Bryan itu membuatnya terkejut.
"Hamil? Aku hamil? Kenapa Tante bicara begitu?" tanya Keylin memegang perutnya. 'Aneh, aku dan Tuan Edgar 'kan baru beberapa hari melakukan itu, masa sekarang langsung hamil?' pikir Keylin garuk pelipis.
"Oh itu, Tante tadi dikasih tahu sama Bryan. Tante pikir kau tahu dirimu lagi hamil, tapi ternyata melihatmu kaget seperti ini, kau rupanya tak mengetahui kondisimu sendiri. Apa suamimu tak memberitahumu?"
Keylin pun diam dan menggelengkan kepala.
"Aneh sekali, padahal kata Bryan, teman kerjanya sudah kasih tahu ini pada majikanmu," ucap Ibunya Bryan.
"Majikan? Siapa yang Tante maksud?" tanya Keylin.
"Oh itu, ketua Mafia di kawasan ini. Bukan kah kau bekerja padanya sebagai babysitter, kan? Oh tidak, aku harusnya menyuruh Bryan kasih tahu ini langsung pada suamimu." Ibunya Bryan tampak tak tahu kalau Keylin adalah istrinya Edgar.
"Tidak usah, Tante. Biar aku saja yang kasih tahu kabar ini pada suamiku." Keylin mencegah cepat.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu jangan lupa minum susu ini. Tante keluar dulu, ada yang perlu Tante kerjakan. Oh dan juga, kau harus baikan dengan suamimu. Ini kebaikanmu dan anakmu nantinya." Ibunya Bryan membelai rambut Keylin lalu keluar ingin siapkan kamar baru untuk putrinya yang katanya akan dijemput hari ini oleh Bryan.
Keylin pun menatap susu itu, masih ragu. Tapi sejenak, ia pun meneguk habis segelas susu itu. Rupanya susu itu tak berbahaya. Keylin lega dan merasa bersalah sudah mengira susu itu beracun. "Ibunya Bryan baik banget. Beruntungnya cewek yang akan menjadi menantunya. Pasti tiap pagi diberi perhatian seperti ini." Keylin pun bergegas mandi, menyiapkan diri untuk pulang. Keylin merasa takut tanpa Edgar di sisinya.
.
"Key, apa semalam tidurmu nyenyak?" tanya Bryan yang kini menyetir mobilnya. Keylin yang duduk di sebelahnya mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan suamimu? Kata Ibu, kau pergi dari rumah gara - gara suamimu. Apa dia melukaimu sampai kau kabur dan dikejar preman suruhannya?" Bryan bertanya lagi.
"Maaf kak, suamiku orangnya baik kok. Aku kemarin cuma pergi buat tenangin diri dan preman itu mungkin memang suka begitu kalau jalan di gang itu. Maaf jadi merepotkanmu kemarin, Kak," ucap Keylin.
"Hmm, kalau begitu, siapa nama suamimu?" lirik Bryan yang memang belum tahu dan baru bertanya sebab waktu di rumah sakit tak sempat menanyakan nama suami Keylin.
"Apa dia juga bekerja pada Edgar?" tambahnya menebak.
"Itu," lirih Keylin sedikit takut jujur pada keponakan worlfard itu.
"Suamiku tukang kebun, kak!" ucap Keylin terpaksa bohong. Ia cemas kalau jujur, nanti Bryan tak jadi memulangkannya.
"Hah? Kau menikahi tukang kebun? Serius?" ulang Bryan. Keylin pun mengangguk.
"Aishh, kau ini memang aneh. Tak sangka lebih memilih tukang kebun daripada Dokter sepertiku," celetuk Bryan.
"Hehe, maaf, Kak. Aku cinta dia, mau bagaimana lagi," cicit Keylin terkekeh melihat Bryan cemberut.
"Hmm, kekuatan cinta memang tak bisa dipatahkan ya, hahaha.... " tawa Bryan merasa bodoh kemudian suasana pun kembali canggung.
'Duh, aku masih ingin bertanya mengapa waktu dia pingsan, si Edgar yang membawanya, kenapa bukan suaminya? Aish, nggak usah deh. Mungkin saja waktu itu suaminya sibuk dan minta bantuan pada Edgar.' Batin Bryan dan diam - diam melirik Keylin.
__ADS_1
"Oh ya, Keylin, jika suamimu melakukan hal jahat atau melukai perasaanmu, kau boleh datang padaku," ucap Bryan masih berharap ada kesempatan.
"Maaf, Kak. Lebih baik Kak Bryan memberi harapan itu pada yang lain," tolak Keylin.
"Kenapa? Apa aku kurang tampan dari suami tukang kebunmu itu?" tanya Bryan manyun.
"Bukan begitu. Kak Bryan ganteng kok, cuman kalau sama aku, kan aku lagi hamil dan juga kita tak cocok, kak Bryan berhak bersama wanita lain yang lebih baik dariku," ucap Keylin sedikit memuji tapi tetap menolak.
"Hmm, oke deh. Makasih sudah menolak kedua kalinya," ucap Bryan tersenyum.
"Hehehe, maaf ya Kak." Keylin mengatup dua tangannya di depan wajah.
"Ya, nggak apa - apa kok, santai." Bryan tersenyum paksa. Hatinya tambah sakit saja sudah ditolak lagi.
Suasana pun kembali canggung sampai mobil pun berhenti di depan area rumah besar Edgar. Lima bodyguard langsung berbaris di depan gerbang. Berjaga - jaga dengan ketat. Namun mereka langsung terkejut melihat Keylin keluar dari mobil itu. Satu dari mereka pun berlari melaporkannya pada Edgar yang sekarang lagi ngurus Samuel yang terus rewel sampai Edgar tak leluasa bergerak mencari istrinya.
"Tuan!" panggil bodyguard itu keras.
"Woi, apaan teriak - teriak? Berisik tahu!" ketus Kiara keluar dari dapur. Ia habis makan nasi goreng buatan Mona.
Bodyguard itu tak menjawab, ia pergi ke arah Edgar yang menuruni anak tangga. "Ada apa denganmu?" tanya Edgar.
"Tuan Bos! Istri Tuan sudah kembali."
Edgar dan Mona pun menoleh ke arah pintu. Di kejauhan sana memang ada sosok perempuan persis Keylin.
"Wah, tak sangka dia benar - benar punya istri. Tapi aku rasa pasti istrinya ini sudah capek jadi pasangannya sampai kabur kemarin. Memang pria ini tak becus. Namanya saja Mafia, ngurus istri sendiri tak mampu. Ckckck," ucap Kiara tak perduli dengan tatapan Edgar yang tersindir. Mona yang kini menggendong Samuel pun juga kesal mendengarnya. Tapi saat ini yang terpenting, adalah Keylin. Edgar segera ke arah istrinya.
"Kak Bryan, kenapa ikut turun?" tanya Keylin heran. Bryan pun merapikan setelannya kemudian tersenyum smirk melihat Edgar berjalan keluar.
__ADS_1
"Tentu datang membawa pulang seorang adik dan keponakan kecilku di tempat ini. Keylin, sekali ini saja, tolong bantu aku." Bryan menarik Keylin masuk ke halaman. Dalam hatinya ingin menjadikan Keylin sebagai barang tukar untuk mendapatkan adik kembarnya.
'Adik? Kak Bryan punya adik dan keponakan di tempat ini?' pikir Keylin sadar ada yang terlewatkan dari aksi ngupingnya kemarin malam. Perasaannya mulai tak enak melihat Edgar dan Bryan berhadapan, layaknya dua pria berkuasa yang memperebutkan tahta.