Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
55. Waktunya Kau Terbebas


__ADS_3

Dua hari berlalu, Tania pun mengetahui dengan sangat jelas kehadiran Keylin di keluarga Marquez. Gadis yang awalnya dibeli untuk mengasuh Samuel, kini menjadi istri Edgar dan seorang aktris baru. Kembaran Kiara itu juga sudah mengingat semua masa lalunya, karena itulah, Tania tak mampu pulang ke rumah, ia sangat bersalah pada keluarga suaminya sehingga tak berani pulang ke sana.


Bryan yang berada di wilayah sebelah, ingin bertemu Tania namun kondisi mereka sedang tidak memungkinkan untuk melihat satu adik kembarnya yang selamat itu. Ibu Bryan pun juga harus menahan rindunya.


Sedangkan Kiara masih memendam amarah sebab Tania yang dulu membawa lari adik mereka sehingga terpisah darinya. Seharusnya ia yang membawa Kesya, namun sang Ayah menyuruh Tania lari ke arah lain. Wanita satu ini pun melarang Tania muncul di hadapannya.


Hari ini, Edgar meninggalkan pantai. Dia pulang bersama Keylin dalam satu mobil. Sedangkan Tania berada di mobil sang sekretaris bersama Samuel dan Mona.


Di tengah perjalanan, Edgar yang menyetir pun menoleh pada Keylin yang memegang tangannya.


"Kenapa? Kau mau singgah beli sesuatu?" tanya Edgar balas menggenggamnya.


"Tidak, aku cuman mau pegang tanganmu." Keylin tersenyum dan melihat ke depan. Edgar pun mengecup punggung tangan Keylin kemudian berkata, "Tak perlu cemas, aku mengenal sifat Tania, dia tak akan melakukan apapun padamu. Jika dia membuat hal tak menyenangkan, katakan saja padaku." Edgar mengusap kepala Keylin.


"Hmm, iyah." Angguk Keylin paham. 


'Dilihat - lihat, Nona Tania memang tak berbahaya, tapi siapa yang akan tahu isi hatinya.' 


Keylin merasa Tania terlihat polos dan lugu, tapi dari setiap sorotan mata Tania, seakan - akan wanita itu masih belum menerima statusnya.


Sampai di rumah, Mona menuntun Tania masuk. 


"Sudah beberapa bulan aku tak menginjakkan kaki di sini, namun perabotan masih sama dan tak ada yang berubah, tapi kemana dua pembantu yang lain?" tanya Tania mencari Bianca dan kepala asistennya.


'Hmm, sepertinya wanita ini memang Nona Tania, dia langsung bertanya perihal dua pembantu itu.' Mona membatin percaya sepenuhnya.


"Mereka sudah tak bisa bekerja di sini," sahut Edgar masuk. Tania menoleh dan melihat Keylin digandeng sampai ke arahnya.


"Kenapa tak bisa?" tanya Tania duduk di kursi dan mengusap kepala Samuel yang terlelap di gendongannya.

__ADS_1


"Karena Bianca sedang dipenjara, dan Bibi asisten sudah meninggal. Hanya saya yang tersisa bekerja di sini, Nona," jawab Mona memberikan segelas air putih pada Tania.


"Dipenjara dan meninggal? Kenapa bisa separah itu?" Tania berdiri dan mendekati Edgar.


"Apa mereka ada hubungannya dengan worlfard, Edgar?" tanya Tania hanya mengarahkan matanya pada Edgar. Keylin yang di sebelah Edgar merasa risih melihat Tania seakan tak menganggapnya ada. 


Ketika Edgar mau menjawab, Tania mengacungkan tangan. "Tunggu!" Memberikan Samuel pada Keylin. 


"Tolong ya bawa Samuel ke atas, sekalian juga kau susui anakku. Kau pasti capek jadi istirahatlah di kamarku. Aku mau bicara sesuatu pada Edgar. Maaf ya, aku pinjam suamimu sebentar." Senyum Tania menarik Edgar ingin menjauhi Keylin. Tapi Keylin menarik sebelah tangan Edgar sembari menggendong Samuel. 


"Tak apa - apa, kau naiklah istirahat, aku akan menyusulmu." Edgar membelai pipi chubby istrinya penuh sayang. Keylin tanpa bicarapun pergi ke atas dengan perasaan gelisah. Sedangkan Mona masuk ke dapur menyiapkan makan malam, tapi diam - diam menguping. Terdengar Edgar disuruh mencari adik kecil Tania di jalan 103 bagian barat kota. Jalan yang pernah dilalui Tania dua puluh tahun lalu. Tempat yang pernah meletakkan adiknya seorang diri. Menyembunyikan adiknya di dalam sebuah kresek hitam. Tak lupa juga, Tania memohon agar Edgar menemaninya ke tempat makam sang suami.


"Kau mau kan, Ed?" tanya Tania memegang dua tangan Edgar. Ketua mafia itu pun tersenyum dan melepaskan genggaman Tania. "Tanpa kau suruh aku, pasti akan ku temani dirimu ke sana. Tapi apa kau siap mengunjungi makamnya?" Edgar ingin mengusap kepala Tania tapi ia sadar tindakan itu dapat membuat Keylin cemburu.


"Akan ku usahakan, Ed. Terima kasih, kau selalu baik padaku. Kau selalu mengerti kondisi dan menuruti kemauanku." Tania menyandarkan tubuhnya ke dada Edgar yang masih seperti dulu, perkasa. Namun Edgar mendorong lepas Tania darinya.


"Tania, mulai sekarang, kau tak perlu berlebihan atau seperti ini lagi. Aku sudah menikah, dan ada perasaan yang harus ku jaga. Sekarang aku mau pergi menemui Gerry, kau tetap lah di sini dan ku harapkan kau bersikap baik pada istriku," tutur Edgar menekan sedikit ucapannya itu.


Cklek!


Keylin yang sedang menidurkan Samuel pun menoleh ke pintu kamar yang terbuka. Keylin mundur sedikit dihampiri oleh Tania yang menatapnya terus menerus. Ia berjalan maju sampai membuat Keylin mentok ke dinding kamar.


"Maaf, ada apa, ya?" tanya Keylin was - was. Tania mengeluarkan sebuah amplop tebal.


"Aku dengar, ayahmu menjualmu karena uang, kan? Ambil ini, di dalam amplop ini ada uang tunai 100 juta. Aku rasa jumlah ini sudah cukup untuk kau bebas dari Edgar. Sekarang kau bisa meninggalkan tempat ini tanpa menanggung apapun yang memberatkan mu. Walau aku tak punya asi sepertimu, setidaknya aku masih bisa membuatkan susu lain untuk anakku." 


Benar yang dirasakan Keylin, sepolos - polosnya Tania, wanita itu tahu cara mengusirnya dengan uang.


"Aku tahu, kau pasti dipaksa menikah, kan?" 

__ADS_1


"Sekarang ini waktunya kau terbebas."


"Ayo ambil uang ini, dan pergilah sejauh mungkin."


Tania meletakkan uang itu di atas meja kemudian duduk di tepi ranjang menunggu Keylin keluar dari kamarnya. Senyum Tania mengembang melihat Keylin mengambil uang itu, namun amplopnya itu ditaruh ke tangannya.


"Aku tak butuh uangmu," tolak Keylin.


"Dan aku menikah karena kemauanku."


"Bukan dipaksa oleh Edgar."


Tania mengepalkan kuat - kuat kedua tangannya melihat Keylin yang tak goyah dengan jumlah uang sebanyak itu.


"Dan yang aku butuhkan adalah kesadaranmu, jangan mendekati suamiku." Keylin mendecak kemudian ingin keluar, tetapi tangannya ditahan.


"Wah, kau berani sekali bicara begitu, apa kau tak tahu? Aku ini salah satu anak mantan ketua worlfard. Aku bisa kapan saja melakukan hal sesuatu padamu di belakang Edgar," ucap Tania tersenyum kesal.


Keylin menarik lepas tangannya dan balas tersenyum. "Percuma kau mengancam ku, aku tak takut padamu." Keylin keluar sembari memeluk perutnya. Ia masuk ke dalam kamar kemudian menjambak rambutnya. Agak cemas sudah memancing emosi Tania.


'Okeh, tak apa - apa, kalau Tania macam - macam, aku tinggalkan laporkan ini pada Edgar. Tenang Keylin, kau sedang hamil, ingat kata Edgar, kau butuh istirahat, jangan sampai depresi.'


Keylin menjatuhkan tubuhnya ke kasur, kemudian melihat kalungnya di tangan. 'Apa aku balikin saja kalungnya ini?' gumam Keylin.


"Tidak, ini sudah jadi milikku. Siapapun tak boleh mengambilnya kecuali aku sendiri yang memberikannya." Keylin memasangkan kalungnya kemudian terpejam, tidur sejenak.


Sedangkan Tania, menggerutu kesal di dekat Samuel. 'Ck, siapa sih gadis ini? Dia sangat menyebalkan! Padahal niatku baik ingin membantunya terlepas dari bahaya, tapi dia seperti mengajakku perang. Tunggu saja, satu atau dua hari, dia akan memohon padaku.' Tania tidur terlentang kemudian mengalihkan pandangannya ke Samuel. Ia pun mengusap air matanya, merasa sedih dirinya secepat itu sudah berstatus janda.


....

__ADS_1


Mampir ke Novel Baru ku ya Kak 😇



__ADS_2